Thursday, September 7, 2017

Edisi curhat tentang gigi : Cabut Gigi Geraham

Assalamualaikum,

Saya mungkin belum pernah cerita di blog kalau gigi geraham kiri saya bermasalah sejak setahun yang lalu, yang membutuhkan perawatan (perawatan akar atau sering disebut root canal) terus menerus (karena on off ke dokter) dan in the end beberapa hari lalu akhirnya saya (dan dokter saya) memutuskan untuk dicabut aja deh tuh gigi bermasalah.

Sayang sih emang, tapi emang ribet sih ngerawat gigi yang mahkotanya udah krowak hampir setengah bagian. Apalagi sudah mendapatkan perawatan root canal alias akar gigi yang ternyata saat di tambal lepas lagi tidak sampai sebulan (usut punya usut karena tambalannya sulit menyatu dengan bagian bolongnya gigi ini, hehehe)

Akhirnya harus sakit lagi, ngilu lagi, ke dokter terus dan terus, and of course, cost some money juga kan. Tapi Tuhan maha baik, ketemu sama Bu Dokter yang masyaAllah baiknya dan sabar banget nurutin keinginan saya, plus dapet diskon karena tetangga, huwih, gimana gak melting coba. 

Ya sudahlah beberapa minggu lalu, akhirnya saya minta sama Bu Dokter itu untuk cabut aja giginya, daripada ya sungkan ke dokter lagi (dan dapet diskonan terus lah ya) hehehe.

Nah ini nih hasilnya.



Hahaha, serem ya, bisa growak dan growaknya dalem banget loh itu sampai ke akar, makanya sakitnya nggak ketulungan kalau lagi waktunya sakit.

Jadi ya Alhamdulillah sekarang udah lepas dari rasa sakit, semoga gak ada cerita nyut-nyutan lagi gara-gara sakit gigi, karena emang gak bisa dibandingin sakitnya sama sakit hati #eh #nggaknyambung :D Anyway, ini pertama kalinya gigi saya dicabut, semoga untuk yang terakhir kalinya, sakitnya (karena merasa aneh nggak ada gigi lagi) itu bertahan seminggu sih, setelah itu sudah seperti biasa lagi, hehehe.  

Jadi jangan lupa sakit gigi dan periksa gigi berkala ya teman-teman, biar nggak kayak saya :)

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Thursday, August 17, 2017

Mengapa meminumkan obat ke anak itu sulit ?

Assalamualaikum,

Taken from HERE
Liam, anak kami yang bulan ini menginjak usia 4 tahun itu, sampai sekarang masih sulit untuk meminum obat di kala sakit. Kami sadar, mungkin ia trauma terhadap apa yang kami lakukan dahulu saat ia bayi, dan masih terpatri di otaknya sampai sekarang. 

Dulu dia sempat dipaksa meminum obat saat ia tidak mau, seperti membuka mulutnya sampai memaksa obat itu masuk ke dalam. Memang sih saat itu obat yang diberikan dokternya cukup pahit, walaupun toh akhirnya sudah diberi pemanis, pakai rasa sirup stroberi ataupun jeruk. Tapi tetap saja itu tidak membuat Liam menyadari bahwa penting minum obat saat ia sedang sakit, tau nggak sebelum obat itu masuk ke dalam mulutnya dia sudah muntah duluan, bahkan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya, hiks. 

Ternyata rasa traumatis itu terpatri di otaknya sampai sekarang, padahal saat itu ia masih dibawah setahun, kami nyesel kenapa nggak minta manis-manis aja sama dia, atau cara yang paling menyenangkan dalam meminum obat. Baiklah nasi sudah menjadi bubur, sekarang kami harus putar otak saat meminumkan obat saat ia sakit. 

Awalnya saya berpikir, ya bagus sih ya, Liam akan jarang pakai obat oral dan bisa lebih sering pakai obat luar aja seperti minyak telon, essential oil atau berbagai macam remedies dari bagian luar tubuhnya. Tapi kita tau juga sih, yang natural-natural macam itu kan bikin anak kita lebih lamaaaaa sehatnya ya, hehehe. Gimana coba kalau sakitnya akan lebih parah, huks.

Akhirnya saya pakai trik "nggak bilang-bilang" sama Liam. 

Pesan buat Liam : Nak, kalau kamu melihat postingan Ibu ini di saat kamu besar, tolong maafkan Ibu ya Nak, kan supaya bikin kamu cepet sehat ya yaaa? I love youu ... XD 

Jadi saya memasukkan obat puyer yang diberikan oleh dokter ke dalam botol minumnya, duh semacam intel rahasia memasukkan obat tidur ke musuhnya saya ini, hehehe, kidding. Isi di botolnya air putih loh ya, bukan minuman yang ada rasa-rasanya. Air di botolnya tidak saya penuhi, jadi isinya hanya seperempat dari air isi botol tersebut. Lalu kemudian saya masukkan deh puyernya. Saya beri ia minum saat ia telah selesai makan atau sebelum dia tidur. Kerasa nggak ? Kayaknya sih enggak ya, airnya kan banyak banget, tapi yang penting minuman itu habis sih. Anything lah pokoknya yang penting obatnya masuk ke dalam tubuh Liam. Jadi selama setahun ini, itulah cara saya agar obat untuk anak saya bisa masuk ke dalam tubuhnya saat ia sakit. Bukan cara "meminumkan obat" ke anak, hehehe. 

Ada yang punya pengalaman seperti kami ? Share dong ? Saya juga nggak mau sih sampai dia besar dia tetap trauma terhadap obat penyembuh. Bahkan obat sirup yang rasanya manis sekalipun. Saya juga nggak mau pake trik "nggak bilang-bilang" ini selamanya, kan kita tetap harus jujur sama anak :( 

Cara terbaik apa ya itu memberi stimulus pada anak kalau minum obat itu nggak pahit, bikin sembuh, bikin sehat, dan nggak bikin mual. Gimana yaa ....

I  think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Ibu Liam yang galau

Sunday, August 13, 2017

#latepost Short (business) trip to Lombok

Assalamualaikum,

Hari Selasa dua minggu lalu dikabarin Bapak saya kalau saya harus ke Mataram di hari Kamisnya, I was like ... "Apaaa?" jeng jeeeng .... hahahaha

Jadi saya memang punya beberapa pekerjaan disamping mengajar dan menjahit, saya juga "membantu" usaha bapak saya, walaupun kalau benar-benar dibilang membantu juga enggak, hehehe. Kalau ada hal seperti ini membuat saya berpikir apa iya saya harus benar-benar belajar, padahal ya nggak ada passion ke usaha ini, bimbang gini deh jadinya. Kalau saja ada orang yang bisa diberi mandat untuk meneruskan yang lebih kompeten saya rasa saya bukan orang yang tepat :(

So, anyway, kembali ke short trip, this is my an official business trip membawa nama perusahaan Bapak saya dengan rekan beliau ke daerah tempat proyek tersebut diadakan. Jadi cuma saya sama rekan beliau itu. Tanpa suami, tanpa bapak saya apalagi dengan Liam. Totally alone.

