Sunday, July 22, 2018

The Masrums Jalan-jalan : De Tjolomadoe, Convention and Heritage

Assalamualaikum,

Selama hampir 3 bulan tak menyentuh blog, akhirnya klik juga tombol "new post" di dasboard. Oh hi you guys, apa kabar, agak nggak yakin sih masih ada yang stay tuned melihat blog saya, hehehe. But it's okay, bloggers gotta blog kan :D

Sebenarnya ini adalah postingan tambahan dari update instagram saya, yang menjadi perhatian lebih bagi saya dibanding "rumah" yang ini. Kali ini saya akan membahas tentang salah satu tujuan wisata yang kami, The Masrums, alias saya, pak suami dan Liam (sok yes ya pakai julukan begitu, hehehe) lakukan saat pulang kampung liburan bulan lalu.

Seperti biasa liburan kami pasti akan dilakukan selepas libur lebaran umumnya, karena yeah, suami saya tidak mungkin bisa meninggalkan pekerjaannya saat Lebaran. Bahkan di akhir Juni tahun ini ada Pilkada, jadi sebagai wartawan berita tak mungkin kan bisa cuti, hehehe, so saya akhirnya harus bersabar sedikit agar bisa liburan yang lebih panjang.

Jadi akhirnya kami pulang ke Sragen coret (letak rumah mertua saya desanya lebih dekat dengan Solo sih daripada ke kota Sragen-nya), menginap beberapa hari di sana, dan di dalamnya merencanakan untuk pergi ke beberapa destinasi wisata di dekat Solo.


Nah salah satunya adalah tempat ini, namanya adalah De Tjolomadoe, sebuah pabrik gula yang tadinya sudah terbengkalai dan kemudian dipugar, atau kalau kata yang saya lihat di berita direvitalisasi menjadi museum dan convention hall dengan konsep yang modern. Tempatnya berada di Karanganyar, sekitar 12km dari pusat kota Solo, yang sebenarnya cukup dekat sih ya, entah kenapa perjalanan kemarin terasa sangat jauh, hehehe, ya mungkin karena baru pertama kali.

Anyway, De Tjolomadoe berada di daerah Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar, perjalanan 10 menit dari Bandara Adi Soemarmo Solo, tapi dari rumah mertua ke daerah Bandara bisa sampai 30 menit sendiri sih, hehehe, jadi hampir 40 menit kalau dari sana. Tempat ini buka pukul 10.00 WIB, kebetulan kami sampai sana pukul 09.30, yang membuat kami harus menunggu beberapa saat sampai akhirnya pintu masuknya dibuka, masuknya nggak perlu bayar alias free, menyenangkan kaan ? :D 
Cerobong asapnya yang memiliki struktur yang kuat sehingga bertahan hingga ratusan tahun
Basicly, tempat ini adalah sebuah gedung bangunan pabrik tua yang dipugar, beberapa bagian masih ada yang dibiarkan seperti awal gedung ini terbengkalai selama 20 tahun. Dibangun di era Mangkunegaran IV, pada tahun 1861, pabrik ini beroperasi lebih dari 100 tahun, namun kemudian mungkin karena mesinnya semakin tua, pabrik tersebut tidak digunakan lagi. Dan kabarnya pabrik tersebut sempat jadi destinasi wisata horor sih sebelum dipugar, kalau kata teman saya seremnya nggak wajar xD, hahaha, secara tempatnya sebelum dipugar seperti sekarang hampir tak tersentuh tangan manusia xD
Dari luar gedung
Tapi jangan khawatir sekarang sudah bagus, pakai banget, semua bagian direstorasi dengan sentuhan klasik modern, beberapa bagian dinding memang dibiarkan seperti saat bangunan tersebut ditinggalkan, lebih kepada untuk menciptakan kesan klasik dan otentik. Terdapat cafe dan restoran yang ada di sana untuk menciptakan fungsi baru tempat tersebut. Nah kebalikan dari masuknya yang tanpa bayar, cafe dan restonya dikonsepkan kekinian dengan harga yang kekinian juga (saya tidak sempat incip-incip kopi ataupun makanannya, tapi kabarnya cukup pricely)

Stasiun Gilingan, space paling besar di dalam pabrik tersebut

Lihat betapa besarnya mesin-mesin itu

Salah satu cafe yang ada di De Tjolomadoe
Mungkin sebelumnya ada uap yang keluar dari saringan besar itu, sekarang bisa instagramable ya ^_^
Tempat tersebut dibagi beberapa area yang mereka sebut sebagai stasiun-stasiun, dari area penggilingan tebu, penguapan, sampai kristalisasi menjadi gula. Mesin-mesin itu sudah tidak ada yang berfungsi, namun diletakkan masih di area aslinya, selain karena pasti sulit memindahkannya, hal tersebut dilakukan untuk membuat kesan pabrik yang otentik, tapi mesin-mesin itu tidak diperbolehkan untuk disentuh melihat usianya sudah lebih dari 100 tahun kan ya :).    
Terbengkalai 20 tahun, bahkan ada pohon yang tumbuh di dalam gedung, saat restorasi dibiarkan saja disana untuk menambah estetisnya tempat tersebut
Ngomong-ngomong soal restorasi, revitalisasi ataupun pemugaran, saya jadi teringat dengan sebuah variety show di channel National Geographic People, Restoration Man. Pemandu acaranya adalah seorang arsitektur Inggris, George Clarke, yang memang suka sekali dengan bangunan unik dan pemugaran bangunan-bangunan lama di Inggris. Acara tersebut membuka mata saya mengenai pemugaran bangunan lama, yang prosesnya bisa luar biasa sulit, dari penggunaan material, zonasi tempat, izin dari pemerintah setempat, ini dan itu, yang membuat saya sangat-sangat menghargai orang-orang yang peduli pada sejarah, seperti orang yang memutuskan untuk memugar pabrik gula Colomadu ini. 

Semoga semakin banyak orang ataupun lembaga yang peduli pada pemugaran tempat bersejarah seperti ini, sehingga lebih banyak destinasi wisata yang menarik plus edukatif :) 

Dan semoga setelah ini saya akan sempat menulis destinasi wisata lain yang saya singgahi di Solo-Jogja liburan kemarin, aamiiin, hehehe :*

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

1 comment:

ndutyke whileinsydney said...

Menarik sekali dan nampak sangat terawat. Semoga seterusnya seperti itu.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...