Wednesday, December 11, 2019

Anak rumahan

Assalamualaikum,

Kemarin seperti biasa kalau pagi suami nggak bisa anter kalau lagi liputan luar kota, pagi-pagi saya naik taxi online ke sekolah Liam untuk antar liam sekolah. Kemudian supir taxi onlinenya ajak ngobrol saya, basa basi soal sekolah anak, kerja dan sebagainya. Lalu akhirnya Bapak tersebut bilang, "Mbaknya bukan orang Surabaya ya ?"

Saya jawab lah, "Orang Surabaya kok, tapi memang lahirnya di Bali, cuma ya sudah lebih dari 25 tahun di Surabaya"
"Oh ya, kok aksennya seperti bukan orang Surabaya ya"
"Hehehe, iya, di rumah tidak dibiasakan bicara berbahasa Jawa"
"Oooh, pasti mbaknya anak rumahan ya ?"
errrr .... awalnya mau nggak ngaku, tapi sepertinya memang benar saya anak rumahan sih, tapi akhirnya saya iyakan aja
"Iya kali, Pak. Anak saya lebih medhok dari saya"
"Waah mbaknya kalah dari anaknya"
Hmm emang saingan ya Pak ? 

Back to topic, hari ini saya berpikir, masa iya anak rumahan bisa diukur dari cara mereka berbicara. Saya rasa saya nggak medhok dan behave banget kalau bicara karena kebiasaan saja. Karena orang tua saya yang mengajarkan demikian. Apa kemudian saya sering keluar rumah ? ya enggak juga sih. Saya lebih mikir males banget menginjakkan kaki keluar rumah kalau nggak ada keperluan penting banget.
Photo by freestocks.org on Unsplash
Saya jadi ingat kolega saya di kampus, dia bilang dia setiap weekend selalu pergi ke mol, SELALU, katanya, nggak boleh tidak. Saya pribadi kok jadi insecure ya dengan pernyataan itu, hahaha, emang keliatan banget bedanya sama saya. Sepertinya saya tumbuh jadi anak rumahan, karena orang tua saya cukup protektif jaman saya muda. Saya harus pulang sebelum Maghrib, intinya sebelum gelap sudah harus pulang, kalau saya ingat-ingat itu saya mikir, wah saya nggak punya pengalaman banyak ya jaman saya sekolah dulu. Bahkan saat kuliahpun begitu, kalau tiba-tiba saya harus pulang malam karena ada tugas yang harus dilakukan, ya saya dijemput. Jadilah saya pribadi yang cupu, tidak berani bertindak, tidak berani mengeluarkan apa yang ada di otak saya. 

Baru benar-benar berubah pun saat saya kuliah S2, karena kebetulan kuliahnya malam, dan saya harus berangkat dan pulang sendiri. Kalau dipikir-pikir lagi, saya telat gaul, hahaha. 

Well anyway, toh nggak bisa diubah juga ya kehidupan saya yang memang benar anak rumahan, berarti saya saja yang harus kuat hati ketika anak saya emoh jadi anak rumahan, karena Bapaknya bukan anak rumahan, doyan banget ngewarung dan liputan luar kota, hehehe. 

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Tuesday, December 10, 2019

Kopdar dengan dreeva

Assalamualaikum, 

Hai kalian apa kabar? Lama tidak menulis, seminggu lebih yang lalu aempat bertemu dengan salah satu blogger Palembang yang sudah lama kenal tapi baru ada kesempatan bertemu kemarin. Namanya Nike, dulu terkenal dengan dreeva, saya lupa itu nick name artinya apa, tapi semua sosial medianya id-nya dreeva seingat saya. Setelah kenal di blog, beralihlah ke Y!M yang memang merupakan tempat chatting terasyik pada jamannya, hehehe. Jaman dulu sih kayaknya seru aja gitu, curhat tentang blog, buku, jodoh, dll. Tapi entah, mungkin karena Y!M akhirnya tidak beroperasi lagi jadi kehilangan kontak deh, ketemu lagi di instagram, tapi vibe-nya jelas beda lah ya.

Well, waktu kami cukup sempit saat itu, hanya dua jam untuk ngobrol ngalur ngidul, tapi cukup menyenangkan. Jadi menyadari kopdar itu memang menyenangkan, seperti lama kenal tapi tidak pernah bertemu secara langsung, rasanya jadi bertemu teman baru lagi. Dan jadi rindu masa-masa aktif ngeblog (di jaman itu), dimana kita bisa bebas ngomongin apapun, tanpa perlu mikir konten, tanpa perlu mikir apa yang kita omongin bisa membuat pihak lain keberatan. Sekarang apapun harus berdasarkan konten si blogger tersebut, ooh kalau blogger travel harus travel, beauty blogger harus tentang kecantikan, parenting blogger tentang anak-anak dan orang tua. 

