Monday, December 28, 2015

Near 2016

Assalamualaikum, 

Sebelumnya kemaren sudah ingin menulis hal lain, karena kemarin belum sempat nulis akhirnya nggak tercapai, hari ini karena blog-blog sebelah sudah ngomongin resolusi jadinya keseret untuk nulis yang semacam itu juga, hihihi, mainstream.

Minggu lalu saya mengikuti seminar bisnis yang ngomongin tentang apa yang akan bisa kita lakukan tahun depan berkenaan dengan bisnis yang dijalani. Pembicaranya sih perempuan-perempuan wirausahawan Surabaya yang itungannya sudah sukses dengan pendapatan profit jauh lebih besar daripada jadi pegawai biasa. Sebenarnya intinya sama sih untuk menjadi sukses itu harus fokus dan niat, menjadikan yang tadinya dianggap "usaha sampingan" jadi "usaha utama" yang berarti, ya pikirin aja tuh bisnismu, jangan pikirin yang lain (kecuali keluarga loh ya, coz family come first) 
Seminar-seminar bisnis semacam ini memang lebih ke motivasi diri aja, kita tahu sebenernya kita harus melakukan A dan B. Tapi karena kita males, ataupun lebih mikir hal lain ya nggak tercapai lah apa yang diinginkan. 

Sejalan dengan apa yang saya inginkan di tahun 2016, sebenarnya mirip dengan apa yang saya inginkan di tahun 2015. Saya ingin di tahun 2015 kemarin Little Mushroom semakin dikenal dan Liam semakin sehat. Alhamdulillah dua-duanya tercapai. Memang Little Mushroom belum sebesar gaji bulanan pegawai, hahaha #ngaku, tapi yang saya rasakan cukup lumayan karena saya semakin bisa mengeksplorasi banyak sekali craft thingy. Liam yang walaupun alerginya masih belum sembuh, tapi makannya sudah banyak, semakin sehat, semakin aktif, semakin menakjubkan :') 

Ngomongin apa yang saya inginkan di tahun 2016 berhubungan dengan Little Mushroom, hmm ... saya tetap ingin punya asisten, kata seminar kemarin, harus berani mengajarkan orang lain untuk bisa melakukan apa yang bisa kita lakukan agar pekerjaan kita bisa dibagi-bagi, dan nggak jadi beban sendiri. Jadi mencari asisten itu nggak sekedar mencari orang yang sudah bisa, tapi mencari orang yang mau diajari supaya bisa :) 

Bisa lebih banyak bermanfaat dalam pekerjaan di kampus juga merupakan resolusi baru, karena alhamdulillah di tahun 2015 saya akhirnya bisa jadi dosen luar biasa tapi status tetap, yang memudahkan saya untuk bisa mengurus NIDN plus membuat banyak penelitian :) InsyaAllah tahun 2016 bisa terealisasi, aamiiin ...

Perlukah membuat resolusi itu muluk-muluk, saya pribadi sih enggak, alon-alon asal kelakon aja, siapa tau ada jalan lain luar biasa yang diberikan Allah disana ... tapi kalau mau nyumbang slow cooker, bor tangan manual, atau sepatu baru juga boleh kok #wishlist2016 hahahaha 

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 

Wednesday, December 16, 2015

Ibu-ibu ngajarin ibu-ibu

Assalamualaikum,

Hahaha, judulnya, jadi Sabtu lalu saya as a foundernya Little Mushroom, akhirnya dapat kesempatan untuk ngajar di workshop lagi. Berbeda dari sebelumnya yang mengajar para "remaja" atau yang seumuran saya, nah ini saya ngajarin Ibu-ibu xD. Tapi plis deh, sekarang toh saya juga sudah Ibu-ibu, hahaha, lupa anak kali ya saya :p
Waktu ngajarin Ibuk-ibuk
Awalnya saya agak ragu, soalnya saya diminta untuk mengajar menjahit. Bayangan saya, saya harus tau elemen-elemen mesin jahit, membuat pola yang ribet dan etc etc ... 

