Thursday, March 31, 2016

Mahasiswa semakin muda dan saya semakin tua

Assalamualaikum,

Bukan, saya bukan mau bilang saya punya mahasiswa yang usianya masih 14-15 tahun, yang walaupun di luar sana ada yang begitu. Tapi saya jadi tergelitik untuk ngobrolin lagi dengan sikap mahasiswa yang nggak mature, iya sih banyak dari mereka masih ada yang belum mencapai usia 20an, tapi ketika sebuah etika diajarkan di dalam sebuah keluarga sebelum masuk dalam dunia sekolah, saya rasa seseorang bisa belajar untuk menyadari posisinya dengan orang lain. Masa sih di dalam sebuah keluarga nggak diajarin etika yang baik ? 

Etika berbicara dengan orang yang lebih tua, dengan orang yang dalam hal ini memiliki posisi yang lebih tinggi, seperti mahasiswa dan dosen lah ya. Nggak semua mahasiswa sih, dan juga nggak bilang kalau ada keluarga yang ngajarin jelek ke anaknya, mungkin lingkungan yang menggiring mereka jadi seperti itu.

taken from this website
Galih, salah satu teman blogger saya, punya pengalaman berbeda di Jakarta. Katanya saat ia berkuliah S2 disana mahasiswa dan dosen menggunakan nama panggilan dan julukan gue elo. Saya nggak tau konteksnya gimana sih, walaupun bagi saya tetep nggak sopan, mungkin ada sebuah alasan untuk itu. Mungkin karena konteksnya itu kelas S2, eh, bisa jadi kan ?

Jadi saya kedapatan ngajar mahasiswa semester 2 tahun ini, anak belasan tahun tepatnya, dengan gaya yang jauh berbeda dibanding saya sewaktu saya semester 2 errr 14 tahun yang lalu, wow I'm so old. Anyway, dulu saya dan teman-teman saya sebengal-bengalnya nggak celometan atau bahasa Indonesianya ngomong asal di kelas. Sepanjang hampir 2 bulan saya ngajar mereka, ya ada sih yang sopan tapi ada yang bikin pengen pasang muka pokerface. 

Contoh kecil deh, kemarin saya memberikan kesempatan pada beberapa mahasiswa yang nilai tugasnya kosong 2 kali.


B. Fenty : siapa yg merasa nilai tugasnya kurang saya kasih kesempatan menambah nilai 2 tugas terakhir 

Slh satu mhswbolehlah bu *dengan gaya duduk agak selonjor di kursinya*
B. Fenty


Saya speechless, saya kemudian mengulangi ucapannya, "bolehlah ?", dia cuma "iya kan bu". Okay, another speechless, I mean, kalimat itu terasa, ya agak meremehkan. Seperti dia nggak peduli dengan kenyataan kalau saya nggak kasih kesempatan dia kemungkinan tidak bisa lulus. Yaaa, mungkin lain kali yang semoga tidak terjadi, saya akan benar-benar menegurnya. Am I too much ? Semoga banyak yang sependapat dengan saya. 

Saya sempat membahas ini dengan kolega saya di kampus, bisa jadi ketidaksopanan mahasiswa karena kami mengajar di sebuah institusi swasta yang intinya status kita ini pegawai, kasarnya ya pegawainya mahasiswa. Ouch nyakitin sih dianggap begitu, karena beda swasta dan negeri adalah disini kita bergantung dari duitnya mahasiswa yang berkuliah di situ, tapi kalau negeri kita bergantung pada dinas pendidikan. Eh bener kan ?

Tapi negeri ataupun swasta, jaman emang sudah banyak berubah sih ya, mungkin dengan dalih kebebasan berpendapat dan kebebasan berekspresi menjadi alasan remaja-remaja jaman sekarang untuk menyepelekan banyak hal, ngomong ngawur pada siapapun, menganggap tidak ada gap antara satu orang dengan orang lain.

Lalu kami berpikir juga dengan sikap mahasiswa sekarang yang acuh tak acuh membuat apa yang mereka lakukan nanti, tidak akan siap menghadapi banyak hal, termasuk deadline. Tugas, yang harus dikerjakan 2 minggu aja, baru dikumpukan di minggu ke tiga kok *mari nepok jidat bersama*

Akhirnya berpikir, kami yang usianya sudah di atas 30 ini harus keeping up sama perubahan mereka dan mengikuti maunya mereka, atau mereka yang harus keeping up sama kita sehingga menyadari bahwa harus ada batasan dan etika tertentu ketika 2 usia ini saling berhadapan. 