Tapi nggak bisa disalahkan juga sih, trendnya begitu, plus blogger juga bisa dianggap sebagai pekerjaan saat ini, orang bisa dapat duit dari sini, jadi wajib banget dispesialisasi. Kalau saya sih belum mampu, hehehe, mau ngomongin pendidikan juga ilmu saya masih segini aja, mau ngomongin parenting juga saya kadang masih suka galak sama anak, mau ngomongin travel gak sering jalan-jalan, kulinerpun begitu, jadi saya middle dalam semua hal, makanya saya branding diri saya sebagai personal blogger aja, bisa kemana-mana (tapi duitnya segitu-segitu aja) hehehe.

Klise kalau habis ini saya bilang, "semoga bisa lebih rajin nulis blog lagi" karena emang sudah not in to this anymore, tapi hari ini cukup bersyukur bisa nulis di sini lagi.

Jadi apa kabar kalian? Semoga masih sering menulis ya :)

@dreeva and @fenty99 (@fenty_lovegood nowadays) ๐Ÿ˜


I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 
 

Friday, September 6, 2019

The Masrums Jalan-jalan : Chingu Cafe, Yogyakarta

Assalamualaikum,

Liburan ke Jogja kemarin (ini latepost banget yaa, baru sempat teredit lagi postingannya, hehehe), saya sudah mengadang-gadang untuk datang kemari. Sebuah cafe dengan konsep kekinian untuk Ibu-ibu dan remaja putri, you know apapun yang bersifat Korean wave pasti aja laku, dari snack kaki lima ala korea, cowok korea, lagu korea, ngedance ala korea, bahkan untuk anak-anak ada kartun-kartun yang asli korea berseliweran di tv, semuanya ada di Indonesia.

Jadi datanglah kami ke sini, eh maksudnya saya menuntun suami dan anak saya ke sini sih, hahaha. Chingu cafe, kafe ala little Korea yang nuansanya sangat bright dan korea sekali. Dengan warna pink fuchsia, warna-warna terang, mural ala korea dan dinding-dinding yang ditempel wallpaper aktor-aktor Korea yang heits di Indonesia, lagu dan video yang ditampilkan juga lagu K-Pop, dan tak lupa makanannya sudah pasti ala Korea juga, karena jangan lupa ini memang tempat makan ya buibu, bukan tempat foto-foto doang.

Foto sama mas Bo Gum, eh Bo Gum Oppa xD
Uniknya di tempat ini, kalau mau masuk itu mesti ngantri ya book ... seriously, kita itu harus mendaftarkan nama kita di depan, sampai akhirnya dipanggil dan bisa masuk untuk makan dan foto-foto. Karena memang tempatnya kecil sekali, dan kalau semua orang dimasukkan dalam satu waktu, bisa kayak pasar malam aja gitu di dalam. 

Kami datang pagi sekali ke sana dan saat itu memang tidak saat weekend, kebetulan kami masih ada di Jogja di hari Senin, jadi datanglah kami ke sana di hari Senin pagi, saat baru buka jam 11.00 WIB, kalau tidak salah kami datang jam 11.10 WIB, dan sudah harus antri dong, tapi belum ngantri banget, masih banyak bangku kosong di tempat menunggunya. Saya hanya merasa "ya ampun, mau makan itu ngantri ngeliatin orang makan ya ?" hahaha, no wonder kok ya semua jendela ditutupi di bagian luarnya, karena selain panas, ya juga males kali ya diliatin orang kok nggak selesai juga makannya. 

Tempat duduk yang dipakai untuk nunggu di teras depan
Pemberitahuan

Pintu masuk, yang hanya boleh dibuka dan ditutup oleh penjaga pintu, lainnya dilarang pegang, hahaha

Saat sudah giliran kami dipanggil masuk (saat itu kalau tidak salah kami hanya menunggu beberapa menit karena memang masih sepi), kami ditempatkan di salah satu spot yang dekat dengan pintu masuk, mungkin tergantung urutan kedatangan. 

Oh iya, buku menunya menarik, harga yang ditampilkan pakai harga Won (mata uang korea selatan), dengan footnote, harga 1 won = 10000. Saya lupa foto isi menunya, tapi menurut saya idenya menarik, dan kesannya kita memang sedang makan di Korea, hehehe.Setelah duduk, kami diberi buku menu untuk memesan hidangan, hidangannya tentu isinya full ala korea. Dari ramyun ala korea, patbingsoo, alias es campur ala korea, sampai ayam goreng plus keju mozarella ala korea ditambah dengan kimchi-pun ada. 

Harganya cukup terjangkau kalau saya bilang, masih kisaran harga antara 15-100ribu, 100ribu itu yang bisa untuk banyak orang, sayangnya sepertinya saya salah pesan, harusnya beli varian mie aja, karena untuk kami yang cuma bertiga (yang salah satunya anak kecil) makan yang paket besar, turah-turah guys, akhirnya dibungkus dan dibawa pulang (ke hotel) deh. 



