Wednesday, November 25, 2015

Antara Mbak, Ibu dan Tante

Assalamualaikum,

Saya mau cerita, beberapa tahun lalu, ketika saya pertama kali menjadi seorang pengajar, saya ogah dipanggil orang lebih dari panggilan "Mbak", khususnya mahasiswa saya saat itu. Bagi saya waktu itu yang belum menikah dan fresh graduate, panggilan Mbak adalah yang paling tepat, dan waktu itu semua mahasiswa sih berpandangan yang sama. Tapi semester berlalu dan kemudian hal-hal yang nggak enak mulai terjadi, saat kita dipanggil oleh orang yang kesannya seumuran, seperti mbak misalnya, bagi saya pribadi sih kita seperti dianggap remeh, diajak ngobrol dengan menggunakan kata "aku kamu", dan hormat kepada seseorang yang notabene adalah dosen seperti nggak ada sama sekali. 

Lalu pimpinan saya menyarankan kami yang dipanggil mas/mbak ini untuk mengganti panggilan menjadi Ibu atau Bapak. Awalnya saya merasa risih, I mean, I was looks so young, ya dulu itu sih maksudnya, hehehe. Nggak tinggi, masih pecicilan, suka becanda sendiri, tapi di lain sisi saya merasa itu harus dilakukan, "gap" itu sepertinya penting. Jadi semester berikutnya, saya sudah mulai dipanggil Ibu di kampus, awalnya aneh, saya merasa sangat tua. Tapi perbedaan itu terlihat sekali, saya seperti lebih terlindungi dengan kata Ibu, lebih disegani dan lebih punya "kuasa" pada mahasiswa. Walaupun di luar kampus saya agak risih kalau ketemu mahasiswa dan kemudian mereka memanggil saya dengan panggilan Ibu, hahaha. 

Cerita berbeda saat usia saya 27 tahun, dan kemudian jalan ke sebuah mall dan ditawari oleh seorang SPG yang memanggil saya dengan sebutan "Bunda", waktu itu saya belum menikah, dan ya ampun, rasanya begitu menyebalkan, hahaha. Saya yang belum menikah apalagi memiliki anak sudah dipanggil Bunda oleh orang lain. Saya merasa sangat berbadan "abis lahiran" banget gara-gara hal tersebut, padahal mungkin wajah saya yang mungkin sudah terlihat tua :p 27 tahun kan nggak muda-muda amat :D

Nah terus ada cerita lain saat saya sudah beneran jadi Ibu seorang anak, waktu saya ngajar sekarang merasa santai dan fine-fine aja mahasiswa memanggil saya dengan sebutan Ibu. Bahkan rekan kerja, orang di luar kampus ataupun spg di mol :D Sekarang saya juga nambah panggilan baru yaitu Tante, karena saya punya teman-teman yang anaknya seumuran dengan anak saya, atau kalaupun dia sudah hampir remaja, paling tidak dia anak dari teman atau saudara saya lah, saya merasa ya sangat oke mereka memanggil saya dengan tante. 

Masalahnya ada "tren" baru lagi nih, pernah suatu waktu saya ada suatu bazaar dan saat saya datang technical meeting tanpa Liam, saya dipanggil Mbak dong, senang hati saya karena dianggap muda, hahaha. Eh pas bazaar saya bawa Liam, mereka panggil saya apa ? TANTE, saudara-saudara!
Rasanya gemes banget, itu seperti saya berteman dengan Ibu mereka dan Liam itu seumuran mereka. Biyuh ... panggil Ibu kek, panggil Mbak kek, tapi memanggil saya Tante saat mereka cuma beda 10 tahun dari saya itu agak bikin KZL. 

Pernah di lain waktu, di kampus tempat saya mengajar, saya bermaksud membeli soda di vending machine yang ada di bagian depan kampus. Ternyata ada mahasiswa atau nggak tau deh siapa, pokoknya bukan mahasiwa saya, karena saya nggak kenal. Karena uangnya nggak diterima vending machine, saya menolongnya dengan menukarkan uang 2000rupiah padanya, dia kemudian bilang, "Makasih, Tante". Errrr .... konteksnya itu di kampus, saya menggunakan name tag, dan dandanan saya dosen banget. Dan dia panggil saya Tante, duh .... 

Intinya, Tante itu nggak selalu lebih muda dari Ibu, dan Ibu nggak selalu lebih tua daripada Mbak, jadi berhati-hatilah, mungkin ada orang yang nggak suka dengan panggilan-panggilan tertentu. Hehehe, peace! 

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

9 comments:

  1. Di Jakarta, lingkungan kantoran, ada kecenderungan memanggil langsung nama tanpa melihat umur. Anak baru lulus kuliah bisa panggil rekan kerjanya tanpa embel-embel mas mbak (dan dilanjutkan dengan lu gue). Malah aneh dan dianggap dari "Jawa" kalau ada yang manggil mas/mbak begitu. Dulu sih agak risih, lama-lama biasa juga. Tapi aku sendiri ga bisa mengubah kebiasaan buat manggil tanpa embel-embel mas/mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, kamu dulu pernah ngomong gitu kan ya, tapi mungkin karena masih tinggal di daerah jawa yg bukan jakarta kali ya, jadi kerasa banget harus mikirin tata krama gitu

      Delete
    2. O iya juga ya, repost gan kalo gitu kwkwkw...

      Delete
  2. iya deh tante, aku gak akan panggil tante ke tante, tan.
    tapi tante fenty itu cocok banget loh, renyah disebutnya, tan.

    ReplyDelete
  3. di UK manggil dosen malah kayak konco dewe. Awalnya agak canggung, tapi ternyata menyenangkan. :D

    ReplyDelete
  4. Tante fenty, mendingan dipanggil Ibu atau tante. Dibandingin dipanggil sis? Berasa dunia ini onlen sop doang. Wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. loh kalo sama orang yang punya anak seumuran anakmu fine2 aja, tapi kalo anak mahasiswa, hmmm ... pengen nampol

      Delete

MARI-MARI SILAHKAN BERKOMENTAR, GAK BAKALAN RUGI KOK, CUMA TINGGAL COMMENT DOANG ...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...