Tapi karena teman saya yang mengajak itu getol ngajak saya dan encourage saya supaya mau jadi mentor di workshop tersebut, jadi ya sudahlah saya oke'in aja :D
Muka Sok serius xD
Ya yang saya ajarkan sih emang simple sih, cuma buat pouch serut, tapi ternyata banyak Ibu-ibu yang malah belum bisa menjahit sama sekali. Di lain pihak, juga ada beberapa Ibu-ibu yang sudah bisa menjahit, malah bisa dibilang lebih jago dari saya, nah loh, jadi akhirnya saya agak-agak ndredeg sendiri, apa ilmu saya bermanfaat ya. But then again, Alhamdulillah setidaknya saya bisa memberikan ilmu yang nggak seberapa ini ini agar beberapa Ibu rumah tangga di sana bisa lebih kreatif ke depannya :)
Contoh hasil pouchnyaaa, kemasannya bikin aw, mahal!
Jadi, terimakasih Srikandi Project untuk kesempatannya, semoga bisa ada kerjasama lagi ke depannya :)
Setelah acara workshop
I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Wednesday, December 9, 2015

[ Nitip Link ] - Website resep untuk anak alergi

Assalamualaikum,

Dislaimer, saya menyimpan beberapa link ini bukan berarti saya Ibu yang rajin masak banyak varian masakan untuk Liam tiap hari ya. Tapi karena Liam semakin ke sini semakin terlihat bakat alerginya, dan berat badannya juga tetep aja susah naiknya, yang kemungkinan karena alerginya juga. Mari kita disiplinkan diri, awalnya mungkin dengan cara ini, supaya saya nggak clueless mau masakin Liam apa hari ini yang eggless dan tanpa pengawet :) 

Jadi saya akan simpan beberapa website resep khusus untuk anak yang menderita alergi (akan ditambah setiap kali saya menemukan website yang menarik). Dan kalau ada yang mau share link serupa, komen-komen ya ;)


Semoga bisa disiplin setelah ini, bagi food allergy mama out there, mari berjuang bersama-sama :) 

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Monday, December 7, 2015

Saat merasa tidak menjadi Ibu yang baik ...



Read good quotes about being a Mom, peluk guling dan ciumi anakmu ... ;')

Wednesday, November 25, 2015

Antara Mbak, Ibu dan Tante

Assalamualaikum,

Saya mau cerita, beberapa tahun lalu, ketika saya pertama kali menjadi seorang pengajar, saya ogah dipanggil orang lebih dari panggilan "Mbak", khususnya mahasiswa saya saat itu. Bagi saya waktu itu yang belum menikah dan fresh graduate, panggilan Mbak adalah yang paling tepat, dan waktu itu semua mahasiswa sih berpandangan yang sama. Tapi semester berlalu dan kemudian hal-hal yang nggak enak mulai terjadi, saat kita dipanggil oleh orang yang kesannya seumuran, seperti mbak misalnya, bagi saya pribadi sih kita seperti dianggap remeh, diajak ngobrol dengan menggunakan kata "aku kamu", dan hormat kepada seseorang yang notabene adalah dosen seperti nggak ada sama sekali. 

Lalu pimpinan saya menyarankan kami yang dipanggil mas/mbak ini untuk mengganti panggilan menjadi Ibu atau Bapak. Awalnya saya merasa risih, I mean, I was looks so young, ya dulu itu sih maksudnya, hehehe. Nggak tinggi, masih pecicilan, suka becanda sendiri, tapi di lain sisi saya merasa itu harus dilakukan, "gap" itu sepertinya penting. Jadi semester berikutnya, saya sudah mulai dipanggil Ibu di kampus, awalnya aneh, saya merasa sangat tua. Tapi perbedaan itu terlihat sekali, saya seperti lebih terlindungi dengan kata Ibu, lebih disegani dan lebih punya "kuasa" pada mahasiswa. Walaupun di luar kampus saya agak risih kalau ketemu mahasiswa dan kemudian mereka memanggil saya dengan panggilan Ibu, hahaha. 

Cerita berbeda saat usia saya 27 tahun, dan kemudian jalan ke sebuah mall dan ditawari oleh seorang SPG yang memanggil saya dengan sebutan "Bunda", waktu itu saya belum menikah, dan ya ampun, rasanya begitu menyebalkan, hahaha. Saya yang belum menikah apalagi memiliki anak sudah dipanggil Bunda oleh orang lain. Saya merasa sangat berbadan "abis lahiran" banget gara-gara hal tersebut, padahal mungkin wajah saya yang mungkin sudah terlihat tua :p 27 tahun kan nggak muda-muda amat :D

Nah terus ada cerita lain saat saya sudah beneran jadi Ibu seorang anak, waktu saya ngajar sekarang merasa santai dan fine-fine aja mahasiswa memanggil saya dengan sebutan Ibu. Bahkan rekan kerja, orang di luar kampus ataupun spg di mol :D Sekarang saya juga nambah panggilan baru yaitu Tante, karena saya punya teman-teman yang anaknya seumuran dengan anak saya, atau kalaupun dia sudah hampir remaja, paling tidak dia anak dari teman atau saudara saya lah, saya merasa ya sangat oke mereka memanggil saya dengan tante. 