Setelah pesan makanan, sembari menunggu, kami foto-foto doong, hahaha, karena sudah booked mejanya, kami bebas seliweran di spot-spot foto. Oh ya, kami sempat dimarahin satpam karena saya pakai properti ban angsa untuk foto Liam, hahaha, berasa kampungan banget deh, hahaha, tapi gak pa2 deh, pengalaman

Sudah sempat terfoto, hahaha, maafkan kami wahai Chingu, jangan ditiru yaaa XD

My real oppa XD

Teh jagung ala Korea, saya pikir rasanya seperti jagung manis, ternyata seperti klobot dikasih gula (menurut saya loh yaa)
Yaaay



Meat!!

dibantuin masnya nyalain kompor

Paket ayam mozarella dengan kimchi dan entah saus apa itu

Situesyen di dalam Chingu (1)

Situesyen di dalam Chingu (2)

Situesyen di dalam Chingu (3)

Note-note yang ditulis oleh customer yang terikat di beberapa spot Chingu
Ya pengalaman yang cukup menyenangkan, mungkin bisa dicoba lagi kapan-kapan dengan mencoba menu yang berbeda, ingin coba ramyun-nyaaaa xD

Jadi, kalian tertarik juga nggak ke sini ? Tips saya sih itu, jangan datang saat weekend apalagi jam makan siang, waktunya lebih nanggung lebih baik, hahaha.


I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Friday, August 30, 2019

Bijak dalam berinternet yang ternyata sangat penting

Assalamualaikum, 

Tadi saya baca postingan blog yang ditulis salah seorang wali murid di tempat liam sekolah. Sebuah tulisan tidak bertanggungjawab kalau saya bilang. 

Jadi beliau (yang seorang Bapak2) bilang bahwa salah satu kegiatan sekolah yang diadakan beberapa bulan lalu yang ia hadiri, tidak menguntungkan dirinya dan keluarganya, hanya menguntungkan (kalau saya rangkum) 1. Pihak panitia atau eo dan 2. Mama2 yang doyan selfie.

Ia mengklaim bahwa istrinya tidak seperti itu, istrinya bukan panitia ataupun mama2 doyan selfie.

Saya kebetulan adalah bagian dari panitia saat itu, dan saat pertama kali saya baca, saya geram. Kegiatan sekolah Liam selama setahun terakhir membuat saya tidak bisa berkegiatan secara "bebas", karena pikiran selalu tertuju pada event-event yang ada di sekolah tersebut. Mungkin teman-teman akan bilang, "ya tolak aja kali, susah amat"
Ya anggap saja saya saat itu sudah terlanjur masuk dan sulit untuk keluar, saya ingin membahas ini lebih lanjut di postingan lain, tapi nanti saja lah, kita bahas tentang ini dulu.

Saat postingan blog (bapak2 itu) akhirnya terbaca oleh salah seorang teman saya, dan kemudian ia share ke grup wa yang di anggotanya salah satunya ketua panitia kegiatan tersebut, tentu saja, emosinya memuncak dan tanpa berpikir panjang akhirnya ia share postingan blog itu ke dalam wa status (walaupun alamat blognya di blur). Dengan caption kekecewaan. Ya tentu saja kecewa, panitia dianggap ambil keuntungan, padahal kami sangat kelelahan berbulan-bulan saat itu, tidak ada uang yang kami terima, kami, mama-mama tanpa background event organizer diminta untuk mengerjakan event besar dengan peserta lebih dari 500 orang. Dan kami dianggap ambil keuntungan? WTF!

Status wa itu terbaca oleh panitia lain dan akhirnya sempat viral. Namun kami coba menenangkan teman kami tersebut, japri si istri dari bapak2 itu tadi, dan akhirnya istrinya atas nama suaminya meminta maaf, karena sudah tidak bijak dalam menulis, yang diakhiri dengan menghapus postingan blognya.

Saya tidak tau alasannya mengapa beliau menulis kalimat yang saya bilang childish, tanpa apresiasi ataupun tendeng aling2. Bagi saya pribadi mungkin karena ia merasa itu sebatas curhat sehari-hari atau blog itu rumahnya, dia akan tulis apapun yang ia ingin tulis karena ada di teritorinya.

But hey, ini dunia digital yang  sangat mudah diakses orang di seluruh dunia. Kecuali ia private alamat blognya. Karena ia tidak hanya asal ngomong, namun juga share foto keluarganya di situ. Menyebutkan dengan JELAS apa nama kegiatan, sekolah, dan nama kedua anaknya. Yang kalau kami (para panitia) baca, akan membuat kami memiliki imej yang jelek, di lain pihak bapak tersebut dan keluarganya bagi sebagian dari kami sudah dianggap kurang ajar, dan hal itu tentu saja berakibat buruk pada imej mereka.

Kadang hal-hal seperti ini yang membuat saya akhirnya jadi lebih berhati-hati atau malah TERLALU berhati-hati dalam menulis postingan di blog. Takut menyakiti orang lain, takut review kita menjelekkan pihak tertentu dan akhirnya jadi masalah. Ya memang tidak sesantai dulu. Masih untung postingan saya yang lalu lebih ke masalah galau anak kecil, hehehe, yang biarlah kalau masih ada, buat pembelajaran diri saya.

Self reminder untuk selalu menjaga otak saya saat menulis atau mengetik di berbagai media "curhat" saya, siapa tau kata-kata saya tidak sejalan dengan anggapan orang lain. Selalu berpikir dari banyak sisi ya berbeda, agar kita lebih mawas diri.