Jangan harap kemudian kalau ke Mataram alias Lombok kemudian bisa hore-hore, lah wong ini beneran cuma urusan kerja doang. Pagi berangkat sore pulang (yang dipending malamnya karena alasan ada dokumen yang salah print, bleh)

Hopping dari satu kantor ke kantor lain kemudian diakhiri penandatanganan dokumen di salah kantor terakhir, dimana harusnya kami balik ke Surabaya jam 4 sore, akhirnya harus dipending jam 9 malam. Well, untungnya gara-gara hal tersebut, kami bisa sempatkan untuk kulineran tipis-tipis, dan saya (agak nodong yang nganter) minta diantarkan ke tempat beli oleh-oleh, lumayan lah dapat beberapa kaos buat Liam dan ponakan-ponakan saya, hehehe.

Nggak ada cerita foto-foto tempat eksotis, makan plecing kangkung dan ayam kalasan, naik perahu ke gili trawangan dan gili-gili lain, huhuhu ... ya ya, anggap aja pe-er suatu saat saya, suami dan anak harus kesana kalau jodoh dan rejeki berlebih, aamiiin :D


Makan di Pantai Tanjung Karang atau Taman Loang Baloq ya ? 

Beli oleh-oleh dadakan (dan agak mahal, yang penting dapet oleh-oleh) di Sasaku

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Thursday, August 3, 2017

Proses kreatif itu memang nggak perlu mahal


Assalamualaikum,

Saya ingin menulis hal ini terinpirasi dari bekas obat nyamuk mat elektrik yang beberapa hari ini saya gunakan lagi di kamar (red : gambar di atas :D). Kok bisa ? Ya bisa dong, hahaha.

Kalau dipikir-pikir saya di saat kecil merupakan anak yang cukup kreatif. Jadi begini, kalian ingat tidak dengan mainan bongkar pasang dari kertas yang hits di tahun 90an, ya ampun, ketauan banget kecilnya di masa 90an, hahaha. Jadi saya kalau memainkan permainan bongkar pasang itu merasa kurang afdol kalau si "mbak-mbak"nya itu nggak punya rumah. Jadi saya buatin deh mereka rumah, hubungannya sama mat elektrik apa ? Naaah, gini nih, karena saya anak yang *ehem* nggak dimanja dengan banyak mainan apalagi mainan mahal (dulu sering iri sama temen yang punya mainan ini itu yang nggak dibelikan oleh Mama saya, hehehe), endingnya saya menggunakan barang bekas untuk membuat imajinasi di otak saya menjadi nyata. 

Saya nggak tau kenapa, mungkin saya memiliki bakat penimbun dari Mama saya. Saya suka menimbun barang-barang kurang penting seperti halnya mat elektrik yang mestinya dibuang tapi saya simpan sampai berjumlah banyak di satu kresek, yang kemudian mat elektrik tersebut saya jadikan perabotan untuk rumah si mbak-mbak bongkar pasang dan satu boneka Barbie (bukan barang ori sih, pemberian teman saya saat saya ulang tahun, waktu itu saya senangnya bukan main karena saya punya Barbie, walaupun bukan Barbie beneran, haahaha) agar bisa berkegiatan di dalam rumah. 

Jadi mat-mat tersebut saya tumpuk-tumpuk, ada yang dibentuk jadi sofa, ada yang dibentuk jadi tempat tidur, ada yang dibentuk jadi lemari dan sebagainya. Sebagai alasnya, saya menggunakan triplek bekas, saya lupa bekas apa, sepertinya bekas tempat kue tart pemberian orang. Untuk temboknya saya menggunakan kerdus-kerdus bekas seingat saya, ah saya lupa detailnya, yang pasti semuanya tidak ada yang mainan beneran kecuali si bongkar pasang dan bonekanya. Semua adalah barang bekas. 

Saya heran kenapa dulu Mama saya tidak melarang saya untuk tidak menggunakan mat elektrik tersebut, karena hellow, itu obat nyamuk alias racun nyamuk gitu, yang kalau dipegang-pegang bekasnya akan nempel di tangan kita dan yah karena kita sudah terinformasi dengan baik ya sekarang, kita tau kalau obat nyamuk dimana-mana itu bahaya, hahaha. Tapi orang tua saya sepertinya nggak peduli, dan sepertinya saya cukup bersyukur karena gara-gara hal tersebut pada akhirnya tangan saya tetap gratil membuat sesuatu sampai sekarang. 

Saya juga jadi ingat, saya pernah menggunakan sebuah kotak perhiasan dari plastik tebal yang sudah tidak digunakan oleh  Mama saya. Jaman dulu itu ada sebuah serial di RCTI (karena hanya itu tv swasta yang ada di jaman awal 90an), Mission Impossible (yang sekarang filmnya malah sudah berseri-seri), seperti kita tau Mission Impossible gadgetnya aneh-aneh dan keren, karena mungkin jaman dulu juga nggak ada mainan aneh-aneh seperti sekarang, saya menggunakan otak tersebut sebagai briefcase Mission Impossible yang bisa meledak sewaktu-waktu, hahahaha. Seingat saya, saya bawa kotak tersebut ke sekolah yang saya mainkan bersama teman-teman saya. Imajinasi saya jaman dulu cukup menakjubkan ya :p walaupun tetap saja saya dari dulu dikenal sebagai sosok yang pendiam, dan nggak mau ribut xD

Saat saya sudah kuliah, kegiatan bikin-bikin sesuatu itu malah semakin sering karena mahasiswa desain memang dituntut untuk menjadi orang yang kreatif dan punya tangan gratil, hahaha. Saya bukan orang yang jago gambar sih, jadi kegiatan membuat sesuatu yang nggak perlu bakat menggambar, nilai saya cukup baik lah dibanding kalau saya harus menggambar sesuatu (kecuali gambar teknik, nilai saya cukup baik di mata kuliah itu) 

Dan latihan saya saat kecil tersebut ternyata berguna juga saat saya sudah kuliah, saya diwajibkan membuat maket di setiap semester, yaaay! hahahaha, jadi mungkin Allah mengarahkan saya untuk latihan dari saya kecil agar bisa lebih "master" saat saya sudah menjadi mahasiswa saat itu. Walaupun siiih, saat ini pekerjaan saya agak melenceng dari kuliah saya yang dulunya bikin maket dan mikir tentang desain interior. 

But well, saya sangat bersyukur dengan apa yang saya kerjakan sekarang. Malah saya jadi mikir, ternyata saya punya banyak kebisaan yang mungkin orang lain tidak melatihnya dari kecil, hehehe. Ini kalimat penggugah untuk saya agar lebih semangat berkreasi lagi, biar grit saya makin terasah, hahahaha

Jadi, harus buat apa lagi kita besok :D

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Wednesday, August 2, 2017

Ditampar kata "Grit"

Assalamualaikum,

Beberapa hari lalu saya sempat posting tentang saya kehilangan arah passion saya, dimana saya lebih rajin daydreaming daripada menciptakan produk baru untuk dipromosikan dan dijual.