Masalahnya ada "tren" baru lagi nih, pernah suatu waktu saya ada suatu bazaar dan saat saya datang technical meeting tanpa Liam, saya dipanggil Mbak dong, senang hati saya karena dianggap muda, hahaha. Eh pas bazaar saya bawa Liam, mereka panggil saya apa ? TANTE, saudara-saudara!
Rasanya gemes banget, itu seperti saya berteman dengan Ibu mereka dan Liam itu seumuran mereka. Biyuh ... panggil Ibu kek, panggil Mbak kek, tapi memanggil saya Tante saat mereka cuma beda 10 tahun dari saya itu agak bikin KZL. 

Pernah di lain waktu, di kampus tempat saya mengajar, saya bermaksud membeli soda di vending machine yang ada di bagian depan kampus. Ternyata ada mahasiswa atau nggak tau deh siapa, pokoknya bukan mahasiwa saya, karena saya nggak kenal. Karena uangnya nggak diterima vending machine, saya menolongnya dengan menukarkan uang 2000rupiah padanya, dia kemudian bilang, "Makasih, Tante". Errrr .... konteksnya itu di kampus, saya menggunakan name tag, dan dandanan saya dosen banget. Dan dia panggil saya Tante, duh .... 

Intinya, Tante itu nggak selalu lebih muda dari Ibu, dan Ibu nggak selalu lebih tua daripada Mbak, jadi berhati-hatilah, mungkin ada orang yang nggak suka dengan panggilan-panggilan tertentu. Hehehe, peace! 

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Thursday, November 19, 2015

Random thoughts about being lecturer

Assalamualaikum,

Saya sudah menjadi dosen selama 4 tahun, mungkin lebih, walaupun sudah dikurangi masa cuti setahun nggak kerja karena ngurus anak. Sampai sekarang pun, saya masih sudah belibet kalau ngomong di depan kelas, hahaha. Dulu mana pernah kepikiran akan terjun ke dunia pendidikan seperti ini, jaman saya kuliah aja kalau ngomong di depan kelas untuk presentasi belibet banget, dan grogi! Dan kadang-kadang masih kebawa sampai sekarang. Dulu aja, teman kuliah saya nggak percaya saya pada akhirnya jadi dosen, dia lebih jago ngomong dibanding saya, dan dia takjub karena saya dianggap berani ambil keputusan bekerja di bidang ini.

Kalau model dosen seperti saya ini butuh baca dan mempelajari materi jauh-jauh hari, setidaknya 2 hari sebelum saya ngajar supaya saya bisa santai dalam menjelaskan materi pada mahasiswa. Kalau tidak, duh alamat keringet dingin, nggak santai melihat wajah-wajah mahasiswa yang pastinya mata-mata mereka tertuju ke wajah saya. I know, it sounds saya kok dosen yang nggak berpengalaman banget ya. Tapi angka 4 tahun untuk jadi pengajar itu memang angka yang sangat sedikit. Apalagi saya dulu adalah tipe orang yang nggak berani ngomong di depan publik, di depan banyak orang dan sangat pasif. Jadi, menjadi seorang pengajar membuat saya berubah banyak, kebanyakan positif untungnya.