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 


Friday, July 12, 2019

The Masrums Jalan-jalan : Tumurun Private Museum


Assalamualaikum, 

Hai dari kami keluarga Masrum yang sudah kembali ke peradaban, halah, padahal liburan udah dua minggu yang lalu, hahaha.

Seperti tahun lalu destinasi liburan kami setelah Lebaran tahun ini adalah Solo dan Jogja, karena you know lah kalau kami tuh Lebaran nggak pernah mudik, mudik kami ya 2-3 minggu setelah Lebaran kelar, nunggu suami selo dan bisa cuti begitchuuh .... kenapa ke dua tempat itu karena sementara yang affordable dan emang mertua eikeh darisana ya bok, plus belum semua tempat kami singgahi dan perkembangannya ada mulu tiap tahun ya disana itu, hehehe

Tahun ini saya penasaran pada salah satu destinasi wisata "eksklusif" tapi gratis yang ada di Solo, tajuknya adalah "Tumurun Private Museum" namanya aja elegan, isinya pun begitu. Museum slash art gallery ini dimiliki oleh bos Sritex, Iwan Setiawan Lukminto yang merupakan pecinta seni dan suka mengkoleksi benda-benda seni seperti lukisan dan instalasi seni, karya-karya yang dimiliki beliau ini bukan hanya milik pribadinya saja, namun juga milik keluarganya, tepatnya ayahnya, almarhum Lukminto, sehingga museum ini diberi nama Tumurun, karena turun temurun atau diturunkan dari ayah ke anaknya. Jadi itu seklumit cerita mengenai kenapa nama museum ini Tumurun.
Wajib selfie disini (katanya)
Jadi bagaimana kita bisa masuk ke dalam museum ini ? Seperti yang saya bilang di atas, masuk ke dalamnya gratis. Kalau mau registrasi, wajib registrasi HANYA lewat websitenya, di Tumurun Museum. Teman-teman bisa langsung klik event dan memilih tanggal kehadiran teman-teman, maksimal dua hari sebelumnya. Hanya bisa 5 orang per rombongan yang mendaftar, dan 50 orang per sesi. Sesinya ada setiap jam dari pukul 10.00 WIB sampai jam 17.00 (sepertinya, saya lupa, tapi jangan sore-sore deh kayaknya, hehehe) Seperti museum-museum lain di seluruh dunia, hari Senin tutup ya chuuuy! :D

Aturan-aturan yang wajib dipenuhi
Ini "ruang" tunggunya yaa :D
Halaman depan museum, yang minimalis sekali
Oh ya di luar gallery ini tidak ada papan namanya, jadi awal-awal saya kesini juga tebak-tebak buah manggis, ada rumah gede banget bentuknya minimalis dan ada mas-mas berpakaian rapi nunggu di depan gerbang, oh sepertinya ini, dan yak anda benar sekali Bu Fenty! :D
Saat mas petugasnya menjelaskan tentang aturan-aturan di dalam museum, pegawainya rapi-rapi bin necis looh

Pintu masuknya ekslusif banget :D beda dengan museum-museum pada umumnya di Indonesia

Salah satu karya instalasi seni yang saya sukai, karena berbentuk maket, hehehe
Karya dari  Aditya Novali

Lukisan Remake lukisan Raden Saleh, Penangkapan Pangeran Diponegoro yang di dalamnya terdapat ukiran cerita berbeda menggunakan Java Script alias aksara Jawa! Ngeriii ...
Karya Eddy Susanto
Ini karya Eddy Susanto yang lain, the last supper, di depannya ada meja yang diukir menggunakan aksara Jawa juga. Kereeen ...
Ada lukisan manga jugaa

Saya datang ke sini di jam paling awal jam 10.00, dan kalau belum waktunya masuk kita akan diminta untuk menunggu dulu di terasnya, ada sebuah bangku yang tersedia di sana. Kalau nunggu nggak ada jualan cangcimen ya teman-teman, hahaha, jadi kesana itu bener-bener harus siap lahir batin, sudah makan dan sudah ngemil, kalau minum air putih sih boleh aja kayaknya, toh nanti tasnya akan dititipkan di sebuah meja khusus.  

Oh iya .... ke sini bawa anak kecil itu perjuangan loh. Saya pikir anak saya bakal tertarik gitu melihat instalasi seni yang bentuknya aneh-aneh seperti mata besar-besar menjulang tinggi hampir setinggi atap gedung. Eh ternyata Liam rewel dong minta pulang, hahaha, kami hanya tahan setengah jam di sana, karenaaa anaknya rewel banget cuuyy, minta pulang dan makan, tahun depan bakalan harus milih-milih lagi destinasi wisata ramah anak. 
Ada peti mati kaca, entah apa yang Bapaknya Liam bilang padanya saat itu, hehehe
Ini mobil yang dibuletin nak :D
Iya, karena memang galeri ini diperuntukkan untuk orang-orang yang suka dengan seni dan selfie. Saya kayaknya alasan nomer dua, hahaha, karena beberapa instalasi seni saya nggak paham maksudnya apaan, tapi tetap menarik dilihat dan dipelajari konteksnya. Dan sebagai dosen jurusan yang nyambung-nyambung dengan seni, ya wajib datang sih, selain bisa menyebarkannya ke mahasiswa, hal ini bisa jadi bahasan di mata kuliah tertentu di tempat saya mengajar. Mungkin next destination museum Macan ya, hihihi, itupun kalau ada rejeki ke Jakarta :D Ke Jakarta kok liburan.

