Thursday, February 22, 2018

Pesan dari mbak Diana, untuk semua Ibu

Assalamualaikum,

Ada yang follow Diana Rikasari di instagramnya ? Atu blognya mungkin ?
Diana saat ini sudah menjadi seorang mommy kece selama beberapa tahun terakhir (seperti saya, halah :))). 

Well, bagi followernya pasti sering melihat isi postingannya yang quirky namun positif, salah satu yang menurut saya menarik adalah postingan Diana tentang motherhood beberapa hari lalu, yang diawali oleh curhatannya tentang putrinya yang ia "paksa" untuk memakan wortel di sarapannya, hingga muntah. Lalu kemudian ia bercerita bahwa menjadi seorang Ibu itu tidak mudah, yes, kami semua para Ibu merasakannya. Mau kita full time mother, working at office mother, full time not too full mother macem saya, hahaha, dan berbagai macam Ibu di dunia ini, semua memiliki strugglenya masing-masing. Kemudian ia mengklasifikasikan 4 hal yang ia pelajari setelah menjadi Ibu selama 4 tahun (toss, Dee, sama2 4 tahun kita *sok kenal xD)

1. "Mother know best"
Dan dia berkata, nope, tidak, alias nehi! hehehehe. Oh can't agree more, kadang memang kita nggak tau yang terbaik untuk anak, walaupun suka sebel kalau orang lain merasa "memahami" apa yang si anak ini butuhkan. Yah, well, harus saya akui mereka benar. Saya pribadi kadang memiliki ego tinggi untuk nggak percaya dengan apa yang orang lain katakan (kadang itu dari Ibu saya sendiri) dan merasa percaya dengan apa yang kita lakukan untuk anak kita adalah yang terbaik. But nope, kita bisa saja melakukan kesalahan. Saya juga cukup setuju dengan Diana, dimana saat ini informasi sebenarnya sangat mudah didapatkan, entah dari artikel yang kita googling, ikut forum, tanya dengan orang yang lebih dulu mengalami atau bahkan konsultasi dengan dokter atu ahli2 tertentu, walaupun dalam prakteknya apa yang kita harapkan belum tentu sesuai dengan kenyataan. Intinya memang harus lebih menurunkan ego, lebih woles dan tetap berpikir positif :)

Me and other half ^_^
2. Nggak ada yang namanya supermom! 
Yes, so true, kadang kita memandang rendah diri kita saat melihat Ibu yang "penampakan"nya jauh lebih baik dari kita. Mengapa dia bekerja tapi masih bisa begini begitu, kok dia bisa sih asi-nya full terus, kok bisa sih jadi ibu rumah tangga yang sukses, dan lain sebagainya, dan ada di satu titik merasa ah mereka supermom, sedangkan saya tidak. Saya sebenarnya cukup yakin semua Ibu merasakannya, atau saya saja ya ? Tapi setelah menelaah lebih dalam (bahasa gueh), nggak mungkin lah nggak ada celanya. Pernah suatu saat saya dianggap sebagai sebagai Ibu yang "hebat" oleh beberapa teman saya yang lebih muda daripada saya, lalu saya merasa, oh jika saya saja disebut seperti itu, berarti orang lain yang saya anggap hebat, mungkin punya perasaan inferior yang sama ya ? Jadi, yes, nggak ada yang namanya supermom, yang ada adalah Ibu yang berusaha terbaik, apapun hasilnya untuk anak-anak dan keluarganya.

3. Fokus pada kebahagiaan anak, bukan pada apa yang sudah bisa ia lakukan sekarang
Sungguh, poin yang ini rasanya ngebogem saya banget. Saya sering sekali sedih melihat anak saya yang tubuhnya tidak sebesar teman-teman sekolahnya. Mengapa dia belum bisa ini, belum bisa itu (jika dibanding dengan teman-teman seusianya, bahkan lebih muda dari usianya) Saya sering juga curhat dengan suami tentang hal ini, tentu saja setelah saya curhat suami pasti akan langsung bilang, jangan lihat apa yang terjadi saat ini, apa yang terjadi saat anak balita belum tentu menentukan jadi apa dia 5, 10 bahkan 20 tahun dari sekarang, jadi jangan pernah meragukan anakmu. Yes, kadang saya terlalu menuntut, walaupun di satu titik bisa saja saya woles, di saat lain bisa saja saya sensitif, semoga ke depannya bisa lebih baik menanggapi hal ini. Wish me luck :)

4. Be kind to other mothers
Oh ya, saya tau kadang mulut dan tangan (untuk mengetik) kita bisa sangat kejam ketika berpendapat setelah melihat hal yang tidak sesuai dengan apa yang kita pikir lebih baik. Semakin desawa usia saya, jujur saya lebih sering menghindari konflik yang seperti ini, nggak usah komen kalau nggak perlu, nggak usah ngomong kalau tidak diminta pendapatnya, dan nggak usah terlalu comel sama urusan orang, apalagi Ibu lain. Kita nggak pernah tau apa saja yang telah Ibu tersebut lakukan pada anak-anaknya, kita nggak pernah tau kalau apa yang kita ucapkan, mungkin secuil saja bisa saja menyakiti hati orang tersebut. Karena saya pernah ada di posisi itu, both of them actually, walaupun saat saya komentar tentang hal yang menyakitkan itu karena saya belum ada di posisinya (bukan pembenaran, tapi hanya saja waktu itu saya belum dewasa dalam berpikir) dan ketika itu mengenai saya dan apa yang terjadi pada anak saya, ouh walaupun ucapannya tidak jahat, tapi itu cukup membuat saya sakit hati. Jadi saya lebih berhati-hati dalam berbicara pada orang dan komentar di sosial media manapun, atau ya diam saja :)

Jadi, terimakasih pesannya mbak Diana, cukup membuat saya dan Ibu-ibu lain berkaca, dan untuk selalu belajar bersama agar menjadi orang tua dan khususnya Ibu yang lebih baik :)

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

2 comments:

Unknown said...

bahkan seorang ibu juga belajar tiap hari bagaimana jadi seorang ibu.. tiap hari masih ngerasa salah, tapi berusaha.. merasa gagal, tapi bangkit..apalagi soal anak susah makan..wess jadi masalah semua ibu2..

ndop said...

Duuuh, kalau lihat si Daria ituuu pingin gendong aja deh, emesh bangettt! hahahah..

Membanding bandingkan anak kita dengan anak orang lain itu memang bener-bener salah ternyata ya. Soalnya anak kita memang spesial. Gak sama. Yang penting dia bahagia. Hohoho.. (pura puranya sudah punya anak)

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...