Friday, July 12, 2019

The Masrums Jalan-jalan : Tumurun Private Museum


Assalamualaikum, 

Hai dari kami keluarga Masrum yang sudah kembali ke peradaban, halah, padahal liburan udah dua minggu yang lalu, hahaha.

Seperti tahun lalu destinasi liburan kami setelah Lebaran tahun ini adalah Solo dan Jogja, karena you know lah kalau kami tuh Lebaran nggak pernah mudik, mudik kami ya 2-3 minggu setelah Lebaran kelar, nunggu suami selo dan bisa cuti begitchuuh .... kenapa ke dua tempat itu karena sementara yang affordable dan emang mertua eikeh darisana ya bok, plus belum semua tempat kami singgahi dan perkembangannya ada mulu tiap tahun ya disana itu, hehehe

Tahun ini saya penasaran pada salah satu destinasi wisata "eksklusif" tapi gratis yang ada di Solo, tajuknya adalah "Tumurun Private Museum" namanya aja elegan, isinya pun begitu. Museum slash art gallery ini dimiliki oleh bos Sritex, Iwan Setiawan Lukminto yang merupakan pecinta seni dan suka mengkoleksi benda-benda seni seperti lukisan dan instalasi seni, karya-karya yang dimiliki beliau ini bukan hanya milik pribadinya saja, namun juga milik keluarganya, tepatnya ayahnya, almarhum Lukminto, sehingga museum ini diberi nama Tumurun, karena turun temurun atau diturunkan dari ayah ke anaknya. Jadi itu seklumit cerita mengenai kenapa nama museum ini Tumurun.
Wajib selfie disini (katanya)
Jadi bagaimana kita bisa masuk ke dalam museum ini ? Seperti yang saya bilang di atas, masuk ke dalamnya gratis. Kalau mau registrasi, wajib registrasi HANYA lewat websitenya, di Tumurun Museum. Teman-teman bisa langsung klik event dan memilih tanggal kehadiran teman-teman, maksimal dua hari sebelumnya. Hanya bisa 5 orang per rombongan yang mendaftar, dan 50 orang per sesi. Sesinya ada setiap jam dari pukul 10.00 WIB sampai jam 17.00 (sepertinya, saya lupa, tapi jangan sore-sore deh kayaknya, hehehe) Seperti museum-museum lain di seluruh dunia, hari Senin tutup ya chuuuy! :D

Aturan-aturan yang wajib dipenuhi
Ini "ruang" tunggunya yaa :D
Halaman depan museum, yang minimalis sekali
Oh ya di luar gallery ini tidak ada papan namanya, jadi awal-awal saya kesini juga tebak-tebak buah manggis, ada rumah gede banget bentuknya minimalis dan ada mas-mas berpakaian rapi nunggu di depan gerbang, oh sepertinya ini, dan yak anda benar sekali Bu Fenty! :D
Saat mas petugasnya menjelaskan tentang aturan-aturan di dalam museum, pegawainya rapi-rapi bin necis looh

Pintu masuknya ekslusif banget :D beda dengan museum-museum pada umumnya di Indonesia

Salah satu karya instalasi seni yang saya sukai, karena berbentuk maket, hehehe
Karya dari  Aditya Novali

Lukisan Remake lukisan Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro yang di dalamnya terdapat ukiran cerita berbeda menggunakan Java Script alias aksara Jawa! Ngeriii ...
Karya Eddy Susanto
Ini karya Eddy Susanto yang lain, the last supper, di depannya ada meja yang diukir menggunakan aksara Jawa juga. Kereeen ...
Ada lukisan manga jugaa

Saya datang ke sini di jam paling awal jam 10.00, dan kalau belum waktunya masuk kita akan diminta untuk menunggu dulu di terasnya, ada sebuah bangku yang tersedia di sana. Kalau nunggu nggak ada jualan cangcimen ya teman-teman, hahaha, jadi kesana itu bener-bener harus siap lahir batin, sudah makan dan sudah ngemil, kalau minum air putih sih boleh aja kayaknya, toh nanti tasnya akan dititipkan di sebuah meja khusus.  

Oh iya .... ke sini bawa anak kecil itu perjuangan loh. Saya pikir anak saya bakal tertarik gitu melihat instalasi seni yang bentuknya aneh-aneh seperti mata besar-besar menjulang tinggi hampir setinggi atap gedung. Eh ternyata Liam rewel dong minta pulang, hahaha, kami hanya tahan setengah jam di sana, karenaaa anaknya rewel banget cuuyy, minta pulang dan makan, tahun depan bakalan harus milih-milih lagi destinasi wisata ramah anak. 
Ada peti mati kaca, entah apa yang Bapaknya Liam bilang padanya saat itu, hehehe
Ini mobil yang dibuletin nak :D
Iya, karena memang galeri ini diperuntukkan untuk orang-orang yang suka dengan seni dan selfie. Saya kayaknya alasan nomer dua, hahaha, karena beberapa instalasi seni saya nggak paham maksudnya apaan, tapi tetap menarik dilihat dan dipelajari konteksnya. Dan sebagai dosen jurusan yang nyambung-nyambung dengan seni, ya wajib datang sih, selain bisa menyebarkannya ke mahasiswa, hal ini bisa jadi bahasan di mata kuliah tertentu di tempat saya mengajar. Mungkin next destination museum Macan ya, hihihi, itupun kalau ada rejeki ke Jakarta :D Ke Jakarta kok liburan.

Bottomline, bagi kalian pecinta seni dan tempat kekinian wajib kesini, gratis, dan semoga likes instagrammu makin banyak #eh  

Note : di bagian keterangan judul seni/lukisannya, tidak ada penjelasan secara detail, tapi kalau penasaran bisa langsung diakses melalui aplikasi QR ataupun melalui QR di Line. Jadi selamat mempelajari seni :)

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...