Friday, August 30, 2019

Bijak dalam berinternet yang ternyata sangat penting

Assalamualaikum, 

Tadi saya baca postingan blog yang ditulis salah seorang wali murid di tempat liam sekolah. Sebuah tulisan tidak bertanggungjawab kalau saya bilang. 

Jadi beliau (yang seorang Bapak2) bilang bahwa salah satu kegiatan sekolah yang diadakan beberapa bulan lalu yang ia hadiri, tidak menguntungkan dirinya dan keluarganya, hanya menguntungkan (kalau saya rangkum) 1. Pihak panitia atau eo dan 2. Mama2 yang doyan selfie.

Ia mengklaim bahwa istrinya tidak seperti itu, istrinya bukan panitia ataupun mama2 doyan selfie.

Saya kebetulan adalah bagian dari panitia saat itu, dan saat pertama kali saya baca, saya geram. Kegiatan sekolah Liam selama setahun terakhir membuat saya tidak bisa berkegiatan secara "bebas", karena pikiran selalu tertuju pada event-event yang ada di sekolah tersebut. Mungkin teman-teman akan bilang, "ya tolak aja kali, susah amat"
Ya anggap saja saya saat itu sudah terlanjur masuk dan sulit untuk keluar, saya ingin membahas ini lebih lanjut di postingan lain, tapi nanti saja lah, kita bahas tentang ini dulu.

Saat postingan blog (bapak2 itu) akhirnya terbaca oleh salah seorang teman saya, dan kemudian ia share ke grup wa yang di anggotanya salah satunya ketua panitia kegiatan tersebut, tentu saja, emosinya memuncak dan tanpa berpikir panjang akhirnya ia share postingan blog itu ke dalam wa status (walaupun alamat blognya di blur). Dengan caption kekecewaan. Ya tentu saja kecewa, panitia dianggap ambil keuntungan, padahal kami sangat kelelahan berbulan-bulan saat itu, tidak ada uang yang kami terima, kami, mama-mama tanpa background event organizer diminta untuk mengerjakan event besar dengan peserta lebih dari 500 orang. Dan kami dianggap ambil keuntungan? WTF!

Status wa itu terbaca oleh panitia lain dan akhirnya sempat viral. Namun kami coba menenangkan teman kami tersebut, japri si istri dari bapak2 itu tadi, dan akhirnya istrinya atas nama suaminya meminta maaf, karena sudah tidak bijak dalam menulis, yang diakhiri dengan menghapus postingan blognya.

Saya tidak tau alasannya mengapa beliau menulis kalimat yang saya bilang childish, tanpa apresiasi ataupun tendeng aling2. Bagi saya pribadi mungkin karena ia merasa itu sebatas curhat sehari-hari atau blog itu rumahnya, dia akan tulis apapun yang ia ingin tulis karena ada di teritorinya.

But hey, ini dunia digital yang  sangat mudah diakses orang di seluruh dunia. Kecuali ia private alamat blognya. Karena ia tidak hanya asal ngomong, namun juga share foto keluarganya di situ. Menyebutkan dengan JELAS apa nama kegiatan, sekolah, dan nama kedua anaknya. Yang kalau kami (para panitia) baca, akan membuat kami memiliki imej yang jelek, di lain pihak bapak tersebut dan keluarganya bagi sebagian dari kami sudah dianggap kurang ajar, dan hal itu tentu saja berakibat buruk pada imej mereka.

Kadang hal-hal seperti ini yang membuat saya akhirnya jadi lebih berhati-hati atau malah TERLALU berhati-hati dalam menulis postingan di blog. Takut menyakiti orang lain, takut review kita menjelekkan pihak tertentu dan akhirnya jadi masalah. Ya memang tidak sesantai dulu. Masih untung postingan saya yang lalu lebih ke masalah galau anak kecil, hehehe, yang biarlah kalau masih ada, buat pembelajaran diri saya.

Self reminder untuk selalu menjaga otak saya saat menulis atau mengetik di berbagai media "curhat" saya, siapa tau kata-kata saya tidak sejalan dengan anggapan orang lain. Selalu berpikir dari banyak sisi ya berbeda, agar kita lebih mawas diri.

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...