Wednesday, January 20, 2016

#CeritaLiam Toilet Training (1)

Assalamualaikum, 

Let's talk about toilet training (TT) 

Liam bulan ini 2 tahun 5 bulan, memang belum 3 tahun sih, dan masing-masing mommy mungkin punya waktu ideal sendiri untuk mengajari anak untuk pipis ataupun pup di kamar mandi. Salah satu teman saya, malah sudah melakukan toilet training sejak anaknya sudah bisa duduk tegak. Hitungan 7-8 bulan mungkin ya, bahkan katanya ada yang sudah melatih toilet training itu dari bayi banget, yang menurut saya wow banget. Saya baru memulainya saat Liam beranjak usia 2 tahun. Sudah terlambat ? tidak juga. Ada dari sekian banyak orang malah baru berani memulai TT pada anaknya di saat anaknya berusia 3 tahun ke atas. Dan setiap mommy punya hak masing-masing lah atas apa yang dilakukan untuk anaknya, it's for her own good and sake, hahaha

Anyway, kenapa saya mengatakan "berani"? Hahaha, karena itulah versi saya. Toilet training itu harus berani nangis kalau anaknya ganti celana dalam 10-20 kali dalam sehari, berani seprai basah kena ompol, berani bangun tengah malam ajak anak untuk pipis di kamar mandi, dan lainnya :D

Toilet training Liam memang belum sempurna dan belum full lepas popok sih. Keluar rumah Liam masih menggunakan pospak karena kembali ke kata "berani", Ibunya belum berani ngepel jalan, atau lantai mol, atau bawa ganti seabreg kalau tiba-tiba anaknya pipis atau pup tanpa bilang dulu ke Ibunya, hahaha.

Jadi cerita toilet traning kali ini part 1 dulu ya, mungkin saat anaknya benar-benar full lepas pospak saya akan cerita lagi lebih lanjut. 

So, saya akan bercerita tentang pengalaman TT Liam selama beberapa waktu terakhir. 
Menginjak usia 2 tahun (eh apa sebelum 2 tahun ya), akhirnya saya membeli beberapa celana dalam anak ukuran mini. awalnya masih 5, akhirnya karena niat ing sun akhirnya saya membeli 10 lembar celana dalam. Di suatu hari akhirnya saya tes keberanian dan kesabaran saya untuk melepas pospak Liam, saya bilang ke Liam, "Liam, nanti kalau mau pipis bilang ya?" Lalu idealnya juga, kalau dalam keadaan dingin karena hujan, anak akan sering pipis, jadi kita melatihnya untuk ke kamar mandi setengah jam sekali (atau bahkan mungkin kurang dari itu kalau minumnya banyak) 

Tapi ah, niat saya hari itu hanya bertahan sampai jam 11 siang, hahaha. Anaknya bilang sih "Bu, pipiiis" tapi setelah dia ngompol di celana, hahaha, hari itu ia ganti celana lebih dari 5 kali dan saya akhirnya menyerah, besoknya saya mundur lagi, hahaha. Lalu saya coba lagi beberapa waktu kemudian, tetep hal serupa yang saya dapat. 

Ternyata pengalaman mengajarkan sesuatu, ini versi saya ya, harusnya jangan bilang "Nak, kalau mau pipis bilang ya?" tapi, "Nak, kalau pipis harus di kamar mandi" dan sounding lain misalnya, "Nak, kamu kan sudah besar, kalau sudah besar pipisnya di kamar mandi" dan lain-lain yang intinya menunjukkan kalimat langsung, bukan pengantar :D
Nah karena kalimat wejangan itu, plus mungkin Liam sudah lebih gede dan cara berpikirnya lebih pasti lebih maju. Perubahan mulai terjadi, setiap kali saya memakaikan celana dalam padanya Liam selalu bergumam, "Kalau pipis, kamar mandi" (dengan versi cadelnya ya, hihihi) 

Akhirnya sebulan terakhir ini sepertinya, Liam mulai bisa sering ke kamar mandi untuk pipis, awalnya sih bisa sampai 15 menit sekali, yang kadang Ibunya ketipu karena Liam sampai di kamar mandi cuma main-main doang *duh* plus kena komentar utinya, "Itu Qori kok pipisnya sering banget sih, diperiksain dong" atau "Disuruh ke kamar mandi kok 15 menit sekali, nanti jadi kebiasaan loh, jadinya kepaksa" Lah piye toh, kan mestinya wajar dong kalau awal-awal TT pasti begitu (Iya gak sih, iya kan ? Iyain aja deh #halah)

Nah idealnya lagi niiih, belajar BAB alias pup harusnya lebih dulu dibandingkan belajar pipis ke kamar mandi. Karena pup itu bisa dilihat dari wajah anaknya #eh, maksudnya kalau anaknya pup itu kan kita bisa lihat dari mimik mukanya, plus biasanya waktunya sudah bisa ditebak, misalnya pagi hari jam 6. Dan itu kan sudah ketauan dari usianya sebulan. Nah kalau Liam nih, sudah saya belikan toilet extension dari sejak sebelum usianya 1 tahun. 

