Thursday, January 22, 2015

#CeritaLiam Pt 4 : Defisiensi Zat Besi dan Alergi

Assalamualaikum,

Saya malam ini mau ngomongin Liam lagi, biar jadi catatan saya aja, pengingat juga kalau nanti (kalau) Liam punya adik, hehe, jadi saya nggak akan mengulangi kesalahan yang serupa. Damn, kok kesannya saya jadikan Liam kelinci percobaan ~.~" eh, bukan gitu sih, I'll do my best selama 16 bulan ini demi Liam. Tapi yang namanya orang tua baru ya, eh orang tua lamapun sebenarnya bisa aja punya pengalaman baru terhadap anaknya sih, tapi ya sudahlah balik ke masalah Liam.

Terakhir kali saya membahas serius tentang Liam saat dia akan melakukan sunat sebelum dia berulang tahun yang pertama hampir 5 bulan yang lalu. Ternyata setelah 5 bulan, belum ada perkembangan signifikan soal berat badan Liam yang masih saya kenaikannya sangat sangat seret. Sebagai orang tua, lagi-lagi saya merasa down, apa yang selama ini masih belum saya lakukan ? Jawabannya, BANYAK. 
Saya pernah berjanji pada diri saya sendiri untuk menjadi Ibu yang "pintar", I mean, cari info sebanyak-banyaknya, lakukan semua hal, semua yang memang bisa berguna demi anakmu. Dan saya terbuai dan termudahkan oleh kata-kata dokter kalau setelah ini itu, kenaikan bbnya akan signifikan. Seperti sunat kemarin contohnya. Oh ternyata tidak semudah itu.

Saya punya beberapa teman yang anaknya kasusnya hampir sama dengan Liam. Berat badannya mepet normal, hampir di bawah normal, seperti Liam. Sering sharing, dan membuat saya merasa saya belum melakukan banyak hal, seperti mereka. Walaupun sebenarnya saya nggak boleh membuat diri saya stress dengan hal ini, tapi ya seperti biasa, saya kebawa deh. 

Jadi di awal tahun ini, saya konsul ke DSA lagi, kali ini dokter yang berbeda. Setelah konsul, kami disarankan untuk melakukan tes darahnya Liam. Sehari setelahnya kami langsung ke lab, walaupun cukup nggak tega melihat Liam dibedong dengan paksa untuk diambil darahnya oleh petugas Lab, apalagi Liam masih nggak bisa kalau nggak nangis ketika bertemu dengan orang baru. Hiks, sedih. Apalagi waktu itu dia masih masa pemulihan setelah terkena Roseola, empat hari demam dan kemudian timbul ruam-ruam merah di sekujur tubuhnya. Jadi badannya masih nggak fit, tapi ya kami merasa harus melakukan sesuatu secepatnya. 

Setelah dites, besoknya kami ambil hasil labnya dan diketahui ternyata Liam terkena defisiensi zat besi, semacam anemia, kekurangan darah yang memang hal tersebut menghambat perkembangan dari bayi. Katanya memang ini sering terjadi pada bayi yang hanya minum ASI. Saya bukan menyalahkan ASInya, saya menyalahkan diri saya yang harusnya memakan makanan yang membuat ASI saya lebih melimpah atau lebih bergizi. Karena ya yang saya baca di internet, hal tersebut cukup mempengaruhi. Nah, note for self kan ?

Akhirnya dokter memberikan suplemen makanan yang mengandung zat besi, yang memang sangat dibutuhkan untuk boosting kandungan zat besi dalam tubuh anak. Karena kalau sekarang, hanya melalui makanan yang mengandung zat besi saja ya nggak nutut, suplemen makanan sangat sangat dibutuhkan. Jadi terapi pertamanya adalah Liam harus minum suplemen tersebut setiap hari sampai 3 bulan ke depan. Minum sebulan saja memang nggak akan ngefek sih, karena melihat angka yang ditunjukkan setelah dites darahnya, memang kurang sekali zat besinya. 