Kemudian sepupu saya posting sebuah video presentasi TEDx, sebuah acara yang di dalamnya mengundang banyak orang kreatif dan inspiratif di dunia. TEDx yang ini sebenarnya sudah lama sih, tapi karena baru di share sepupu saya, akhirnya baru tau sekarang deh. Anyway, dalam video tersebut ditayangkan sebuah presentasi dari Angela Lee Duckworth, psikolog yang tadinya seorang guru, yang melakukan sebuah survey di beberapa sekolah, akademi militer, dan kantor, kepada guru-guru, murid-murid dan karyawan disana. Penelitiannya adalah mana dari mereka yang akan bertahan di dalam lingkungan mereka, apakah mereka akan lulus dengan nilai yang mereka impikan, bertahan untuk menjadi pengajar yang baik ataupun menjadi karyawan dengan penghasilan tertinggi.  

Ternyata hal ini tidak berhubungan dengan modal besar, mimpi yang tinggi apalagi IQ. Hal yang paling penting ternyata adalah GRIT atau Gritty. Saat saya search di google translate (hehehe, kata baru nih bagi saya) ternyata Grit berarti Menggertakkan. Kalau saya sebenarnya punya kata yang mungkin cukup cocok sebagai arti kata Grit, saya menyebutnya NGOTOT, hehehe.
taken from HERE
Karena dari penjabaran Dr. Duckworth tersebut, saya menangkap orang yang memiliki Grit yang tinggi, adalah orang yang nggak gampang menyerah. Walaupun dia tidak pintar, walaupun dia tidak berIQ tinggi, dia tidak kaya, bermodal besar dan lainnya, tapi dia tidak gampang menyerah. Kalau pertama kali tidak sukses, dia akan bangun untuk mencoba lagi dan lagi, sampai akhirnya berhasil.   

Berikut adalah ucapan Dr. Duckworth yang bikin saya merasa ditampar >_<
Grit is passion and perseverance for very long term goals. Grit is having stamina. Grit is sticking with your future, day in, day out, not just for the week, not just for the month, but for years. And working really hard to make the future a reality. Grit is living live like it's a marathon, not a sprint. 
Talent doesn't make you gritty!  (ini kalimat yang nampar banget, hahaha)
We need to take our best ideas, our strongest intuitions, and we need to test them. We need to measure whether we've been successful, and we have to be willing to fail, to be wrong, to start over again with lessons learned.
In other words, we need to be gritty, about getting our kids grittier.  
Hal tersebut sepertinya memang nyambung untuk saya atau teman-teman yang merupakan orang tua jaman sekarang, yang kita tau tantangannya besar sekali untuk membuat anak kita bisa survive dalam hidupnya, untuk punya passion yang sesuai dengan dirinya, tidak gampang menyerah and stick with it. Atau ya ngotot dalam hal yang positif, yakin bahwa apa yang mereka yakini pasti bisa didapatkan (with positive ways, of course) 

So, untuk beberapa hal saya merasa saya belum se-gritty itu untuk mencapai mimpi saya, huhuhu. Punya beberapa teman crafter yang memiliki grit yang tinggi yang saya kagumi "kengototannya" dalam mencapai mimpinya, tapi hal tersebut belum ada di dalam hidup saya, apakah mungkin bisa saya dapatkan, pasti bisa, tapi saya harus mengembangkan mindset tersebut di otak saya terus menerus. Meanwhile, mungkin grit saya ini bisa saya terapkan untuk mendidik anak saya dulu. Untuk beberapa case saya merasa cukup berhasil untuk itu :)

Teman-teman bagaimana ? 

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Monday, July 31, 2017

Ke Solo dan Jogja, dari kehilangan ponsel sampai main ke rumah Hobbit

Assalamualaikum,

This is very very very veeeerrrry latepost, hehehee, saya ke Solo dan Jogjanya sudah sebulan yang lalu, tapi akhirnya baru akan nulis apa yang terjadi disana sekarang. Sebenarnya sudah beberapa foto yang saya posting di Instagram sih, like always, tapi rasanya kurang afdol kalau tidak saya posting di sini juga. 

Jadi seperti biasa, setiap Lebaran saya selalu pulang ke kampungnya suami di Sragen coret, dimana desanya sebenarnya lebih dekat dengan Solo dibanding ke Sragen, makanya saya selalu bilang pulang ke mana kalau Lebaran ? ya ke Solo, nggak ngaku banget, hahaha. 

Anyway, sesuai dengan judulnya, kami kehilangan ponsel saat perjalanan kami ke Solo waktu itu. Bukan ponsel aktif kami sih sebenarnya, jujur saja kami memberi Liam ponsel "mainan", ponsel beneran sih, tapi cuma untuk Liam melihat video edukasi atau video lama jaman dia bayi sampai dua tahun. Intinya sih ponsel lama saya, yang kemudian sudah tidak saya gunakan lagi, dan saya copot sim cardnya untuk dipakai Liam sewaktu-waktu dalam waktu senggangnya. Eh lah dalah, ponsel itu ketinggalan di kereta pertama kami berangkat ke Solo, huhuhuhu. Ketinggalan means, jatuh di bawah kursi dan nggak sadar kalau ponsel itu tidak ada di tas saat kami sudah sampai di rumah orang tua suami. Nyesek hati ini, saya belum pernah kehilangan ponsel sebelumnya (dan jangan sampai lagi sih) saat tau ponsel itu tidak ada di tas, ya rejeki orang yang menemukan sih ya, karena toh di dalamnya nggak ada simcard dan alamat kami, jadi kalaupun ada yang positif mau mengembalikannya hal tersebut bisa dilakukan. But unfortunately, nope 

Anyway, baiklah kami sudah ikhlas, nggak perlu dibahas lagi (yang tadi dibahas supaya pengingat kami agar lebih hati-hati menjaga barang berharga kami) 

Sesampainya di Solo, kami langsung meluncur ke rumah mertua saya, di desa Kalijambe, Liam bertemu oom-oomnya (oomnya yang masih berumur 8 tahun dan oomnya yang sudah lulus SMA) Liam senang sekali kalau bertemu dengan oom kecilnya itu, disana dia jarang makan dan tidur gara-gara main sama si Oom, hahaha. Ya namanya anak kecil, harap maklum, liburan itu bahagianya kebangetan sampai lupa kalau belum makan dan lupa kalau waktunya tidur. Disana Liam juga iseng belajar mancing, mancingnya sih di kolam lele punya Mbah Akungnya sendiri, tapi tetep aja seneng walaupun kolamnya nggak besar. 



Seperti biasa kalau sedang pulang kampung ke sana, kami kalau nggak jalan-jalan ke Solonya (ke Soto Gading dan Keraton Kasunanan) ya ke Museum Sangiran (yang jaraknya nggak sampai 2 km dari rumah mertua) itu-itu mulu tiap tahun, lah ya kudu piye, hahaha, harusnya lebih getol nyari wahana baru atau tempat kuliner baru kali ya, tapi suami mah gak doyan jalan, doyannya kerja atau kalau nggak kerja ya nongkrong di warung kalau enggak bobok di rumah, haish banget, nggak tau apa ya istrinya merindu liburan beneran xD

Tapi tahun ini Alhamdulillah tujuan kami tidak hanya pulang ke rumah mertua, tapi kami juga liburan ke Jogja, yaaay! 