Atau ya mungkin harus selalu mencari jalan tengah untuk semuanya, dan hal seperti ini membuat saya was-was, semoga lingkungan anak saya selalu mementingkan etika, tau mana yang baik dan yang buruk, semoga saya dan bapaknya bisa mengarahkan yang terbaik untuknya dan masa depannya. Aaamiiin...

Nulis begini ujung-ujungnya kepikiran anak. 
Dear, future, please be nice ....

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Saturday, March 26, 2016

Kenapa sekarang uang 100ribu semakin "kurang" berharga ?

Assalamualaikum,

Eh, itu judulnya berasa sangat nggak bersyukur nggak sih ? 

Ah ya sudahlah, jadi begini, tahun semakin bertambah, anak semakin besar, kebutuhan semakin banyak, tapi mengapa sepertinya semua belum sesuai dengan rencana.

Dan lagi, nggak tau kenapa uang 100ribu sekarang berasa "gampang" aja gitu keluar dari tabungan atau dompet. Sekali belanja di supermarket nggak pernah kurang dari 100ribu. Padahal rasanya sudah berusaha untuk hemat, atau mungkin perasaan saya aja yang hemat, tapi tangan nggak bisa tahan untuk ngeklik token atau ngeluarin uang dari dompet ? Huuft ...

Saya sebenarnya agak takut kalau ngobrolin soal uang ujung-ujungnya tuh berasa nggak bersyukur dengan semua yang dipunya. Tapi kalau nggak diomongin agak nyesek juga di dada. 

Taken from Pinterest
So, my hubby and I had a plan, ingin punya rumah sendiri, ya idealnya begitu kan ya, menikah, punya anak, punya rumah sendiri, punya kehidupan sendiri. Jadi selama lebih dari 3 tahun menikah hal tersebut belum terealisasi. Yang walaupun banyak cerita dari beberapa teman, contohnya ada yang tinggal dengan orang tua selama 7 tahun baru akhirnya bisa menempati tempat tinggal sendiri. Ada yang sampai sekarang masih tinggal dengan orang tua dan nggak berniat untuk pindah. Dengan banyak alasan tentunya, belum tentu alasan tersebut mereka keluarga yang tidak mampu.

Kalau kami, nggak bisa dibilang kami keluarga menengah ke bawah, tapi menengah ke atas juga enggak, jadi kita keluarga kecil yang menengah. Suami kerja full time, saya kerja part time dengan tambahan berbisnis (yang kadang nggak tentu juga pemasukannya), and somehow dengan tabungan sekarang, masih belum aja keturutan untuk mencapai angka minimal untuk kredit rumah impian. Herannya adaaaaa aja yang tiba-tiba terjadi sehingga bahkan angka minimal itu berkurang sedikit demi sedikit. 

Lagi-lagi biaya, tahun depan Liam juga akan kami rencanakan masuk ke sekolah, dan kami sudah berpikir untuk memasukkannya ke salah satu sekolah yang dekat dengan rumah yang kami tinggali sekarang. Dan itu pasti membutuhkan biasa yang nggak sedikit juga, well kalau dibilang jangan muluk-muluk milih sekolah ya nggak boleh gitu juga kan, boleh dong memilih sekolah yang well educating their students, mengingat banyaknya masalah pendidikan di Indonesia saat ini. Semoga tahun depan semua akan lebih baik, lebih baik dalam hal berhemat dan mensyukuri yang dipunya tentu saja.   

Jadi, mungkin kami, saya dan suami sama-sama bukan orang percaya diri yang menganggap semua hal tersebut BISA dilakukan. We complaints a lot, tuh kan ketauan kalau nggak bersyukurnya, hmmm. . 

Intinya curhat saya hari ini berharap semuanya akan selalu baik-baik saja. Berusaha berhemat dan berhemat, berusaha lebih baik dalam pekerjaan dan bisnis, bersyukur lebih banyak. Dan selalu menganggap money it's not everything, dan semoga saya bisa mengajarkan anak saya untuk lebih banyak bersyukur tanpa banyak menuntut :)

Jadi berapa "harga" 100 ribu buatmu ?