Tapi sebenarnya bukan hanya itu yang membuat zat besi di tubuh Liam tidak terserap sempurna, sehingga menghambat pertumbuhannya. Ternyata ini juga karena efek alergi yang dulu pernah saya bahas juga di blog ini. Jadi kalau orang yang memiliki alergi terhadap makanan atau pemicu tertentu, hal tersebut membuat metabolisme orang yang terkena alergi bekerja lebih berat, dan katanya sih akan menghambat pertumbuhan juga. Nah jadi ini salah orang tuanya lagi dong, sebenarnya saya memberikan makan apapun pada anak saya karena saya ingin dia bisa tahan pada semua makanan, yang konon katanya memicu alerginya. And, oh ini orang tuanya perlu ditimpuk buku kali ya, it's a big mistake!

Mestinya ya semua pemicu alergi itu harus dicatat dan dites pada anaknya, tiga minggu sekali, sehingga kita tau apa saja yang benar-benar membuat dia alergi gatal, alergi batuk-batuk, atau alergi diare. Yes, setiap pemicu, bisa menyebabkan akibat yang beda-beda. Liam, by the way, hampir selalu batuk sepanjang bulan. Kami pikir waktu itu adalah ia tertular teman satu TPAnya, oh ya, saya memang sempat menitipkannya ke TPA waktu saya bekerja full time waktu itu (yang sekarang tidak lagi). Sejak saya bekerja itu memang saya sudah ngoplos ASI saya dengan sufor dan UHT, yang ternyata ngefek banget ke pernafasannya dan bab-nya yang seringnya tidak terlalu padat.

Kalau dilihat dari history-nya sih, yang saya tau, Liam pasti akan merah-merah dan gatal saat saya berikan ia makanan yang mengandung telur. Pure telur, seperti telur didadar atau diceplok, sejak itu saya nggak pernah memberikannya telur dengan metode apapun. Tapi saat saya memberikannya biskuit (yang pasti mengandung telur) ia "sepertinya" baik-baik saja. But no, nggak gitu juga loh, karena itu tadi metabolismenya bekerja lebih berat dan ya kami memang kecolongan soal ini. 

Lagi-lagi kami memulai dari awal, jadi selama seminggu ini Liam sudah diet beberapa makanan yang "biasanya" pemicu alergi. Susu sapi, telur dan ikan. Setelah ia hipoallergenic, Februari nanti kami akan melakukan beberapa "tes" beberapa makanan yang mengandung alergi tinggi itu. Baru deh ketauan dia alerginya pada apa saja. Sekarang Liam kembali hanya minum ASI, padahal mungkin ASI saya memang tidak sebanyak dulu, tapi setidaknya masih keluar. Saya juga mengganti makanan Liam yang tadinya menggunakan kandungan susu sapi (UHT) dengan menggunakan santan atau susu kedelai. Jadi itu adalah terapi kedua Liam, dan saya nggak tau terapi apa lagi yang mungkin memungkinkan untuk Liam, mungkin harus dibarengi dengan doa sebanyak-banyaknya mungkin :)

Sekarang saya nggak mau koar-koar kalau ini pasti berhasil atau apalah, saya belum akan puas saat benar-benar terlihat hasilnya. Karena saya takut sakit hati lagi, hehehe, jadi bismillah saja, yang penting sekarang saya melakukan apapun saran terbaik dari dokter buat Liam.

Bismillah .... wish us luck (again) :)

I think that's all, thank you  

Wassalamualaikum,

8 comments:

  1. Wah Dek Liam sudah gede :3 Kayaknya kita terakhir ketemu pas nikahanmu ya mbak :)))
    Semoga Dek Liam sehat selalu ya mbak e. :D
    Kok masih kecil udah disunat mbak?

    ReplyDelete
  2. semoga cepat sembuh ya dek liam .. lucu ih :D gemes

    ReplyDelete
  3. Duh, semoga makin gendut yaa.. kayak ibu bapaknya...

    ReplyDelete
  4. Lekas sehat Liammm
    Ibunya juga jangan stress

    ReplyDelete
  5. semoga sukses.
    kata nyokap gw jg dulu wkt kecil di vonis kurang gizi sama dokter dan emang lbh kecil dibanding umurnya. tapi pas agak gede malah jadi gendut kog wkwkwkwk

    ReplyDelete
  6. Semoga Lekas sembuh ya dek....amin

    ReplyDelete

MARI-MARI SILAHKAN BERKOMENTAR, GAK BAKALAN RUGI KOK, CUMA TINGGAL COMMENT DOANG ...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...