Bottomline, bagi kalian pecinta seni dan tempat kekinian wajib kesini, gratis, dan semoga likes instagrammu makin banyak #eh  

Note : di bagian keterangan judul seni/lukisannya, tidak ada penjelasan secara detail, tapi kalau penasaran bisa langsung diakses melalui aplikasi QR ataupun melalui QR di Line. Jadi selamat mempelajari seni :)

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 

Thursday, July 4, 2019

Make up, skin care dan kebahagiaan diri

Assalamualaikum,

Dulu, jaman 10 tahunan yang lalu, saya belum doyan make up, let say, karena saya nggak mampu beli dan saya nggak punya kapabilitas untuk membuat wajah saya mendingan menggunakan make up. Awal-awal saya menggunakan make up pun alis saya ancur-ancuran, Ibu saya pun saat itu bilang, "Dek, alismu kok kereng sih, mending nggak usah dialisin disisir aja kayak mama", tapi enggak, saya nggak puas, belum tentu kebiasaan Ibu saya akan berdampak sama dengan apa yang bisa saya lakukan, eciyeeeh, bangga amat. Tapi emang iya sih, alis saya itu tipis, kalo nggak "dicerengi" deuh gundul, hahaha.

Tapi emang dulu kalau saya dandan (alis dan lipen doang sih) nggak oke, karena saya nggak punya junjungan untuk belajar make up.

Ibu saya? Ya well, makeup beliau dari dulu revlon aja dong, yang ternyata setelah saya coba-coba terlalu berat untuk kulit saya. Saya jadi bernoda hitam juga gara2 blush dari revlon. Tapi emang cocok-cocokan kan ya, kebetulan saya nggak cocok, ibu saya cocok, so nggak mau ngejudge.

10 tahunan lalu saya masih bertahan hanya pakai lipstick dan pensil alis yang samar-samar tipis banget, karena Ibu saya bilang kereng itu tadi, "kereng" itu galak kalau orang Jawa bilang ya, hehehe, siapa tau ada yang curious. Sejam dua jam kemudian wajah udah kumus-kumus aja. Saat itu dimana saya masih berusia 20puluhan merasa, halah, kulit saya lumayan putih kok, nggak usah diapa-apain juga masih keliatan oke tapi nggak laku-laku, hahaha. Baru akhirnya bertemu teman lama saya yang bilang ke saya, kulit itu harus dirawat loh, iya sih masih 20 tahunan masih belum kerasa, ntar saat umur sudah di atas 30 tahun kerasa banget bedanya. 

Gara-gara hal itu akhirnya saya belajar untuk pakai skincare, cuma sabun muka macam biore dan ponds, baru tau kalau bentuk kulit itu ada macam-macam. Ada yang normal, kering, berminyak dan kombinasi. ternyata kalau saya pakai sabun A, kulit jadi kering banget, kalau pakai sabun B jadi bagiamana, pakai C cocok, dari situ saya tau, ooh ternyata saya kulitnya cenderung normal ke kering, alhamdulillah juga jarang jerawatan, jadi memang kandungan minyaknya kecil. Lalu teman saya yang lain mengajak saya ke dokter langganannya, di sana saya belajar pakai day and night cream. Sempat vakum paska saya melahirkan, karena ngerem di rumah terus. kulit jadi kerasa banget bedanya, mulai muncul keriput di dahi, huwaah takuut. Akhirnya saya pakai skin care lagi, saya jadi ingat sempat posting skin care saya beberapa waktu lalu, kayaknya bahasan skin care kita stop dulu deh, bahas make up aja, hahaha.

Semakin kesini, semakin saya terinformasi tentang make up, plus juga saya akhirnya punya uang sendiri juga. Jadi, bisa beli macem-macem dong. Tadinya saya nggak pernah pakai foundation, bb cream dan sebagainya. Akhirnya saya kenal juga peralatan-peralatan itu. 

Dulu, saya bahkan nggak pernah pakai bedak tabur, saya kenal bedak tabur juga karena sepupu saya saranin saya pakai bedak tabur supaya tidak terlalu kumus-kumus. Lalu beberapa tahun lalu, saya akhirnya mainan lipstik, sebelumnya saya hanya pakai lipstik selera Ibu saya, you know, revlon. Akhirnya kenal purbasari dengan lipmattenya itu, sepertinya gara-gara itu akhirnya merembet ke macam-macam produk make up lain. Dan tidak bisa berhenti, gara-gara banyak beauty vlogger dan beauty influencer di berbagai media sosial yang mempromosikan banyak produk make up yang macam-macam. Dari yang terjangkau sampai yang harganya saya cuma mampu bengong doang, hahaha. 
My kind of make up
Produk make up terakhir yang saya purchase adalah Make Over Cushion, semacam foundation/BB cream dalam compact case begitu, hehehe. Saking sukanya coba-coba jadi pengen buat konten beginian sendiri kan ya, semacam "make up buat ngajar ala bu dosen imut" halah banget, hahahaha. 2 postingan terakhir saya naga-naganya keliatan banget gitu ya ingin buat konten video youtube sendiri, hihihi. 

