Friday, December 9, 2016

Ngobrolin soal buku, perpustakaan dan internet

Assalamualaikum,

Seperti kita tau banyak orang saat ini lebih banyak mengandalkan internet daripada buku, wajar karena internet sekarang lebih mudah diakses dibanding harus membeli buku. Tapi tidak dapat dipungkiri buku juga sesuatu yang masih sangat penting, setidaknya bagi saya. Buku merupakan sesuatu yang berisi data valid dan butuh proses juga penelitian yang sangat mendetail jika ingin menulis dan menciptakan sebuah buku, even itu buku fiksi ataupun non fiksi. Dan satu hal yang pasti, seorang penulis itu butuh niat ing sun untuk menulis sebuah buku sampai selesai, hahaha, karena saya belum bisa niat seperti itu, liat aja draft buku gak sampai ber-bab-bab, masih satu bab yang belum jelas jalan ceritanya seperti apa.

Ngomong-ngomong soal buku, pasti nggak jauh-jauh dari toko buku dan perpustakaan, ada dari kalian yang rajin ke dua tempat tersebut ? Saya pribadi nggak bisa dikatakan rajin sih, hehehe, ngaku. Setiap bulan memang saya menyempatkan waktu untuk pergi ke toko buku, untuk sekedar melihat-lihat, kalau ada buku yang menarik hati saya, saya akan beli, kalau tidak ya membaca saja di sana sambil berpikir kalau ada uang nanti buku itu dibeli, hehehe.

Beberapa waktu yang lalu saya juga sempat ke bazaar buku import terbesar di Indonesia itu, Big Bad Wolf, kalau ada dari kalian yang belum tau. Melihat deretan buku-buku import dengan kualitas bagus, baru dan warna-warna yang indah itu bikin nggak mau cepet-cepet pulang kok :p Tapi karena harus hemat ya setidaknya megang-megang bukunya aja kali ya, siapa tau ketemu lagi di waktu mendatang :p

Nah kalau perpus, saya pribadi sih memang jarang ke perpus daerah setempat, tapi kalau perpustakaan di kampus di tempat saya bekerja, saya cukup sering ke sana. Selain memang mencari buku yang saya butuhkan untuk bahan ajar, saya juga sering cari inspirasi disana untuk materi yang akan saya berikan ke mahasiswa.

Salah satu buku yang saya baca saat saya datang ke perpustakaan kemarin berjudul Ecodesign, karya Silvia Barbero dan Brunella Cozzo, buku dengan tebal 352 halaman ini berisi kumpulan desain-desain ramah lingkungan yang sudah dibuat ataupun proyek (atau masih dalam rancangan) oleh beberapa desainer dunia. 
Penampakan buku Ecodesign
Salah satu rancangan yang menarik adalah Aquaduct bike, sebuah inovasi sepeda yang dipadukan dengan proses pemfilteran air, sehingga kita bisa mendapatkan air bersih sekali perjalanan. Inovasi ini diciptakan berdasarkan permasalahan air kotor yang ada di beberapa negara miskin di dunia. Banyak orang di negara miskin masih menggunakan metode yang konvensional dalam membawa galon air yang tidak sedikit. Entah dengan cara disunggi atau di bawa di atas kepala, diangkat menggunakan tangan ataupun digendong di punggung.
Aquaduct Bike
Nah para desainer tersebut berpikir akan lebih efektif jika orang-orang tersebut menggunakan sepeda dalam perjalanannya. Sembari membawa air yang diisi di dalam tangki yang dibuat khusus di belakang sepeda, orang yang mengayuh sepedanya di saat yang bersamaan memfilter air yang terdapat di tangki, dan mengalirkan air yang ada di tangki belakang ke dalam galon air di bagian depan. Efektif banget kan ? Tapi memang nggak semua daerah bisa menggunakan sepeda ini sih menurut saya, ya untuk daerah daratan rendah mungkin efektif, tapi kalau jalannya meliuk-liuk naik turun mungkin pr juga sih buat orang yang tinggal disana ya, hehehe. Mungkin akan efektif kalau menggunakan drone untuk yang ada di daerah seperti itu. Tapi balik lagi, masalah modal nggak bisa disingkirkan begitu saja. Apalagi ini untuk orang-orang yang ada di negara miskin, kan nggak mungkin juga mereka bisa bayar sepeda ataupun drone semacam itu :p

Selain Aquaduct bike, beberapa desain menarik juga ditunjukkan di buku itu, seperti baterai khusus yang bisa di recharge menggunakan usb laptop atau komputer, jadi kita gak perlu berkali-kali membuang baterai dan merusak alam dengan komposisinya; atau kita bisa menggunakan bahan recycle agar bisa menjadi fashionable dan chic, seperti di salah satu judulnya yaitu Eco-chic, dan banyak lagi yang lainnya.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya membaca buku ini di perpustakaan tempat saya bekerja. Perpustakaan Stikom tepatnya, perpustakaan kampus yang kabarnya terakreditasi A, karena adanya teknologi, kenyamanan tempat dan koleksi yang cukup lengkap. Berhubung kampus ini adalah kampus berbasis teknologi, informasi dan komputerisasi, jadi afdol banget dong kalau kamu yang suka membaca buku tentang teknologi informasi nongkrong di perpustakaan ini. Perpustakaan ini sampai 3 tingkat loh, lantai 9 jalan masuknya, di lantai 10 ada tempat untuk event tertentu, sedangkan lantai 8 terdapat movie room yang hampir tiap minggu menayangkan film-film baru yang pastinya bagus banget, dan ada beberapa ruangan private yang bisa digunakan untuk mengerjakan tugas ataupun mengadakan brainstorming dengan teman kelompok. Tempatnya memang cukup nyaman, koleksinya lumayan up to date, dan wifinya kenceng, hehehe, yang penting ijin dulu sih ke resepsionis :D Kapan-kapan mesti mampir loh ke Perpustakaan Stikom :)
Lihat betapa spacious-nya perpustakaan Stikom, yuk yuk mampir :D
Jadi kapan terakhir kali kamu ke perpustakaan ?

Postingan ini diikutsertakan dalam lomba blog Tema "Buku & Internet Sebagai Jendela Informasi Masa Depan !" #SmartfrenCommunity #GPMBTangsel #DigitalLiterasi

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

2 comments:

  1. meskipun sekarang ini buku bisa dibaca via ebook tapi saya masih tetep suka beli buku yang bisa dibaca kapanpun tanpa tergantung batere :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. samaaa, dan gak pusing kalo baca di kamar sebelum tidur, gak tau sih kalau saya baca artikel di hp lama2, bisa pusing, mungkin karen radiasinya sih, hehehe

      Delete

MARI-MARI SILAHKAN BERKOMENTAR, GAK BAKALAN RUGI KOK, CUMA TINGGAL COMMENT DOANG ...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...