Jadi dosen itu bikin saya berani bertanya di publik, berani punya pendapat sendiri, dan jadi dikenal banyak orang, hahaha, ya iyalah, satu kelas aja bisa berisi 30 orang mahasiswa atau lebih, dalam sehari bisa mengajar 2 kelas, dalam seminggu 4 kelas, dan setiap tahun mahasiswanya pasti bertambah dan semakin banyak orang lagi yang kenal saya, hahaha, saya yang dulu cupu kemudian pusat perhatian itu agak-agak bikin saya aneh pada awalnya. Tiba-tiba di mall ketemu salah seorang mahasiswa jalan dengan pacarnya, dan kemudian menyapa saya, atau saat saya jualan di bazaar tiba-tiba ada aja yang salim ke saya, itu aneh :p Tapi semakin ke sini, semakin bisa menerima kenyataan hidup ini #halah

Padahal saya jadi dosen itu karena mengikuti saran Ibu saya yang seorang pengajar yang sudah memiliki pengalaman hampir 40 tahun, hahaha, saya mah sepersepuluhnya. Jadi pada awalnya, itu bukan passion saya pribadi. Tapi karena kesempatannya ada di jalur itu, dorongan Ibu saya dan kemudian saya pun juga bingung mau dibawa ke mana titel saya ini, ya jatuhlah saya ke dunia kampus lagi.

Pada akhirnya saya cukup menyenangi pekerjaan ini, bikin saya agak pinteran dikit #loh hahaha. Sampai sekarangpun saya masih merasa pengetahuan saya sangat cethek dibandingkan rekan-rekan mengajar saya. Apalagi basic perkuliahan saya tidak sama dengan jurusan yang saya ajar sekarang, jadi banyak sekali istilah-istilah yang sebelumnya saya tidak paham saya temukan di sini. Selain juga saya harus banyak sekali membaca dan mencari ilmu secara otodidak apa yang harus saya ajarkan, karena saya toh sudah tidak kuliah desain selama lebih dari 8 tahun *ketauan tuanya* dan perkembangan desain sekarang semakin semarak.

Luckily, sekarang sudah mudah banget cari info dan pengetahuan di internet, horeee. Mestinya kalau mahasiswa rajin mereka bisa aja cari ilmu di internet, somehow, dari pengalaman saya mengajar 4 tahun ini, mostly dari mereka seperti belum sadar kalau mencari ilmu saat ini sangat mudah. Kalau di ingat 10 tahun yang lalu tidak akan semudah itu mencari ilmu di internet, toh ? :) 

Jadi merasa apa yang saya kerjakan ada gunanya untuk mereka, ihik :p

Sebelum berangkat ngantor, kadang-kadang saya centil foto dulu xD

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Sunday, November 15, 2015

Kekinian, agak-agak kecanduan lipstick

Assalamualaikum,

Jadi, beberapa waktu lalu, hmm, tepatnya awal-awal semester perkuliahan lalu, saya melihat foto salah seorang teman saya dengan bibirnya yang dipulas lipstik yang menurut saya warnanya catchy banget. Tanyalah saya, itu lipstik apa, dia jawab SMLC Marroco, googling dong saya, hahaha, ini macem bahasan saya sebelumnya ya, apa-apa digoogling, well anyway, gara-gara googling itu saya akhirnya ngerasa sudah waktunya saya serius makeup-an lagi. Soalnya gara-gara masuk ke salah satu blog yang isinya review lipstik ini, saya jadi lihat banyak koleksi SMLC lain, dan itu bikin ngileeeeer ... duh, saya terdengar ganjen banget yak ? hahaha, biar deh, 

Ceritanya, gara-gara saya hamil dan kemudian melahirkan, terus cuti kerja selama setahun, saya jadi lupa gitu dandan-dandan, pergi paling cuma bedakan sama pake pensil alis doang, termasuk juga jarang lipstikan. Terus, sekarang gara-gara saya "merasa" punya duit dari kerjaan, saya jadi pengen beli lipstik ini itu, gara-gara apa yang saya googling itu tadi di atas. 

Dan ternyata selama beberapa bulan terakhir ini, koleksi lipstik saya sudah banyaaak, bayangkan, 9 biji! (err, ini itungannya banyak lah buat amatiran macam saya, untungnya bukan beauty blogger yang harus beli buanyaaak lipstik dicobain satu-satu sampe lupa makan, eh) Lagian koleksi saya ketambahan dari yang sudah saya punya lama, hahaha, nggak habis-habis gara-gara jarang dandan :p

My nine collections
Terus sok-sok'an kayak beauty blogger gitu, saya bikin lipstick swatch dan foto bibir saya doong,  hahaha. Please jangan muntah ya xD 

Monggo di klik untuk memperbesar ukuran gambar :D
Jadi setelah saya coba untuk memulaskan lipstik-lipstik itu berturut-turut di satu waktu, saya akhirnya sadar. Aduh ternyata warnanya hampir sama semuaaa ... agak-agak nyesel gitu deh kenapa coba impulsive banget supaya tau rasanya pake lipstik ini itu xD

Ini buktinya kalau warnanya mirip-mirip ~.~"



Jadi saya punya 4 lipstik Revlon yang saya punya dari baheula, intinya sih gara-gara Ibu saya pakenya itu saya jadi nurun pake merk yang sama juga. Tapi tetep warna yang saya pilih adalah warna bibir agak orange kecoklatan.