Anyway, dulu saya juga orang yang merasa kalau perempuan dandan itu nggak percaya diri pada dirinya sendiri, tapi semakin kesini semakin merasa, ini masalah kebahagiaan. I'm happy, karena saya cukup mampu membeli make up saya sendiri, I'm happy, karena saya mampu memulaskan make up di wajah saya walaupun tidak sesempurna Fatya Biya ataupun Tasya Farasya (kalau nggak tau googling aja, hahaha), I'm happy, because turn out, I'm pretty ... hihihihi. 

Jadi terserah orang mau bilang saya menor atau apa, saya bahagia, itu saja :)   



I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Monday, June 24, 2019

The story of what so called petite chubby hijabi girl

Assalamualaikum,

Girl ? Ya woman deeeh ... xD

Alhamdulillah ya saya pendek-pendek gini masih lebih tinggi daripada anak saya (yaiyalah Feeen, masih 5 tahun inii) hahaha

Jadi kadang saya ini memang nggumun, eh nggumun bahasa Indonesianya apa ya ? bete tapi mikir gitu kali ya, ada hal-hal yang bikin saya sebel karena ukuran tinggi saya. Bagi yang tidak tau, tinggi saya ini tidak sampai 150cm ya teman-teman, nyaris sih, 148cm tepatnya dengan BB yang eh nggak usah disebutin deh, hahaha. 

Nah ada hal-hal yang bikin saya nggumun itu tadi, contohnya bonceng ojek online, jadi sebagai pengguna ojek online berbintang 5, eciyeeeh, karena hampir tiap hari order gaeees, hehehe, motor tuh kan gonta ganti dooong. Aman saat saya mendapat ojol yang motornya standar (tingginya), nah kalau tiba-tiba saya dapet ojol yang pake motor nmax, motor balap, motor cowok, motor yang intinya mengharuskan saya jinjit dan berusaha keras untuk naik ke jok motor tersebut, hadeeeuh, rasanya kudu cancel, tapi kesian abang ojolnya. 

Bagi teman-teman yang pendeknya se saya mungkin merasakan perasaan tersebut, yes kita harus struggle untuk naik ke joknya loh, kadang abang ojolnya mesti turun dulu biar kaki saya bisa lewat jok bagian depan, hahahaha, ngapunten.

Yang kedua nih problematika saya pribadi sih ini, nemuin style yang tepat buat bodi macam saya
Selain saya ini petite, biar kerenan dikit gitu bahasanya, atau mungil bahasa unyu-nya, badan saya juga agak melar sejak punya anak, hehehe, belum balik lagi sis, susyeh amat siih. 

Saat saya googling atau youtubing, saat mencari keywords "fashion for petite and chubby girl" atau "style untuk cewek pendek dan chubby" atau "chubby petite hijab girl fashion", mesti nggak ketemu output yang tepat. Kan jadi pengen bikin konten sendiri, hahahaha, kesempatan ya seharusnya ya :D Intinya untuk sekarang, saya cukup bingung cari-cari style yang menarik untuk saya, plus juga keterbatasan outfit sih, jadinya saya cukup sering menggunakan pakaian yang gelap dan monochrome, huehue, padahal ya bisa aja pakai sesuatu yang lebih cerah.

Selain juga hal-hal seperti susah ngambil barang yang terlalu tinggi, nggak keliatan saat lihat acara yang nggak ada panggungnya, harus ndongak ketemu orang yang tinggi, dsb dsb. 

Eh tapi bukan berarti nggak bersyukur sih, Alhamdulillah masih diberi nikmat sehat ya, ntar kalo ngomong jelek-jelek terus dosa cuy .... nggak bersyukur gitu :')

Sudahlah, lagi ingin nulis itu aja :D
Doakan nanti konten youtube saya tentang style fashion cewek pendek, chubby, berjilbab dan cantik jelita sepanjang masa akan keluar segera, hahaha

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

3 youtuber yang sedang sering saya tonton

Assalamualaikum,

Eaaa, receh amat ya postingan hari ini, ya yang penting nulis nggak siiih ...

Jadi jujur saja, saya nonton youtube (secara serius) itu cuma saat saya ada di kantor, yang which is hanya 2-3 hari per minggu, hihihihi. Yes saya tidak kekinian, but anyway anyhow, setidaknya saya menonton hal-hal yang cukup berbobot sih (bagi saya), hahaha, daripada nonton prank-prank dan vlog tanpa tujuan jelas hanya dengan judul yang clickbait.