Di Jogja kebetulan ada keluarga adiknya suami yang tinggal di sana, jadi selain silaturahim, kami tentu saja jalan-jalan bareng dooong. Liam pun akhirnya ketemu deh sama Oom Tante dan sepupunya, yang ketemunya baru saat dia bayi doang, huhuhu, akhirnya ya Liam ketemu juga sama adeknya Bapak :D

Di Jogja, kami jalan ke beberapa spot di daerah Jogja, antara lain Taman Pintar Yogyakarta, Nanamia Pizzeria Tirtodipuran, Museum Gunung Merapi, The Lost World Castle, Angkringan Klangenan Patangpuluhan, sama Malioboro tentu saja, eh iya, kami memang cuma ke situ, wong disana cuma 3 hari 2 malam, jadi terbatas banget waktunya, hehehe. Padahal ya pengen kesana kemari, cuma waktunya nggak bisa ditambahin lagi, kan tiket pulang sudah di tangan dan suami akhir minggu udah kerja, jadi harus puas deh, hehehe. 

Eh iya, ngomong-ngomong soal rumah Hobbit, sepertinya lagi heits banget deh di setiap tempat wisata ada spot foto berupa rumah hobbit seperti yang kami singgahi waktu itu. Kebetulan kami menemukannya di depan The Lost World Castle, htmnya rumah hobbit 10ribu rupiah, lumayan lah untuk pengalaman foto-foto di rumah hobbit, tanpa harus ke Selandia Baru, hehehe.


Kalau htm The Lost World sih 25ribu, dengan berbagai spot foto menarik (yang gratis maupun bayar), katanya bakalan naik harganya sampai 60ribu rupiah saat pembangunannya benar-benar selesai.

tuh kan beneran Rumah Hobbit :D
Tetep Alhamdulillah keturutan ke Jogjanya, semoga tahun depan bisa ke sana lagi dengan tujuan yang lebih banyak dan lebih lama :D

Bahkan kami punya wacana untuk jalan ke daerah Karanganyar, Boyolali dan sekitarnya, cumaaa .... ya masih mikir-mikir kendaraannya gimana, secara kami berdua ini kurang doyan nyetir mobil jauh-jauh, kalaupun mau sewa kendaraan mending sewa motor (itupun suami doang yang bisa nyetir, hahaha) nah kalau daerah seperti Karanganyar, kira-kira dapet nggak ya sewa motor begitu ? Ada yang punya pengalaman ? #tancapgas #tanyatanyawalaupunmasihlama :D

Tadinya saya mau posting banyak foto, tapi males ngedit watermarknya, jadi saya cuma sertakan satu gambar dan gambar lain yang sudah saya post di instagram saya saja ya. Punten, hehehe, ini cuma pengingat aja tahun ini saya liburan ke Jogja, yaay :D

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Sunday, July 30, 2017

Kehilangan arah

Assalamualaikum,

Beberapa bulan ini jujur saja saya sedang kehilangan arah mau dibawa kemana karir saya yang saya gadang-gadang menjadi passion saya itu dibawa. Saya suka crafting, saya masih sangat suka melihat tutorial-tutorial membuat ini itu, melihat teman-teman crafter saya yang masih aktif menmbuat produk ciptaan mereka, tapi jujur saja saya kehilangan minat untuk membuat hal yang sama terus menerus. Nah kalau saya kemudian menemukan ide yang out of the box sih oke, ini ujung-ujungnya saya merasa ah, kalau saya buat ini kayaknya biasa aja, ah kalau buat ini kayaknya juga nggak bakalan ada pasarnya, ah barang masih banyak nih, kapan lakunya, dan endesbre endesbre. 

Saya sampai searching di google, bagaimana cara menemukan ide baru yang brillian, beberapa situs mengatakan katanya saya harus jalan-jalan, saya harus searching di situs-situs kreatif macam behance atau pinterest, ujung-ujungnya di satu situs menyebutkan saya harus bersih-bersih workspace saya. Hahaha, atau mungkin sebenarnya hal kecil bisa bikin buntu ide ya, contohnya karena workspace kita nggak pernah benar-benar bersih. Entahlah, saya juga belum minat untuk membersihkannya karena "merasa" kekurangan tempat, ya gimana sih ya, masih numpang #alesanlagi #alesanterus hehehe

Lalu kemudian saya jadi lebih sering membuatkan anak saya mainan menggunakan barang-barang bekas yang saya temukan di rumah. Senang sih masih dianggap kreatif, tapi saya belum pede "menjual" ilmu saya yang cethek untuk membuat mainan anak seperti yang saya buat. Saya masih merasa loh kalau semua Ibu itu bisa melakukannya, nggak perlu diajari atau bahkan nggak perlu membeli jadi dari orang atau dari toko tertentu. 

Mungkin saya juga kurang promosi, yang membuat usaha saya akhirnya jadi tersendat-sendat, then again beberapa teman saya pun ada yang mengalami hal semacam saya. Sedang nggak ada waktu untuk membuat ini itu, sedang kehilangan passion juga, ada yang lebih suka jualan barang jadi dibandingkan membuat sesuatu. 

Tapi jujur, saya juga nggak mau passion itu hilang begitu saja, saya mau tetap membuat sesuatu dimana bisa saya jual atau tunjukkan hasilnya pada orang lain. Mungkin saya memang harus bersabar dan tetap berusaha cari ide terbaik apa yang bisa saya lakukan agar usaha saya tidak mandeg di tengah jalan. Semoga saya nggak lupa saya masih punya keinginan untuk membuat usaha ini menjadi besar.

Mungkin, saya butuh partner yang bisa membuat saya tetap holding on, hmmm... *mikir sambil pegang dagu*

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum,

Wednesday, June 21, 2017

Gara-gara Kabe-don, kenalan sama Kento Yamazaki

Assalamualaikum,

Kalian yang demen Japanese Culture atau setidaknya doyan nonton dorama Jepang atau anime-anime Jepang, mungkin paham apa itu Kabedon, nah kalau ada yang belum tau, sebelum saya menjelaskan apa itu Kabedon saya akan cerita dulu kenapa kok tiba-tiba pengen nulis ini, hehehe.

Jadi beberapa waktu lalu saya tidak sengaja membaca artikel dari link yang di share oleh teman saya di salah satu media sosial, nah di dalam artikel itu ada artikel lain yang menceritakan seseorang yang membeli tempat salt shaker unik dengan tema Kabedon di Jepang. Gambarnya kayak yang di bawah nih.

Diambil dari sini
Hahaha, unik banget yaaa ,,,, nah, saya agak paham sih akhirnya Kabedon maksudnya apa, tapi kemudian saya penasaran, arti sesungguhnya Kabedon itu apa. Saya googling dooong, hehehe, UGM banget ya, Universitas Googling Mandiri xD.