Tapiiii, nggak tau kenapa ya, Liam itu kayak ketakutan kalau mau didudukin di toilet, plus extensionnya. Itu dari sejak sebelum setahun dong, dan sampai sekarang, huhuhuhu. Jadi niiih ... yah pe er banget. Liam belum bisa pup di kamar mandi, dan masih pup di celana dalam, atau ya di pospak. Saya nggak tau ketakutannya karena apa, padahal ya dia suka mandi, dia suka pipis di kamar mandi, dia berani ngeflush toilet, tapi dia nggak berani duduk di atasnya *nangis darah*

Tiap anak emang beda sih cara treatment TT-nya, saya emang belum coba menggunakan pispot yang bentuk bebek atau gajah itu. Mungkin itu yang akan coba, daripada nggak belajar kan ? :)

Bismillah, semoga Toilet Training part 2 sudah sempurna semuanya :D aamiiin

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Tuesday, January 19, 2016

[Makeup] Fake or work of art ?

Assalamualaikum,

Yuks ngomongin make up. Jadi saya ini bukan beauty blogger, tapi recently saya jadi suka mantengin blog ataupun instagram-instagram yang berhubungan dengan make up wajah. Salah satu alasannya sih karena saya lagi demen pake lipstik, hehehe. 

Gara-gara saya melihat video-video itu juga, saya melihat beberapa komentar orang yang menganggap yang dilakukan perempuan-perempuan berdandan tebal itu palsu banget, alias fake. Saya pribadi merasa kebalikannya sih, itu work of art. Karena saya nggak bisa seperti mereka, hihihi. Bukan maksudnya bisa secantik mereka ya, tapi berdandan dengan perfect seperti mereka.  Jadi bagi saya nggak ada yang salah menutupi suatu hal yang dalam tanda petik kurang indah jadi lebih indah pada akhirnya. 

Power of makeup, taken from here
Dan bagi saya yang mereka tunjukkan bukan kepalsuan, tapi teknik melukis yang butuh talenta luar biasa. Bedanya medianya wajah bukan kertas ataupun kanvas. Beneran loh, hasil akhir dari dandanan mereka bisa dikatakan flawless, bukan sesuatu yang norak. 

Bahkan ada beberapa dari mereka menjadikan karya mereka itu unik, nggak cuma jadi cantik aja tapi malah jadi sesuatu yang aneh, misalkan jadi manusia berwajah kayu, bahkan yang serem itu zombie. 

hihihi, ini make up looh, bukan photoshop ^_^ taken from here
Dan kalau wanita-wanita itu fake, saya rasa mereka nggak akan membuat video before and after yang tidak menunjukkan proses make up tersebut, maksudnya dari mukanya "biasa saja" sampe stunning luar biasa.

Yang membuat saya tertarik melihat makeup videos tersebut adalah proses shading technique yang lucu-lucu, hehehe, yang awalnya dibuat belang blontenk, eh kok pas diblend jadinya bisa perfect gitu, hahaha, suka amaze sendiri kok bisa ya. Usut punya usut, bukan cuma sekedar blending doang, tapi emang produk dan teknik yang digunakan juga "mahal" hihihi. Saya mah apa atuh, modalnya cuma bisa beli skin care sama bedak marcks doang, hahaha.

Shading Techniques, taken from here
hihihi, shadingnya lucuuuk ... taken from here
Intinya buat saya melihat proses power of make up ini sama seperti melihat lukisan yang indah ataupun desain yang menarik. Ada artist yang luar biasa di belakangnya, yang nggak boleh dicibir bisanya cuma dandan doang, coba situ yang coba, emang bisa ? Saya sih enggak, hihihi, makanya sama menjura ^_^ 

Saya share dua video tentang power of make up yaa, hihihi, seru lihatnya, seperti yang membuat video bilang make up is fun, and fun to watch too :D (video yg ke dua menunjukkan betapa lamanya proses make up itu, hahaha, jadi merasa kasihan sama beberapa artis yang mungkin proses make upnya berjam-jam :D)



I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Monday, January 11, 2016

[Cerita Ibu] Lupa bersyukur

Assalamualaikum,


Ada kalanya seorang Ibu menangis dalam sepi, tanpa siapapun tau dan menyadari. Bisa jadi itu tangisan bahagia ataupun sebaliknya. Saya sering melakukan keduanya.