Langsung aja, without further ado, let's go and let's jump right in ...

1. Fatya Biya

Sebenarnya kalau kalian sering lihat videonya, dia selalu mengatakan kalimat di atas barusan, hehehe. Beauty vlogger yang sudah aktif dari tahun 2016 bukan sih? saya baru subscribe sekitar 2-3 bulanan ini. Karenaaa .... jeng jeng, ada yang bilang dia mirip saya, hahaha. Para biyalova pasti pada nggak rela, biyalova itu fansclubnya fatya biya, btw. 

Tapi selain hal tersebut, karena beberapa waktu ini dan selama ini masih demen make-up'an, ya menurut saya cocok lah kalau saya melihat cara fatya biya menggunakan make-upnya. Karena secara bentuk wajah, jilbab dan kulit mirip-mirip, jadi boleh jadi junjunganque, hehehe. Plus, saya suka cara dia berbicara di dalam video-videonya, sangat sopan, halus, jelas, dan nggak nyablak. Karena saya agak kurang suka dengan youtuber yang ngomongnya cepet, nyablak dan kebanyakan editan, if you know what I mean. 

2. Gita Savitri

Saya follow Gitsav sudah setahunan ini, salah seorang influencer yang menurut saya worth to follow, worth to watch dan worth to be your idol. Influencer yang tinggal di Jerman ini selalu punya konten yang berisi di setiap video youtube-nya. Berisi beneran, berasa pinter gitu kalau menonton acaranya, hehe. Obrolan Pagi-pagi-nya saya suaminya, Paul, tentang hal-hal yang "abot" tapi dikemas dengan obrolan yang light dan seru. Vlog-vlog saat dia di luar negeri pun sangat menarik dan merasa mendapat informasi yang banyak sekali dari yang dia ucapkan. 
Jadi jangan lupa follow Gitsav ya!


3. Raditya Dika

Ya siapa yang nggak tau beliaunya ini ya, tapi jujur saja saya jarang banget nonton dia, ini karena saya nggak ada pilihan lain aja sih, hahaha. Cuma beberapa waktu ini saya suka dengan podcastnya dia dengan beberapa influencer Indonesia begitu. Worth to watch lah ... salah satunya yang ini


Lainnya, nggak ada yang konsisten, hehehe, itu doang 3, ya ampun, sungguh bukan penonton youtube sejati ya saya :D

Kalau kalian ?

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Saturday, June 22, 2019

Mari menulis, menulis saja, yang penting menulis : Tentang Liam di usia yang hampir 6 tahun

Assalamualaikum,

Disclaimer : ini postingan curhat, tapi bukan ngiklan, jadi kalau nggak suka curhatan lewatin aja sih, hehehe

MasyaAllah, memang kebanyakan media sosial membuat saya sering lupa posting di sini, padahal kan di sini bisa jadi ladang rejeki juga ya, hehehe, ya siapa tau masih ada gitu yang mau ajak-ajak saya jalan-jalan gratis atau sekedar diendorse produk baru, aktif woooy!!

Anyway, kemarin akhirnya Liam lulus TK A.
Alhamdulillah ya, dari anaknya membaca masih susah sampai sekarang bisa membaca dengan lancar tapi terbata-bata, ya belum lancar lah sis masih TK ini, hehehe, but Alhamdulillah tentunyaa...

Namun sebenarnya saya agak kepikiran beberapa waktu ini, anak saya kok mulai sering tantrum lagi ya, padahal usianya sudah mau 6 tahun Agustus ini. Lalu gara-gara ini saya googling dong, hmm, apa salah dan dosaku ya google!! Eh Ya Allah ...  ya well, googling bisa menyelesaikan masalah dengan masalah tapi juga bikin tambah stress, hahaha.

Karena mostly artikel menunjukkan bahwa "Salah pola asuh" menjadi yang bahasan paling umum. Lalu kemudian, oh ya ? Apakah aku salah mengasuh anakku? Apakah aku memanjakannya? apakah aku terlalu keras padanya ? Apakah aku tidak sabar dengannya ? dan apakah apakah lainnya yang membuat saya stress tingkat 12 gedung stikom. Namun yang membuat saya takut, apakah sebenarnya anak saya merefleksikan diri saya ? jeng jeeeeng .... karena kadang dia bersikap seperti saya, duh!

Dan setelah saya berpikir secara mendalam sedalam lautan jawa., saya jadi memilah-milah kemungkinan-kemungkinan yang selama ini terjadi pada saya dan anak saya, seperti mungkin perhatian saya berkurang ya selama ini, dia lebih sering main dengan temannya daripada saya, bonding saya dan dia sepertinya mulai berkurang. Ya memang sudah waktunya dia bermain dengan teman sebayanya, tapi saya lupa kalau harusnya ada waktu dimana orang tuanya punya waktu untuk bermain dan belajar bersama. Saya juga mulai jarang membacakannya buku cerita, saya sudah sangat jarang membuatkan permainan untuknya, saya terlalu sering membelikan hal-hal yang kurang penting padanya, seperti snack-snack kurang sehat, terlalu sering menjanjikan hal-hal yang belum bisa dia dapatkan juga. Hmm, yaaa ... sepertinya ketemu nih jawabannya, ya emang salah gue kali ya, huhuhu 

Semoga saya bisa segera memperbaikinya agar tidak berkepanjangan, plus juga berharap saya makin sabaarr ... sabar subur cyiiin .... inget ya buuuk ... 

