Wednesday, December 11, 2019

Anak rumahan

Assalamualaikum,

Kemarin seperti biasa kalau pagi suami nggak bisa anter kalau lagi liputan luar kota, pagi-pagi saya naik taxi online ke sekolah Liam untuk antar liam sekolah. Kemudian supir taxi onlinenya ajak ngobrol saya, basa basi soal sekolah anak, kerja dan sebagainya. Lalu akhirnya Bapak tersebut bilang, "Mbaknya bukan orang Surabaya ya ?"

Saya jawab lah, "Orang Surabaya kok, tapi memang lahirnya di Bali, cuma ya sudah lebih dari 25 tahun di Surabaya"
"Oh ya, kok aksennya seperti bukan orang Surabaya ya"
"Hehehe, iya, di rumah tidak dibiasakan bicara berbahasa Jawa"
"Oooh, pasti mbaknya anak rumahan ya ?"
errrr .... awalnya mau nggak ngaku, tapi sepertinya memang benar saya anak rumahan sih, tapi akhirnya saya iyakan aja
"Iya kali, Pak. Anak saya lebih medhok dari saya"
"Waah mbaknya kalah dari anaknya"
Hmm emang saingan ya Pak ? 

Back to topic, hari ini saya berpikir, masa iya anak rumahan bisa diukur dari cara mereka berbicara. Saya rasa saya nggak medhok dan behave banget kalau bicara karena kebiasaan saja. Karena orang tua saya yang mengajarkan demikian. Apa kemudian saya sering keluar rumah ? ya enggak juga sih. Saya lebih mikir males banget menginjakkan kaki keluar rumah kalau nggak ada keperluan penting banget.
Photo by freestocks.org on Unsplash
Saya jadi ingat kolega saya di kampus, dia bilang dia setiap weekend selalu pergi ke mol, SELALU, katanya, nggak boleh tidak. Saya pribadi kok jadi insecure ya dengan pernyataan itu, hahaha, emang keliatan banget bedanya sama saya. Sepertinya saya tumbuh jadi anak rumahan, karena orang tua saya cukup protektif jaman saya muda. Saya harus pulang sebelum Maghrib, intinya sebelum gelap sudah harus pulang, kalau saya ingat-ingat itu saya mikir, wah saya nggak punya pengalaman banyak ya jaman saya sekolah dulu. Bahkan saat kuliahpun begitu, kalau tiba-tiba saya harus pulang malam karena ada tugas yang harus dilakukan, ya saya dijemput. Jadilah saya pribadi yang cupu, tidak berani bertindak, tidak berani mengeluarkan apa yang ada di otak saya. 

Baru benar-benar berubah pun saat saya kuliah S2, karena kebetulan kuliahnya malam, dan saya harus berangkat dan pulang sendiri. Kalau dipikir-pikir lagi, saya telat gaul, hahaha. 

Well anyway, toh nggak bisa diubah juga ya kehidupan saya yang memang benar anak rumahan, berarti saya saja yang harus kuat hati ketika anak saya emoh jadi anak rumahan, karena Bapaknya bukan anak rumahan, doyan banget ngewarung dan liputan luar kota, hehehe. 

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Tuesday, December 10, 2019

Kopdar dengan dreeva

Assalamualaikum, 

Hai kalian apa kabar? Lama tidak menulis, seminggu lebih yang lalu aempat bertemu dengan salah satu blogger Palembang yang sudah lama kenal tapi baru ada kesempatan bertemu kemarin. Namanya Nike, dulu terkenal dengan dreeva, saya lupa itu nick name artinya apa, tapi semua sosial medianya id-nya dreeva seingat saya. Setelah kenal di blog, beralihlah ke Y!M yang memang merupakan tempat chatting terasyik pada jamannya, hehehe. Jaman dulu sih kayaknya seru aja gitu, curhat tentang blog, buku, jodoh, dll. Tapi entah, mungkin karena Y!M akhirnya tidak beroperasi lagi jadi kehilangan kontak deh, ketemu lagi di instagram, tapi vibe-nya jelas beda lah ya.

Well, waktu kami cukup sempit saat itu, hanya dua jam untuk ngobrol ngalur ngidul, tapi cukup menyenangkan. Jadi menyadari kopdar itu memang menyenangkan, seperti lama kenal tapi tidak pernah bertemu secara langsung, rasanya jadi bertemu teman baru lagi. Dan jadi rindu masa-masa aktif ngeblog (di jaman itu), dimana kita bisa bebas ngomongin apapun, tanpa perlu mikir konten, tanpa perlu mikir apa yang kita omongin bisa membuat pihak lain keberatan. Sekarang apapun harus berdasarkan konten si blogger tersebut, ooh kalau blogger travel harus travel, beauty blogger harus tentang kecantikan, parenting blogger tentang anak-anak dan orang tua. 

Tapi nggak bisa disalahkan juga sih, trendnya begitu, plus blogger juga bisa dianggap sebagai pekerjaan saat ini, orang bisa dapat duit dari sini, jadi wajib banget dispesialisasi. Kalau saya sih belum mampu, hehehe, mau ngomongin pendidikan juga ilmu saya masih segini aja, mau ngomongin parenting juga saya kadang masih suka galak sama anak, mau ngomongin travel gak sering jalan-jalan, kulinerpun begitu, jadi saya middle dalam semua hal, makanya saya branding diri saya sebagai personal blogger aja, bisa kemana-mana (tapi duitnya segitu-segitu aja) hehehe.

Klise kalau habis ini saya bilang, "semoga bisa lebih rajin nulis blog lagi" karena emang sudah not in to this anymore, tapi hari ini cukup bersyukur bisa nulis di sini lagi.

Jadi apa kabar kalian? Semoga masih sering menulis ya :)

@dreeva and @fenty99 (@fenty_lovegood nowadays) 😁


I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 
 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...