Terus yang kemudian saya beli recently adalah NYX SMLC San Paulo, yang bagi saya ternyata warnanya fuchsia banget, yang bikin saya nggak pede pake, hahaha, padahal katanya sih nggak terlalu menor. Lalu NYX SMLC London, yang warnanya nude banget, saya suka saya suka, hihihi. Terus gara-gara saya lihat salah satu teman saya yang pake lipstik matte NYX Strawberry Daiquiri, saya langsung pengen beli, setelah beli, suka banget warnanya, sayang bikin bibir pecah-pecah, huhuhu. 

Terus setelah lihat beberapa beauty blogger yang pake lipstik tinted Sleek Birthday Suit, saya jadi tertarik beli, eh ternyata bikin bibir kering banget, akhirnya saya barter sama teman saya yang punya La Splash Latte Confession, waaa, untungnya saya lebih cocok pake yang ini :D

Terakhir, ini juga gara-gara review temen sih, beli lipstik crayonnya Oriflame, The One, warna soft peach, ternyata saya nggak suka. Pengen jual lagi, kok ya ragu ada yang mau beli ya, hehehe. Situ mau beli ?

Jadi intinya saya stop dulu deh beli-beli lipen, selain juga masih banyak, toh saya pasti akan beli warna-warna sejenis, kan eman juga belinya, hihihi. But bottom line, menurut saya 3 lipstik plaing favorit sekarang sih, masih Revlon 230 (soalnya udah make sejak bertahun-tahun yang lalu), NYX SMLC London sama La Splash Latte Confession. 

La Splash - Latte Confession
Jadi siapa yang kecanduan tapi mulai sadar seperti saya ? :D

*maaf karena gambarnya gak hi resolution, jadi akhirnya warnanya jadi berasa sama ya*


I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Wednesday, November 11, 2015

Tanya ke Mak Gugel

Assalamualaikum, 

Saya barusan browsing tentang sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan Liam, dan seperti sebelum-sebelumnya. Saya menemukan banyak jawaban yang kadang bikin saya pinter tapi nggak jarang tambah puyeng. Hahaha, begitu mudah sekali ya sekarang, menemukan jawaban ketika kita bingung dan endingnya sih buka laptop, atau bukan browser di ponsel dan guglinglah kita.

Dulu, sekitar tahun 2006, weits itu 9 tahun yang laluu ... tuwir guweeeh, hahaha, ehem, nah, di tahun itu di saat masih eksis yg namanya yah** messenger, saya chatting dan bertanya pada teman saya tentang sesuatu yang saya bingungkan di saat itu. Dia bilang, "gugling dooong". Saya dengan polosnya jawab, "hah apa itu gugling ?" hahaha, setelah teman saya menjelaskan tentang google search baru deh saya nyambung dan akhirnya rajin menggunakan fitur ini. 

Dan sekarang sepertinya hal ini sudah menjadi sebuah keharusan, kalau kita bingung tentang penyakit kita misalnya, masukin gejala-gejalanya, dan Mak Gugel bisa menjawab. Contoh lain adalah saat kita ada tugas kuliah dan kita masukin keyword tertentu, misalnya ... style desain modern awal (pengalaman pribadi dengan mahasiswa ini), dan cliiing ... Mak Gugel menjawab dengan berbagai macam jawaban, dan kadang, satu situs dengan situs lain itu isinya sama. Mungkin satu situs copy paste dari situs lain. Nah hal ini nih yang bikin kita kurang pinter. 

Harapan saya sebagai seorang dosen, ketika mahasiswa menemukan sebuah, dua buah jawaban dari Mak Gugel, mereka akan mengembangkan apa yang sudah mereka temukan. Tapi ternyata kemudahan itu hanya ditelan mentah-mentah oleh mereka. Mungkin mereka mikir, ah dosennya nggak bakalan nyadar. Padahal saya orang yang cukup kepo tentang kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh mahasiswa. Hahaha, yes you, beware :p

Intinya sih, bercermin dari hal itu juga, saya nggak bisa menelan mentah-mentah apa yang diumbar di berbagai artikel di banyak website yang disediakan Mak Gugel. Second opinion ataupun bertanya langsung pada ahlinya mungkin akan lebih membuat kita lebih merasa aman. 