Jadi menurut artikel-artikel ini Kabe artinya Tembok, sedangkan Don, itu suara "duk" saat kita memukul sesuatu (di sini maksudnya memukul tembok). Nah di beberapa anime dan dorama Jepang sering banget menggunakan adegan ini, bukan cuma beberapa sih, mostly kayaknya, hahaha. Kalau dalam istilah anime (yang barusan saya googling juga) yang sering menggunakan adegan ini adalah Shoujo Anime, anime yang biasanya disukai oleh pembaca perempuan dimana kisahnya walaupun fantasi atau action ada cerita cintanya, atau romantis, yang bikin deg-deg'an perempuan gitu maksudnya. Setelah saya pikir-pikir, adegan seperti ini juga cukup sering digunakan di beberapa K-drama, alias Drakor, hehehe. Intinya mah kalau bikin cewek deg-deg'an akan dipake untuk buat dimasukkan ke drama-drama ini ya :D

Okay, setelah paham tentang kabedon, saya akhirnya buka youtube nih, hihihi, cari keyword kabedon, dan menemukan adegan multiple kabedon dari salah satu film Jepang bergenre remaja, yang ternyata disadur dari salah satu komik dan anime Jepang, Heroine Shikakku. Live action dari anime ini diberi judul Heroine Disqualified atau ada yang menyebut No longer Heroine di beberapa website info film-film Jepang dan Korea. Adegan Kabedon-nya sih antara Kentaro Sakaguchi dan Mirei Kiritani, nah yang dua orang ini saya barusan kenalan semua nih, hahaha. Langsung naksir berat sama Dek Kentaro ini, cakep ye xD #alaydetected

Dek Kentaro Sakaguchi, diambil dari situs ini


Akhirnya setelah itu, saya cari dong film ini di kissasian.com, langsung deh nonton film ini. Dan selain kenalan sama Kentaro dan Mirei, naaah ... ketemulah saya dengan si Kento Yamazaki, hahahaha. Dia menjadi tokoh utamanya by the way, sebagai Rita Terasaka. Walaupun sebenarnya saya lebih naksir Kentaro sih (apeu siiih, hahaha). 

Intinya sih membuat saya penasaran sama film-film lain yang mereka mainkan, terus akhirnya nemu di Viu serial drama yang dimainkan oleh si orang-orang ini, serial A girl and three sweethearts. Tokoh utamanya sama persis, Mirei Kiritani dan Kento Yamazaki, nah di serial ini Kento, menurut saya, jauh lebih menarik sih daripada tokoh di film sebelumnya yang saya lihat, walaupun secara penokohan mirip, dingin dan sok-sok nggak suka gitu, hahaha.

Dek Kento Yamazaki, diambil dari situs ini
Kento ini mengingatkan saya sama Hideaki Takizawa, nggak mirip sih secara fisik, tapi mereka terkenal di usia yang sama saat itu, entah sekarang kemana ya si Takki ini. Iya, saya tua banget ya bawa-bawa Hideaki Takizawa ke tulisan ini, hahaha. Karena emang terakhir saya tertarik melihat Dorama Jepang sudah lamaaaaaa banget, dan itu yang main Takki, kalau ada yang ingat Strawberry on the shortcake, nah itu tuh, lama kaan? Selain juga dorama Jepang cukup jarang ada di tv lokal, Korean wave mungkin lebih kerasa di Indonesia. Tapi untung saya terselamatkan dan mengenal mereka, hahaha, apa siiih buuuk xD

Mungkin saya memang butuh hiburan baru, selain melihat klisenya serial-serial Korea yang saya lihat di aplikasi atau saya lihat di tv kabel, atau mungkin saya selemah itu melihat adek-adek berwajah oriental yang ganteng, huwaahahaha .... Sadar Ibuuuk ...

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Friday, June 9, 2017

Tutorial : Membuat Wayang Profesi dari kertas

Assalamualaikum,

Hai, man teman, karena saya janji sama beberapa teman saya untuk repost tutorial bagaimana cara membuat wayang orang atau profesi dari kertas tebal atau karton, saya niatin untuk menulisnya pagi ini ^_^

Sebenarnya ide ini saya dapatkan dari salah satu buku kreatif yang saya beli beberapa waktu lalu, judulnya Catatan Mainan DIY Anak (main pintar tidak perlu mahal), yang dikarang bareng-bareng oleh lima ibu kreatif yang salah satunya adalah @iburakarayi. 

Dalam buku tersebut wayang yang dibuat adalah versi dokter, karena saya ingin lebih memperkenalkan profesi Bapaknya Liam ke Liam, akhirnya saya buat profesinya seorang Reporter TV :)

Penampakan bukunya
Wayang dokter di bukunya
Alat dan Bahan :
- Karton bekas kotak susu / sereal (saya pakai bekas kotak sepatu)
- Spidol besar
- Pensil warna (atau pewarna lainnya)
- Gunting
- Selotip kertas
- Lem uhu
- Sumpit kayu (2 pasang) (saya pakai tusuk sate yang jumlahnya 6, biar tebel saya dobelin pakai selotip kertas)
- Paper fastener atau simpul yang terbuat dari benang wool (saya pakai benang)
- Benang tebal seperti benang rajut, benang sulam (didobel dua) atau benang wool
- Benang sulam besar

Cara Membuat : 

1. Buat gambar yang ingin dibuat, kalau di buku sih ada templatenya ya, saya buatnya lebih besar daripada templatenya. Warnai menggunakan pensil warna. Kemudian gunting sesuai pola.
Gambar di karton bekas
Warnai gambar yang sudah kamu buat
Setelah digunting dan diatur sesuai dengan letaknya
2. Untuk menyambung potongan lengan atas dan bawah, gunakan paper fastener atau simpul besar. Tumpuk kedua potongan tangan dan tusuk kira-kira di bagian tengah tumpukan 'siku' wayang. Tarik kuat kemudian buat simpul sekali lagi di sisi sebaliknya.
3. Lakukan hal yang sama untuk pundak dan kaki.


4. Untuk memasang tongkat pengendali pada telapak tangan buat simpul benang lalu tusuk di bagian tengah telapak tangan tokoh wayang, kemudian lilitkan sisa benang yang ada di jarum ke sumpit, beri sedikit lem uhu dan untuk lebih kuatnya pakai selotip kertas (tapi selotipnya jangan nempel di pola lengannya ya, ntar wayangnya nggak bebas geraknya, sudah nyoba begitu soalnya, hehehe)
5. Ulangi untuk tongkat pengendali tangan sebelahnya.
6. Untuk tongkat utama wayang (bagian punggung wayang), ambil sepasang sumpit dan tempel di bagian tengah belakang wayang menggunakan lem uhu. Lapisi lagi dengan selotip kertas supaya lebih kuat. 

7. Wayang siap dimainkan :)

Nah mainnya terserah kalian, mau dongeng tentang Bapak yang belum pulang karena kerjanya selalu full time #eh, hehehe #curhat, atau ya berikan dongeng menyenangkan tentang profesi jurnalis, atau apapun wayang profesi yang kamu buat :)

Selamat mencoba

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Thursday, May 18, 2017

Tayangan televisi untuk anak : Bagus dan tidak itu beda tipis

Assalamualaikum, 

Maaf judulnya kepanjangan, tapi supaya orang jelas dengan isinya, jadi saya nulisnya agak lengkap. 
Jadi saya lagi galau nih, hehehe, galau karena tayangan televisi untuk anak, wether itu Indonesia ataupun barat. 

