Wednesday, April 12, 2017

#latepost Makan di Bakmi Jogja Trunojoyo

Assalamualaikum,

Sebenarnya ini postingan yang harusnya saya share 2-3 minggu yang lalu, tapi karena keterbatasan waktu (cih, sok sibuk, bilang aja males buka laptop) akhirnya baru sempat menulis sekarang.

Ini sebenarnya kesekian kalinya kami makan di Bakmi Jogja Trunojoyo, tapi baru sekarang kami datang ke tempat barunya di jalan Tegalsari, Surabaya. Menurut judulnya kan Bakmi Jogja Trunojoyo itu harusnya di jalan Trunojoyo, sudah setahunan ini pindah ke jalan Tegalsari.

Tempat ini tidak pernah sepi pelanggan, parkiran selalu penuh (itupun sebenarnya tidak ada tempat parkir khusus), semua pelanggan parkir di pinggiran jalan Tegalsari, alhamdulillah kalau dapat parkiran, walaupun harus jalan berapa puluh meter dari tempat yang dituju. Pelanggannya jarang yang naik motor kali ya, semuanya bermobil, jalan sepanjang jalan Tegalsari itu penuh dengan mobil berjejer, hehehe.


Jadi kebetulan beberapa waktu lalu suami saya berulang tahun, dan kebetulan juga dia libur, lagi nggak ada liputan pula. Akhirnya ia mengajak kami sekeluarga untuk makan di sini, saya ding yang ngajak, hahaha, dianya iya-iya aja. Soalnya sudah lama nggak kesini dan kangen rasanya. 

Tempatnya open space, nggak ada ac dan semua mejanya menggunakan kayu berukiran khas Jawa, rumah makannya pun bernuansa tempo dulu, jadi menambah otentiknya tempat ini. Makanannya ? Jangan tanya, enak bangeet, lumayan terjangkau juga harganya, secara beberapa waktu yang lalu kami juga pernah makan ke suatu tempat model angkringan Jogja di daerah dukuh kupang, duh harganya selangit untuk tempat yang bagi kami biasa-biasa saja. Harga makanannya dibandrol paling mahal 21ribu rupiah, memang sih variannya hanya mie dan nasi goreng, tapi memang itu yang bikin ngangenin, apalagi bakmi nyemek-nya, haduuh pengen ngacir kesana lagi walaupun parkirannya susah, hehehe. 
Bagian depan Bakmi Jogja Trunojoyo, rumah vintage yang dijadikan rumah makan
Tempat masaknya di bagian depan rumah, jadi kita bisa lihat para "chef" yang membuat sajian mie dan nasi

Furniturenya semuanya dari kayu, otentik tempo doeloe banget ya
Di salah satu sudut rumah makan ada juga tempat penjualan pisang goreng tempo doeloe yang rasa pisang gorengnya memang tidak terlalu manis, tapi disampingnya diberi cocolan gula halus dan brown sugar. 
Kalau mau beli pisang goreng, beli sendiri di pojokan area rumah makan


Selain mie-nya yang fenomenal, yang paling terkenal disini adalah teh pocinya, yang memang disajikan bersama poci dari tanah liat, dan tehnya akan selalu hangat walaupun kita nongkrong lama di sana. 

Teh poci yang menggunakan gula batu
Mie Nyemek fenomenal itu, seharga Rp. 21.000,-

Pluuus, jangan kaget kalau pramusajinya dan semua karyawan disana berbicara pada kita menggunakan bahasa Jawa (Jawa tengahan) Krama (Kromo) pada kita. Walaupun kita membalasnya menggunakan bahasa Indonesia loh. Jangan khawatir kita pasti tau sama tau kok, hehehe. Cuma emang repot ya kalau mereka buka rumah makan seperti ini di pulau lain di Indonesia ya. Tapi toh banyak orang Jawa di bagian lain Indonesia ini :p

Nah segini nih yang kita keluarkan untuk makan 5 orang, lumayan lah ya, setidaknya 30ribuan untuk satu customer :)
Tertarik untuk mampir juga ? Jangan lupa ya kalau mereka jam 9 malam sudah tutup loh, hehehe. Jadi jangan kemaleman sampai di sana :) Dan jangan lupa bawa uang cash, disana nggak bisa gesek debit atau credit card, hehehe. 

I think that's all, thank you
Wassalamualaikum,

No comments:

Post a Comment

MARI-MARI SILAHKAN BERKOMENTAR, GAK BAKALAN RUGI KOK, CUMA TINGGAL COMMENT DOANG ...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...