Tapi gara-gara Mak Gugel, Little Mushroom jadi banyak pemesannya, hahaha ... well, thank you Mak gugel, I love you full! :D

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 

Tuesday, November 10, 2015

Mau duit kok males

Assalamualaikum,

Hai, apa kabar semua, mumpung masih hot-hot-nya di otak saya, saya pengen tulisin unek-unek saya.

Saya tiba-tiba pengen ngomong, saya ini "business woman" yang payah, kalau orang udah niat berbisnis, harusnya ya niat melakukan ini itu. Tujuan akhirnya mungkin mencapai profit sebanyak-banyaknya dan meningkatkan kualitas diri. Lah saya, hmmm, kayaknya saya belum bisa dibilang sebagai bisnis wumen. 

Padahal sudah hitungan 3 tahun lebih saya nyemplung ke bisnis prakarya ini. Jujur aja, saya bahkan masih blur, impian saya terhadap Little Mushroom itu apa. Ya saya pengen Little Mushroom dikenal orang, dapat profit dari situ, lalu akhirnya berimbas banyak yang akhirnya memesan atau mengkoleksi barang-barang aneh yang dibuat sama saya. 

Tapi seringnya, saya takut banyak yang pesan sehingga keteteran, karena balik ke judulnya saya ini orang yang pemalas dan menggampangkan banyak hal. Yang malah saking mikir kalau ini itu gampang, saya akhirnya mutung. Saya nggak bisa menyelesaikan sebuah orderan karena orderan itu bagi saya perlu effort yang lebih besar. Duh, saya benci sisi saya yang itu, dan lebih benci lagi saya nggak berusaha memperbaiki keadaan. 

Don't get me wrong, bukannya terus saya nggak suka melakukan pekerjaan saya. Crafting itu menyenangkan, sangat menyenangkan! Membuat sesuatu yang endingnya bisa dipakai orang, atau membuat orang lain senang itu seperti ada kehangatan yang menjalar di tubuh #halah. Dan kadang saya mau kok melaksanakan effort yang lebih besar itu. 

Padahal ya saya juga butuh uang, eh ini bukan perkara duit dari suami kurang loh ya, tapi dapet uang dari effort kita sendiri itu rasanya lebih menyenangkan dibanding cuma dapet dari suami. Iya kan ?Tapi saya juga ngajar sih, ya dapat duit juga dari ngajar, eh kok kesannya saya jadi nggak bersyukur gitu ya ? Udah dapat duit dari suami, dapat duit gaji, tapi tetep aja ngerasa butuh dapet duit lagi. Jadi ingat ungkapan yang intinya semakin merasa kita memiliki banyak uang yang didapat, semakin merasa banyak yang harus dibeli, yang bikin momok sendiri dalam diri kita. Kayak kita dituntut untuk mengejar uang terus. Damn, kok greedy banget ya jadinya :(

Eish, kok jadi melenceng sih, bukan karena uangnya kok ini, bener. Apa karena mindset ya, padahal saya sendiri yang selalu wanti-wanti ke mahasiswa, nggak ada yang instan di dunia ini. Masa iya, Little Mushroom bisa sukses dengan sendirinya kalau orang yang ada di dalamnya nggak berusaha mendapat apa yang menjadi tujuannya #taserdirisendiri

Atau mungkin pada akhirnya saya memang butuh orang lain ? Saya nggak bisa bekerja sendiri, karena waktu dan pikiran saya sudah terpecah, entah ngurus anak, ngurus rumah, ngurus prakarya, ngurus kampus, belum lagi ngurus diri sendiri. Ya ya, ada memang yang mampu dan wonder woman gitu, tapi saya toh bukan mereka dan kemampuan orang beda-beda, dengan kerjaan yang nggak sama juga kan. 

Ck, blunder deh, butuh orang tapi butuh duit, butuh duit tapi butuh orang, butuh duit tapi males, males tapi kebutuhan banyak. Jiaaah .... sudahlah, saya curhat sama yang punya nyawa saya dulu.