Saya sadar membuat sebuah tayangan edukatif untuk anak itu sulit, nggak hanya anak, tayangan sinetron yang orang anggap sampah aja juga nggak gampang, harus nurutin kemauan pemirsa kan nggak gampang. Seperti beberapa kegelisahan Ibu-ibu Indonesia di luar sana, termasuk saya. Alhamdulillah sih, anak saya nggak pernah saya tontonin sinetron, eh pernah ding, sinetronnya NET kebetulan, itupun sekarang udah nggak sering, dan menurut saya sinetron-sinetron di NET nggak seperti sinetron kebanyakan di stasiun lain yang you know lah, panjang, sangat hitam putih dan kurang mendidik (yang tetep bagi saya nggak gampang buatnya, wong saya juga nggak bisa buat, hehehe)

Kegelisahan saya tidak hanya soal sinetron itu tadi, untungnya saya nggak terlalu suka dan akhirnya anak saya pun tidak pernah menontonnya. Kegelisahan saya justru tertuju pada tayangan yang notabene dianggap sebagai tayangan untuk anak. Salah satu contohnya Adit Sopo Jarwo. Saya tau membuat animasi itu sulit, sangat sulit, apalagi yang bentuknya 3 dimensi, butuh render berhari-hari hanya untuk beberapa menit pergerakan kartunnya. Tampilannya memang bagus untuk ukuran tayangan kartun Indonesia, namun tidak membuat saya tutup mata terhadap ceritanya. 

Adit & Sopo Jarwo | diambil dari SINI
Bagi saya tayangan ini terlalu hitam putih, misalnya saja hal yang sempat saya buat statusnya di salah satu sosial media saya beberapa waktu lalu. Saya menyebutkannya begini, "Kenapa sih bagi Bang Haji Udin, Bang Jarwo itu salah mulu, bahkan sebelum ditanya masalahnya apa"  

Jadi selama penayangan stripping kartun tersebut saya jadi sadar satu hal, kenapa ya Bang Haji Udin ini sangat putih dan Bang Jarwo itu sangat hitam, ya bukan jahat sih, tapi karakternya menjadi orang yang akan selalu salah aja deh pokoknya. Entahlah, saya jadi berpikir, saat anak kecil melihat orang yang memiliki wajah seperti Bang Jarwo akan bilang bahwa orang tersebut tabiatnya jelek, licik dan pantas ditakuti. Dan ketika melihat orang berpeci dan menggunakan baju koko, pasti orang yang sangat bijaksana. Lah dari kecil udah diajarin mengkotak-kotakkan orang dong ya? 
Lalu si Dennis dan ketakutannya pada semuuuuaaa hal, hfftth .... rasanya gregetan melihat si tokoh chubby ini selalu berlindung di ketiak sahabatnya, tanpa sadar ia bisa berbuat lebih dalam hidupnya. Yah well, yang ini saya sebenarnya agak takut anak saya jadi seperti Dennis ~.~"

Tapi saya tetap mempertontonkan ini ke anak saya, karena jujur saja anak saya maksa untuk nonton. Dan well, memang beberapa di antaranya ada masukan positif, salah satunya keberagaman suku dan budaya, penting dong di era yang sekarang ini, ya kan ya kan? 
Plus, saya memang belum punya daya upaya untuk upgrade tayangan televisi saya ke tv kabel premium. Pernah premium-pun yang ditonton anak saya juga bukan tayangan kartun, nyesek banget, hahahaha. 
Happy Holy Kids | diambil dari SINI
Ada satu tayangan favorit lagi bagi anak saya selain Adit Sopo Jarwo (ASJ) ini, yaitu  Happy Holy Kids (HHK), tidak seperti ASJ, HHK ini formatnya wayang boneka. Bagi saya tayangan ini bagus dalam hal konsep mengajarkan kebaikan, tapi namanya juga manusia, kayaknya ada aja yang bikin nggak sreg. Seperti pengucapan kata-kata yang asing bagi Liam yang harusnya tidak disebutkan anak seusia Liam, misalnya saat ada tayangan berantem sama teman, yang Liam tiru justru kalimat saat berantemnya, bukan endingnya dimana mereka berbaikan, hhh .... hahaha, repot ya, makanya saya bilang bagus dan tidak itu beda tipis. 
Keluarga Somat | diambil dari SINI
Tayangan lain, Keluarga Somat (KS), yang ini secara visual mungkin di bawah ASJ, rendernya nggak maksimal, tapi buat saya, KS itu bagus loh, hahaha, entahlah mungkin saya suka ceritanya yang tidak terlalu hitam putih, semua pernah punya kesalahan gitu maksudnya, dan ceritanya berkembang tiap minggunya. Patut diapresiasi lah ya. 
Upin&Ipin dan kawan-kawan | diambil dari SINI
Upin Ipin ? Jangan tanya, seperti kebanyakan anak Indonesia lain, tayangan Upin Ipin selalu menjadi favorit buat Liam, hehehe. Emang bagus banget sih ya, dan itu tadi, cerita yang selalu berkembang mungkin menjadi hal yang positif dalam tayangan untuk anak. Mengikuti hal yang sedang terjadi saat ini, dan belajar hal baru lainnya. 

Semoga tayangan anak di Indonesia semakin beragam dan akan jauh lebih baik, karena mau tidak mau kita memang bergantung sama media, yang paling dekat ya televisi (kalau saya sih, soalnya saya nggak pernah ngasih tau tentang youtube ke Liam, hihihihi)

Intinya sih mau tayangan apapun, di usia anak yang masih belia ini kita harus selalu always mau kudu must nemenin dia nonton dan memberi penjelasan yang baik dan yang buruk. Dan mungkin sistem range usia untuk tayangan bisa diberlakukan lebih detail. Misalnya untuk anak, nah anak usia berapa tuh, anak kan dari usia 0-12 tahun bisa dianggap anak, dan cara pandang anak 3 tahun dan 12 tahun beda, kata-kata dan kalimat yang mereka pahami juga berbeda. Ini urusan Komisi Penyiaran Indonesia nih kayaknya, tapi tetep aja orang tuanya kan harus pintar milih tayangan. 

Ini apa sebenarnya semua harus dibebankan pada orang tua ya (YA IYALAAAH) hahaha. Mau anaknya cerdas, ya ortunya harus berpikir cerdas, mau anaknya jadi anak kebanyakan ya sudah go with the flow aja kayak ikan mati di sungai, wiiih sadis perumpamaannya, hahaha. 

Yasallaaaam ... indahnya jadi orang tua (sambil garuk-garuk kepala)

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 

Wednesday, April 12, 2017

#latepost Makan di Bakmi Jogja Trunojoyo

Assalamualaikum,

Sebenarnya ini postingan yang harusnya saya share 2-3 minggu yang lalu, tapi karena keterbatasan waktu (cih, sok sibuk, bilang aja males buka laptop) akhirnya baru sempat menulis sekarang.

Ini sebenarnya kesekian kalinya kami makan di Bakmi Jogja Trunojoyo, tapi baru sekarang kami datang ke tempat barunya di jalan Tegalsari, Surabaya. Menurut judulnya kan Bakmi Jogja Trunojoyo itu harusnya di jalan Trunojoyo, sudah setahunan ini pindah ke jalan Tegalsari.

Tempat ini tidak pernah sepi pelanggan, parkiran selalu penuh (itupun sebenarnya tidak ada tempat parkir khusus), semua pelanggan parkir di pinggiran jalan Tegalsari, alhamdulillah kalau dapat parkiran, walaupun harus jalan berapa puluh meter dari tempat yang dituju. Pelanggannya jarang yang naik motor kali ya, semuanya bermobil, jalan sepanjang jalan Tegalsari itu penuh dengan mobil berjejer, hehehe.