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Tuesday, March 22, 2016

Buat mainan kardus yuk

Assalamualaikum, 

Saya bukannya mama-mama yang rajin banget buat mainan untuk anaknya, ya setidaknya pernah lah sekali dua kali, niaaaat banget buat mainan untuk Liam.

Itupun juga kalau saya barusan ngopi dan ada waktu luang, sumpah ya saya agak gimana gitu setelah minum kopi, kayak kafeinnya itu boosting tubuh saya untuk bergerak dan berpikir lebih jernih untuk membuat ini itu, hahaha #pembenaran. Padahal juga kopinya kopi instan yang kebanyakan gula, ouch, ingeet banyak keluarga yang diabet feen, hihihi.

Setahun yang lalu rasanya saya pernah niat banget membuat sebuah kompor dengan oven abal-abal dan kardus bekas hmm apa ya dulu, bekas speaker yang kayaknya bukan nggak ada di rumah juga barangnya, mungkin dapet dari kiriman orang, hehehe.

Jadinya seperti ini ...

Jelek banget hasilnya, kenapa saya bilang jelek ? Karena liam juga gak mudeng itu buat apa, terakhir liam mainin dia menganggap itu adalah sebuah mobil, kotaknya direbahin dan dalamnya ia duduki, hahaha. Ya jadi multifungsi, walaupun nggak nyampe maksudnya apa :D

Kedua, saya buat ini

Itu pom bensin maksudnya, ya iyalah, ada logo pertamina gitu loh :D
tadinya saya pengen liam belajar angka karena ada tuts-tutsnya itu, tapi sampai sekarang liam mainin juga belum mau belajar angka, jadi ya sudahlah, pasti suatu saat dia akan pinter-pinter sendiri :D
Yang ia pelajari dari benda ini adalah, kalau beli bensin harus pake uang, hehehe, terlalu dini nggak ya ngajarin itu ke dia :p 

Nah terakhir kemarin, saya buatin ini buat Liam

Ouuh, kenapa mesin jahit ? Liam kan cowok ? Ah, mesin jahit nggak peduli gender keleess ... secara ya banyak aja gitu tailor-tailor bukan taylor swift yang bertebaran di indonesia itu adalah laki-laki. Eh bukan berarti saya pengen liam jadi tailor sih, hehehe. Saya terinspirasi dari seorang mommy di pinterest yang membuatkan anak lelakinya mesin jahit dari kardus. Langsung deh saya terinpirasi, apalagi karena mainan mesin jahit yang dijual di olshop-olshop itu warnanya pink. Ya secara mesin jahit identik dengan perempuan sih, tapi emang pink identik dengan perempuan juga, tapi bukan gitu juga sih alasannya saya nggak membelikan Liam mainan itu. Err, selain mahal, saya juga nggak terlalu suka warna pink, hehe #pembenaranlagi 

Lagipula, asik banget sih menurut saya berkreasi menggunakan barang bekas/kardus bekas yang sudah tidak terpakai lagi. Apalagi saya termasuk orang yg mendukung recycle reuse repurpose, bukan berarti rajin juga ya, mendukung, supporting doang, ya ada kalanya saya rajin, ada kalanya saya membeli dan membeli lagi, hihihi.

Nah berhubung kardus bekas di rumah saya itu banyak, bukan banyak ding, BUANYAAAK, iya, Ibu saya penimbun kardus, dan rasanya banyak sekali ide-ide di otak saya untuk reuse kardus-kardus itu. Tapi karena keterbatasan tenaga dan waktu, eh seriusan loh, jadi ibu rumah tangga itu kayak nggak ada pause-nya, kecuali kalau anaknya bobok sih itupun kalau nggak ada tugas dosen dan jahit Ya ampun saya berasa super mom walaupun enggak, hahaha.  

Jadi intinya apa sih Fen, ya nggak ada, reminder buat saya aja supaya lebih rajin mbuatin mainan untuk anak. Gunanya apa sih ? Ya supaya nggak ngeluarin banyak duit, supaya tetep crafty, crafty itu cukup penting untuk orang macam saya yang berkecimpung dalam dunia crafting, hehehe, dan anak senang karena punya mainan. Klop dah.

Jadi buat apa lagi ya minggu ini ? :D

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...