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Wednesday, August 12, 2015

Berenang bersama Liam

Assalamualaikum,

Saat sadar Liam sudah semakin besar, saya dan bojo pengen Liam ada kegiatan lain selain bermain di rumah saja. Opsinya antara lain berenang. Tapi nggak pernah terealisasi karena yaaaa .... anak seorang wartawan ya, hahaha, hush. Sebenarnya bisa aja sih saya nganter Liam sendiri untuk berenang, tapi saya ragu nanti akan ribet saat ganti baju dan lain-lain. Ternyata setelah ngetes renang sama Liam kemarin aw, emang agak ribet ya kalau renang sendiri aja sama Liam.

Jadi, setelah lama dijanjikan, akhirnya kami berangkat juga berenang sama bapaknya Liam Jum'at minggu lalu, horee. Setelah mikir tempat mana yang tepat berangkatlah kita sekitar jam 7 pagi dari rumah. Awalnya mau berenang di kolam renang salah satu kampus negeri di daerah Surabaya Barat, alias Unesa, eh ternyata baru buka jam 8 dong, ya daripada nunggu dan panas juga gitu, akhirnya kita beralih ke opsi lain, yaitu ke Club House Wisata Bukit Mas. 

Tempatnya bersih dan ada untuk kolam anak kecilnya, sayangnya nggak ada untuk permainan anak kecilnya. Tapi apalah, wong ini untuk main nyebur-nyeburan aja kok, hihihi. Ya secara bapak maknya Liam nggak ada yang bisa berenang, ooops. HTMnya 30ribu rupiah per orang, sepertinya anak di bawah 3 tahun tidak di charge, nyatanya kami cuma bayar 60ribu rupiah.

Liam awal-awal takut-takut gitu mau nyebur, tapi akhirnya nggak mau mentas, hahahaha. 

Pemanasan dulu tante dan oom
Sini Bapak, aku ajalin lenaaang ...
aaaww ... buuu kemacukan aeelll ....
Pak ayooo nyebur lagiii
nggak mau liat kamela aaah ... mau maen ael ajaa ...
Pengennya sih setelah ini rutin paling enggak sebulan sekali, tapi ya balik lagi, yang penting ada orang yang bisa dampingin, biar nggak ribet saat harus ganti-ganti baju. Yang paling penting lagi, Liam senaaang, abis selesai renang di rumah langsung tepaaaar di rumah :D

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Saturday, August 1, 2015

Memasuki Agustus

Assalamualaikum,

Saat laptop saya masuk bengkel, kepikiran juga akhirnya untuk membuat postingan di sini *nyatut komputer kantor Bapak*

Postingan terakhir tentang laba-laba yang harus dibersihkan di blog ini, dan ternyata sarangnya makin banyak, hahaha. 

Saya posting takut percuma aja, soalnya saya bayar nama blognya, eman dong kalo nggak dipake, ya walaupun di blog Little Mushroom lumayan ada lah postingannya tiap bulan #medhit. Ya abisnya susah juga mau nulis apaan di sini, nulis tentang Liam ? tentang kerjaan ? problem dan ceritanya begitu-begitu aja sih, hihihi, nah kalau tentang crafting sudah terprovide di blog satunya, akhirnya saya ya jadi jarang nulis-nulis di sini. Atau mungkin saya memahami kehidupan saya ya flat-flat saja xD 

...................................................

Barusan saya bingung mau ngelanjutin nulis apa, oke, kegiatan saya untuk sementara tidak banyak berubah, seorang ibu rumah tangga yang bekerja paruh waktu menjadi dosen dan crafter. Mungkin nanti kalau sudah waktunya ngajar lagi, saya jadi ada banyak bahasan yang bisa saya tulis, atau tepatnya ngroweng soal mahasiswa ya, hahaha. 

Sebenarnya rindu juga sih, menulis kemudian membalas komen teman-teman, tapi kan itu sudah saya lakukan di instagram ? #teteup. Atau ya harus balik ke tujuan semula ngeblog ini untuk apa ? untuk mendokumentasikan kehidupan saya (yang bagi saya flat itu) kan ?