Jadi kebetulan beberapa waktu lalu suami saya berulang tahun, dan kebetulan juga dia libur, lagi nggak ada liputan pula. Akhirnya ia mengajak kami sekeluarga untuk makan di sini, saya ding yang ngajak, hahaha, dianya iya-iya aja. Soalnya sudah lama nggak kesini dan kangen rasanya. 

Tempatnya open space, nggak ada ac dan semua mejanya menggunakan kayu berukiran khas Jawa, rumah makannya pun bernuansa tempo dulu, jadi menambah otentiknya tempat ini. Makanannya ? Jangan tanya, enak bangeet, lumayan terjangkau juga harganya, secara beberapa waktu yang lalu kami juga pernah makan ke suatu tempat model angkringan Jogja di daerah dukuh kupang, duh harganya selangit untuk tempat yang bagi kami biasa-biasa saja. Harga makanannya dibandrol paling mahal 21ribu rupiah, memang sih variannya hanya mie dan nasi goreng, tapi memang itu yang bikin ngangenin, apalagi bakmi nyemek-nya, haduuh pengen ngacir kesana lagi walaupun parkirannya susah, hehehe. 
Bagian depan Bakmi Jogja Trunojoyo, rumah vintage yang dijadikan rumah makan
Tempat masaknya di bagian depan rumah, jadi kita bisa lihat para "chef" yang membuat sajian mie dan nasi

Furniturenya semuanya dari kayu, otentik tempo doeloe banget ya
Di salah satu sudut rumah makan ada juga tempat penjualan pisang goreng tempo doeloe yang rasa pisang gorengnya memang tidak terlalu manis, tapi disampingnya diberi cocolan gula halus dan brown sugar. 
Kalau mau beli pisang goreng, beli sendiri di pojokan area rumah makan


Selain mie-nya yang fenomenal, yang paling terkenal disini adalah teh pocinya, yang memang disajikan bersama poci dari tanah liat, dan tehnya akan selalu hangat walaupun kita nongkrong lama di sana. 

Teh poci yang menggunakan gula batu
Mie Nyemek fenomenal itu, seharga Rp. 21.000,-

Pluuus, jangan kaget kalau pramusajinya dan semua karyawan disana berbicara pada kita menggunakan bahasa Jawa (Jawa tengahan) Krama (Kromo) pada kita. Walaupun kita membalasnya menggunakan bahasa Indonesia loh. Jangan khawatir kita pasti tau sama tau kok, hehehe. Cuma emang repot ya kalau mereka buka rumah makan seperti ini di pulau lain di Indonesia ya. Tapi toh banyak orang Jawa di bagian lain Indonesia ini :p

Nah segini nih yang kita keluarkan untuk makan 5 orang, lumayan lah ya, setidaknya 30ribuan untuk satu customer :)
Tertarik untuk mampir juga ? Jangan lupa ya kalau mereka jam 9 malam sudah tutup loh, hehehe. Jadi jangan kemaleman sampai di sana :) Dan jangan lupa bawa uang cash, disana nggak bisa gesek debit atau credit card, hehehe. 

I think that's all, thank you
Wassalamualaikum,

Tuesday, April 11, 2017

#ceritaliam : Threenager dan setangkup roti

Assalamualaikum,

Sebagai orang tua baru yang "kekinian", yang pertanyaan apapun tentang hidup kita tanyakan pada google, hehehe, tentu saja saya juga sering cari-cari artikel yang berhubungan dengan apa yang awam dilakukan anak seusia Liam. Saya menemukan perbendaharaan kata baru saat Liam menginjak usia 3 tahun Agustus lalu, Threenagers, alias remaja 3 tahun, hahaha. Seperti yang yang kita tau kalau remaja itu keinginannya agak random ya, drama pula gitu, nah gimana kalau hal tersebut digabungkan dengan anak 3 tahun, yang drama adalah mak bapaknya! #pusingpalaemak xD 

Contohnya beberapa waktu ini, Liam hobi makan roti pakai meises pagi-pagi, kemudian setelah saya membuatkan eh ternyata rotinya robek di bagian bawahnya. Dramanya, Liam teriak-teriak sampai nangis minta ganti tuh roti jadi baru, padahal semua roti emang pada robek dikit gitu, saya yang mbuatin jadi ikut marah-marah dong. Sampai saya sadar emang hal tersebut nggak bisa dihindari, emang dasarnya anak usia segitu dramanya bukan main, kayak masalah kecil bisa jadi problem luar biasa dalam hidupnya, seperti remaja jaman sekarang kan ? xD 

Awalnya saya memang takut kalau hal tersebut dituruti dan diteruskan, anaknya bisa jadi manja dan idealis. Tapi setelah membaca beberapa artikel parenting yang saya sebutkan di awal itu, well, mungkin saya harus agak selow sedikit, iya saya akan terus memberikan pengarahan kalau hal ini sama saja, atau membuat aturan-aturan tertentu dimana mau tidak mau dia harus menaatinya, tapi nggak pake kepala panas tentunya. Karena kontrol emosi saya agak kurang baik sih, huhuhu, padahal dia masih 3 tahun, dan pastinya banyak yang harus ia pelajari yang nggak bisa secara instan. Memang menyesal baru belakangan, dan belajar dari semua pengalaman ini, intinya jadi orang tua itu harus sabar. 

Menurut saya tegas boleh banget, tapi jangan marah-marah juga karena hal kecil. Hahaha, ini kok jadinya tentang saya lagi ya, padahal harusnya tentang threenager xD Tapi memang kok yang paling tau anak kita seperti apa dan mau diapain ya orang tuanya, jangan orang lain ikut ngatur-ngatur kehidupan keluarga kita toh ya, hahaha,

Anyway ini salah satu artikel yang saya baca, semoga membantu atau jadi merasa punya teman senasib sepenanggungan, hehehe --> Artikel Threenager

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Tuesday, March 21, 2017

#ceritaliam : Toddler Night Terrors

Assalamualaikum,

Judulnya serem ya, tapi ternyata beneran ada loh, dan sepertinya hal ini juga terjadi pada Liam. 
Jadi semingguan ini, Liam hampir selalu bangun dari tidur malamnya, dan kemudian menangis histeris, dan nggak akan berhenti sampai dia mau masuk lagi ke dalam kamar. 

Awalnya kami pikir ada sesuatu terjadi di kamar, seperti melihat hal-hal ghaib atau apalah yang bagi kami itu menyeramkan. Tapi kata Bapaknya (yang katanya bisa merasakan hal-hal ghaib) nggak ada apa-apa di dalam kamar. Oh baiklah, solusi saya akhirnya mengajaknya baca doa sebelum tidur tiap hari. Tapi anehnya setiap jam 7 sampai jam 8 malam, ia masih selalu "terbangun" dan kemudian menangis histeris. 

Lalu beberapa hari lalu saya tidak sengaja membaca artikel di salah satu majalah parenting, membahas tentang permasalahan pada anak-anak di usia tertentu. Kemudian mata saya tertuju pada salah satu subjudul, Toddler Night Terrors, jeng jeeeeng .... hehehe. Gara-gara baca judul subartikel tersebut, saya jadi keingetan apa yang terjadi pada Liam beberapa hari ini. 