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 

Thursday, March 14, 2019

The Great 50 Show by Oriental Circus Indonesia, pertunjukan yang harus kamu saksikan!

Assalamualaikum, 

Perpaduan antara kekuatan, keseimbangan, ketepatan rencana dan keajaiban. Hal itu yang saya pikirkan saat menyaksikan secara langsung sirkus The Great 50 show oleh Oriental Circus Indoneia yang digelar oleh Ananta Harsa Group (AHG) kemarin malam. Oriental Circus Indonesia (OCI) merupakan satu-satunya sirkus asli indonesia yang sudah bertahan selama lebih dari 50 tahun. 
Pose pegangan sama Ring Master
Tenda sirkus klasik, berasa banget aura sirkusnya :)

Diprakarsai dari tahun 1967 oleh Hadi Manangsang, dulunya beliau adalah pemain akrobat di pinggiran kota Jakarta yang kemudian mengajarkan ketiga anaknya untuk memiliki keahlian yang serupa, hingga akhirnya dengan ketekunan dan usaha terus menerus, sirkus "mungil" di pinggir jalan itu bisa berkembang dengan luar biasa hingga dapat bekerja sama dengan sirkus internasional, seperti sekarang. Motto mereka adalah "The show must go on", sehingga ketika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi, atraksi mereka tetap harus dilakukan dengan senyum yang merekah.


Grand opening pertunjukan The Great 50 show, semalam (tanggal 13 Maret 2019) diawali oleh kemunculan Ring Master, pria bertopi tingggi dengan baju sirkus merah (yang mungkin pernah kalian lihat di film The Greatman Show, Hugh Jackman itu loh) dan memperkenalkan beberapa pemain akrobat, lalu acarapun dimulai. 
Josh Kunze sebagai Ring Master yang bahasa Indonesianya lancar banget :D
Konsep dalam pertunjukan sirkus ini mengusung kisah perjalanan seorang anak laki-laki muda bernama Noah yang bercita-cita membuat sebuah kelompok sirkus sendiri, lebih seperti menceritakan tentang tokoh Hadi Manangsang yang saya ceritakan di awal, sampai ia memiliki pergulatan batin dan akhirnya harus menerima keadaan dan berkata "The Show Must go on". 

Dibagi menjadi 2 babak dalam pertunjukan selama 2 jam ini (saya nggak mau membagikan spoiler ah, kalian harus saksikan sendiri seru dan bikin deg-deg'annya atraksi mereka)

Salah satu atraksi akrobat
Permainan laseeer, kereeen .... harus lihat!

Oh ya, jika ada yang tanya, apakah ada hewan di dalam sirkus ini? Jawabannya tidak ada. OCI mengusung konsep baru #sirkustanpahewan, karena banyak sekali berita yang mengatakan jika hewan-hewan sirkus pasti hidupnya sangat menyakitkan, selain juga karena harus hidup bukan di habitat aslinya. Salut untuk OCI yang mengusung konsep tersebut. Sayang foto-foto "hewan"nya blur semua, jadi tidak saya share, jadi mereka mengganti hewan yang biasanya digunakan untuk atraksi, dengan manusia yang menggunakan beberapa properti. 
 
Bertempat di Parkir Utara Lenmarc Mall Surabaya (seberang Lenmarc Mall), pertunjukan berlangsung Selasa-Minggu, dengan jadwal sebagai berikut :

Selasa-Kamis, jam 19.00 WIB
Jum'at, jam 16.00 dan 19.00 WIB
Sabtu-Minggu, jam 10.00, 16.00 dan 19.00 WIB


Tiket pertunjukan dijual dari harga Rp. 100.000 hingga Rp. 375.000 yang bisa dibeli di www.thegreat50show.com dan Traveloka.  

Masih akan buka sampai tanggal 21 April 2019, masih lama ya, people, jadi jangan sampai kelewatan. Kalau lapar, jangan khawatir, Eat and Eat menyediakan booth makanan dan minuman di tenda depan, dan bagi anak-anak juga disediakan playground mungil beserta badut yang memberikan balon yang dibentuk secara gratis, plus juga ada face dan body painting free untuk anak-anak atau orang dewasa. 

Ada souvenirnya nggak ? Oh, tentu saja ada, dari tas, mug sampai kaos dijual di dekat pintu masuk tenda depan.


Booth makanan dari Eat and Eat
Face and body painting for free
Playground, Liam sibuk mewarnai gambar Boboy sampai selesai

Kalau mau tau serunya pertunjukan ini, harus lihat sendiri langsung ke acara ini ya, people. Pokoknya Spektakuler dan kamu bakalan rugi banget kalau nggak datang. So, don't miss it!

I think that's all, thank you 
  
Wassalamualaikum,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...