Friday, March 9, 2018

Nyetir motor

Assalamualaikum,

BF: "Oke, minggu ini tema-nya apa, mas-mas, mbak mbak ?"
M3: "Makanan buuk" "Mantan buuk ...."
        "Eh jangan, aku kan nggak punya mantan"
        "Ojo panganan taah, tema sing ndisik podo ae" 
         (Jangan makanan dong, tema kemaren kan sama aja)
BF : "Ya udah terserah aja ya tema minggu ini ?"
M3 : "Loh buk, nanti saya bingung mau bahas apa, pake konten aja"
         "Nggak po-po tah, lak sembarang tulisane" (Nggak apa-apa lah, kan terserah nulis apa)
BF : "Ya sudah, tema minggu ini 'Random' ya, jadi terserah kalian mau bahas apapun, oke?"
M3 : "Oke deh buuuk" 

Obrolan di kelas antara Bu Fenty (BF) dan M3 (Mas Mbak Mahasiswa) di atas terjadi di akhir perkuliahan copywriting minggu lalu untuk mencari tema konten blog minggu ini, hehehe. Yes se random itu awalan tulisan blog saya kali ini, hehehe

Padahal yang saya mau bahas adalah pengendara motor, haish jauh banget ya, ya kan random, jadi boleh dong saya mengawalinya dengan apapun (pembenaran, padahal biar panjang aja postingannya) 


Jadi, selama 6 tahun terakhir saya jadi jarang sekali nyetir mobil karena sudah ada suami yang antar-antar saya pakai motor. Saya tidak pernah mengendarai motor, karena memang tidak bisa, dan entah kenapa saya tidak pernah berpikir untuk berlatih naik motor lagi saat ini. 
Bukan saya dan suami sih, hahaha, dapet dari Pexels.com
Dulu, duluuuu sekali, saat saya masih SMP saya pernah berlatih naik motor dengan ayah saya. Saat itu perumahan tempat saya tinggal belum banyak bangunannya, jadi masih banyak lahan kosong untuk saya berlatih dengan ayah saya. Lalu kemudian itu tidak berlanjut, saya sudah jiper duluan melihat jalanan daerah Surabaya barat yang penuh truk-truk besar bahkan yang gandengan juga ada (truk gandeng maksudnya). Mungkin faktor ayah saya juga yang nggak rela anaknya ini saingan sama truk-truk besar itu, kalau dipikir-pikir ayah saya ini cukup memanjakan saya sih, hehehe, love you Dad. 

Anyway, akhirnya di usia saya yang sekarang, saya belum pernah benar-benar mengendarai motor, nggak pernah mengurus SIMnya juga (ya karena emang nggak terbiasa). Jadi life skill saya dalam mengendarai transportasi hanya sepeda kayuh dan mobil, lainnya nggak ada, walaupun pengen juga bisa mengendarai pesawat terbang, eaaaaa. 

Dari pembahasan tentang life skill di atas, saya jadi berpikir, bahwa mengendarai motor di jalanan kota besar macam Surabaya itu butuh bakat yang luar biasa, hahaha lebay ya saya. Saya ngomong seperti ini, karena faktor saya nggak bisa nyetir motor sih. Karena setelah saya melihat suami, dan babang-babang ojek online yang saya tumpangi (motornya loh yaaa). Mereka bisa banget gitu masuk ke celah-celah kemacetan di jalan. Apalagi daerah yang saya lewati (misalnya dari Wiyung ke Kedung Baruk) macetnya di beberapa titik, dan mereka bisa banget mengontrol kendaraan mereka agar bisa jalan terus tanpa harus benar-benar terkendala kemacetan. Saya suka amaze sendiri kok karena hal ini, hahaha, sesimple itu rasa takjub saya pada suatu hal xD 

Terimakasih untuk suami dan orang-orang yang pernah mengantarkan saya pakai motor, karena tanpa kalian perjalanan saya ke kantor atau kemanapun tidak akan lancar xD

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 

No comments:

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...