Benar saja, ternyata apa yang ditulis di artikelnya pas banget apa yang saya rasakan terjadi pada Liam. Kata artikel tersebut, Night Terrors bisa terjadi pada anak usia 2-3 tahun, yang dimana hal ini berbeda dari mimpi buruk biasa.  Kalau menurut cuplikan artikel yang saya lihat di babycenter.com
According to sleep expert Jodi A. Mindell, author of Sleeping Through the Night, the easiest way to tell the difference between a night terror and a nightmare is to ask yourself who's more upset about it the next morning. "If your child is more agitated, she had a nightmare. If you're the one who's disturbed, she probably had a night terror," says Mindell.

In other words, the "terror" of a night terror lingers far longer in the parent who watched it than in the child who lived it.
Memang benar ternyata, waktu saya tanya paginya, ada apa sama Liam kemarin malam. Liam seperti nggak peduli apa yang saya tanyakan. Selow aja gitu, eh kitanya yang bingung ada apa sama Liam semalam, hahaha. Jadi bener kan, terrornya lebih ke kitanya dibanding ke anaknya xD

Menurut artikel itu pula, yang katanya sih belum diteliti keampuhannya. Cara terbaik untuk membuat anak tersebut tidak mengalami Night terrors lagi adalah dengan membangunkannya 15-20 menit sebelum kejadian night terrors tersebut terjadi. Berhubung Liam memang dalam seminggu ini tiap hari selalu terbangun dan menangis histeris di waktu dan jam yang sama, sepertinya hal tersebut bisa saya coba. Salah satu tipsnya lagi adalah dengan memberikan jadwal yang konsisten setiap harinya, dari mandi, tidur dan makannya. Ehm, ini agak sulit, tapi semoga bisa dicoba terus menerus hingga akhirnya ia tidak mengalami teror lagi. Karena bukannya dia yang kena teror, kitanya yang kebingungan, hehehe.

Adakah dari teman-teman yang anaknya mengalami hal serupa ? Atau memang ini beneran wajar ya untuk anak seusia Liam. Share dong :)

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Friday, February 24, 2017

Bahagia itu sederhana kok

Cuma ya butuh modal dikit, hahahahaha #oops

Assalamualaikum, 

Kadang banyak orang yang nggak sengaja saya stalk di media sosial sering mengatakan hal tersebut di postingannya, bahagia itu sederhana, yang kadang kalau kita lihat apa yang diposting, seperti foto
misalkan, ia jalan-jalan ke suatu negara atau daerah yang indah dan belum pernah kita datangi sebelumnya. Hastagnya adalah #bahagiaitusederhana, sesederhana pergi ke Eropa #eh, hehehe, nyinyir amat bukfen, iri pangkal nyesek loh, hahahaha 

Maafkeun, jadi sebenarnya saya jadi mikir, bahagia menurut persepsi masing-masing orang itu berbeda. Misalnya ada orang yang bahagia bagi-bagi duit ke orang lain, ada orang yang bahagia bikin orang lain bahagia dengan memberikan senyuman termanisnya, atau seperti di atas bahagia kalau dia bisa jalan-jalan ke suatu tempat impiannya. Saya misalnya, bahagia kalau suami ada di rumah atau lebih lagi ngajak jalan-jalan saya dan anak kami, bahagia banget!! #darihati :p

Saya juga bahagia lihat anak saya punya pengalaman baru dalam hidupnya. Jujur selama ini saya merasa belum memberikan banyak hal untuk anak saya, padahal sebenernya banyak banget perkembangan kecil darinya yang tidak saya pahami sebagai perubahan dalam hidupnya. Misalnya anak saya tiba-tiba punya kemauan untuk pakai baju sendiri, menghafal angka sendiri lewat remote tv, hihihi, cuci tangan di wastafel sendiri, dan banyak hal yang dulu ia tidak bisa lakukan sekarang bisa ia lakukan sendiri. Saya terlalu rendah diri untuk mengatakan anak saya masih belum bisa ini dan itu, ah! Kok tiba-tiba bener-bener butuh di taser, hehehehe, sorry (again)

Balik ke bahagia itu sederhana, minggu kemarin saya dan suami mengajak anak saya ke salah satu "pasar" kalau bisa disebut pasar sih, di Masjid Agung Surabaya. Happy moment, karena saya pertama kali mengajak Liam naik andong dan kenalan sama kuda dari dekat, hehehe. Mungkin karena saya bukan pecinta hewan, Liam juga nggak terlalu nyaman dekat-dekat dengan hewan, bukankah anak cerminan orang tuanya ya, hehehehe, nggak bisa juga sih kita minta dia harus suka pada hal ini dan itu padahal kita sebagai orang tuanya nggak suka. Tapi, di sisi lain dia suka dengan pengalaman baru, seperti halnya saya, tapi seperti halnya saya dia juga anak yang peragu, duh duh, bad habit.  

Liam, yang ragu memegang kuda
Jadi di sana, Liam pertama kalinya naik andong atau dokar, whatever you named it lah, hehehe, harusnya ini jadi resolusi sampai usianya 5 tahun ya, kan katanya golden moment, dia harus tau banyak sekali transportasi yang ada di sekitarnya. Kalau didaftar, Liam sudah pernah naik mobil, motor, becak, kereta kelinci, pesawat, kereta api, dan hmmm sepeda, ternyata masih banyak yang belum ia coba, contohnya perahu, kapal laut, gethek #eh, itu mah transportasi maknye jaman sekolah dulu, dusun banget nggak sih, hehehe, ah ya yang gampang sebenernya naik angkot dan bus kota, belum tersealisasi sampai sekarang, pe-er yang harus dicentang segera nih.

Selain naik dokar, ia kami ajak juga naik kereta kelinci disana, sebenarnya ia cukup sering naik transportasi hiburan yang murah meriah ini saat ia ada di daycare, bunda-bundanya sering mengajak anak-anak di daycare untuk jalan-jalan naik kereta kelinci. Hiburan yang aneh sebenernya, cuma muterin suatu rute di dalam kendaraan full color dan full cartoon character, dengan musik anak-anak yang luar biasa mengundang perhatian orang-orang di sekitarnya, hehehe, tapi anak-anak senang, padahal mungkin ia tau jalan-jalan tersebut, bukan sesuatu yang luar biasa. Sayangnya kereta kelinci itu juga full polusi udara, karena kendaraannya terbuka dan lewat jalan raya yang penuh polusi udara. Tapi naik motor pun juga polusi udara ding, hehehe. 

Liam juga kami ajak mainan portable murah di pinggiran masjid tersebut, seperti yang di bawah ini nih, nyewa selama 10 menit 5 ribu rupiah, main escavator kecil dan mancing ikan plastik. 

Mainan yang lagi ngetrend
Mancing, atau lebih tepatnya menjala ikan, hehehe


Apapun yang ia lakukan, ia lakukan atas dasar penasaran, tapi ia bahagia dan saya bahagia melihatnya. Walaupun itu tadi, semua itu butuh modal, modal bukan cuma uang kok, modal waktu dan perhatian kita ke anak juga penting. 

Itu #bahagiaitusederhana saya sementara ini, hihihi, sementara karena semoga selalu ada kebahagiaan lain yang selalu menyertai kami ya temans, semoga bahagia kami bisa membuat kamu bahagia juga ya ;) 

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...