Saya sadar ini baru 2 tahun 4 bulan sejak status saya menjadi Ibu. Tapi ternyata perasaannya bisa rollercoaster seperti ini. Wow *nengok Ibu saya* saya jadi trenyuh sendiri :')

Yes, sometimes I'm upset, gemes pada apa yang anak saya perbuat, menggigit, memukul, melempar barang, teriak-teriak, yang kadang bukan hanya kepada saya, tapi juga orang lain, seperti pada Akung Utinya, atau saat saya mengajaknya keluar rumah, yang membuat saya was was membuat mereka terluka karena ulahnya. Tapi apa endingnya saya mau melakukan hal yang sama yang ia lakukan pada saya? Tentu semua Ibu akan bilang tidak, walaupun kita punya kewajiban mengajarkan hal yang baik dan benar kepadanya. Itu semua butuh proses dan cara yang tepat kan :) Tapi meeeen, itu nggak mudah!

Pernah saya berpikir bodoh, kenapa nggak cepet gede aja sih nih anak supaya bisa ngerti apa yang saya bilang. Tapi apa serunya? Dan bukankah yang instan itu banyak nggak sehatnya ;)

Pikiran itu juga kadang terbersit saat melihat Liam kesakitan karena efek alergi yang ia miliki. Seperti November lalu saat tiba-tiba sebuah bisul muncul di bagian kanan kepalanya, bisulnya pecah dan tiba-tiba muncul beberapa lagi yang jauh lebih besar dan sepertinya menyakitkan di area yang sama. Rasanya sediih sekali, ingin rasanya memindahkan sakit yang ia hadapi ke saya, tapi nggak mungkin.

Kembali terbersit, katanya saat anak semakin besar alerginya akan semakin berkurang, ya saya berharap dia cepat besar tanpa proses sakit-sakit itu. Tapi kemudian saya berpikir, apa untungnya buat saya, bisa saja saat ia tiba-tiba besar, alergi itu masih ada padanya. Lalu pada akhirnya saya tidak tau apa yang harus saya lakukan karena saya tidak melewati proses panjang itu.

Jadi intinya, saya sering lupa bersyukur, bukan hanya "nggak seru ah" kalau nggak melewati proses belajar itu, tapi juga sering lupa kalau perkembangan anak saya yang (bagi saya) sudah sangat luar biasa, contohnya dia sudah bisa naik turun tangga di rumah sendiri (ya walaupun yang lihat was was, dan serem aja kalau nggak didampingi), bisa naik meja makan sendiri (doh) ngambil makanan yang ia inginkan, sudah bisa (kadang-kadang) diajak pipis ke kamar mandi, yah walaupun sering ngompol juga, hehehe, dan banyak hal unik dan mengagumkan lainnya, keajaiban-keajaiban kecil yang helllooow, dulu jaman dia mbrojol 2 tahun 4 bulan yang lalu nggak mungkin bisa ia lakukan. 
Liam, 2 tahun 4 bulan
Lupa bersyukur kalau ternyata saya bisa mengajarkan hal-hal yang somehow berarti untuk perkembangannya, yang kadang-kadang yak ampun, lihat ibu-ibu lain (via sosmed siiih, yang kita juga nggak tau aslinya gimana, hehehe) kok looks so perfect. Tapi ya rumput tetangga yee, pastinya lebih subur gituh. Bahkan suami saya (yang lebih sering di luarnya, dibanding di rumah) amaze sama perkembangan Liam, yang ia pikir Liam bisa begitu dengan sendirinya. Duh, Pak, ini ada Ibu yang ada gunanya loh buat anaknya untuk ngajarin hal-hal kecil itu. Hahaha, yah yah, nggak pa-pa deh, saya maklum saja :D

Jadi, yah, cuma mau curhat, mengeluarkan uneg-uneg, efek pms nih kayaknya, jadi sedih-sedih pikirannya, hahaha, nulis beberapa tulisan di atas sambil mbrebes mili :p

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...