Ya, saya mau semedi dan menanamkan pernyataan saya di atas itu dulu deh, semoga bisa istiqomah :D

Anyway, selamat Lebaran ya, yang saya belum sempat ngucapin, telat 2 minggu lebih sih, tapi daripada nggak ngucapin ya :D Selamat memasuki bulan Agustus juga, yang barusan gajian ayo belanja dan order di instagram @littlemushroom_ hihihi, have a nice August people :)

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Friday, April 17, 2015

Bersihin sarang laba-laba sambil babbling

Assalamualaikum,

Hai hai, wih lama ya saya nggak posting di blog ini, hihihi, berasa ada yang nunggu aja :p 

Hey mas Ndop, mbak MilaSaid dan mas mbak yang disitu tuh yang lagi baca postingan ini, yang masih nyempetin mampir di blog penuh sarang laba-laba ini, apa kabar kamyuuh? hehehe
Situ saya mention karena yang paling rajin komen :p

Haduh haduh, sudah April ya, terakhir saya posting Januari lalu looh ... lama ya, cyiiin. Maklum deh ya sibuuk ... sibuk posting di Instagram mulu maksudnya, hahaha. Adiktif banget tuh microblog, setdah ...

Jadi mau ngomongin apa kitah ? 
Untuk memulai keniatan saya untuk posting di blog ini, kita ngomongin short biography saya sekarang deh :

Ibu-ibu, baru masuk kepala 3 tahun ini, yang masih terlihat imut (ouh), dengan anak usia hampir 20 bulan, kegiatan tiap harinya dipenuhi dengan ngurus anak, malamnya jadi crafter (yang seringnya terjangkit kemalasan dengan alasan capek), tengah minggu dapet kesempatan "pisah" sebentar dari anak karena harus ngajar di salah satu universitas swasta di Surabaya, yang endingnya mesti nitipin anak di "sekolah" karena di rumah nggak punya rewang yang bisa bantuin saya ngurus anak (susah sekarang cari rewang, iya tho ?), masih berstatus istri jurnalis tentunya, yang mesti siap-siap dengan kegiatan mendadak suami keluar kota :D and etc, etc, etc ...

My life so much fun, though, karena tiap hari dipenuhi kegiatan yang membuat saya harus belajar, ya belajar sabar, belajar bikin pinter anak, belajar ngerti pengennya anak, belajar manage waktu (nah yang ini belum sukses banget nih), belajar manage uang (sering boros, duh), belajar crafting juga, belajar masak, dan lainnya, well ternyata bener banget seorang Ibu dan perempuan itu memang harus multitasking, semua harus bisa dilakukan. 

Menurut saya yang penting banget ya jadi gurunya anak sih, jadi kalau ada salah satu artis dangdut bilang sudah cukup jadi perempuan atau Ibu itu yang penting tau 1+1=2, oh my God, bukannya saya mau menghina tuh artis ya, tapi gimana ya kalau bisa berusaha lebih tinggi dan membuat anak lebih bangga terhadap Ibunya dan lebih bisa pintar karena Ibunya menjadi guru terbaik untuk anaknya, menurut saya itu sebuah pencapaian yang luar biasa. Pasti sering tau dengan meme dari Dian Sastro tentang Ibu cerdas itu kan. Saya, suami dan kadang dengan Ibu saya juga sering membahas ini, contoh terbaik anaknya ya orang tuanya. Secara yang tiap hari sama Liam itu Ibunya ya otomatis Ibunya harus bisa cerdas untuk jadi contoh anaknya, right ? 


Ini dari biografi kenapa endingnya saya membahas Ibu cerdas ya, hahaha, ya maklum saya kan sering terseret situasi xD

Sudah ah, nanti saya coba sering bersihin sarang laba-laba di blog ini deh, sekalian bersihin tampilan dan bersihin spam, hihihi, so see you guys soon, saya mau kerja lagi ...

I think that's all, thank you  

Wassalamualaikum,

Thursday, January 22, 2015

#CeritaLiam Pt 4 : Defisiensi Zat Besi dan Alergi

Assalamualaikum,

Saya malam ini mau ngomongin Liam lagi, biar jadi catatan saya aja, pengingat juga kalau nanti (kalau) Liam punya adik, hehe, jadi saya nggak akan mengulangi kesalahan yang serupa. Damn, kok kesannya saya jadikan Liam kelinci percobaan ~.~" eh, bukan gitu sih, I'll do my best selama 16 bulan ini demi Liam. Tapi yang namanya orang tua baru ya, eh orang tua lamapun sebenarnya bisa aja punya pengalaman baru terhadap anaknya sih, tapi ya sudahlah balik ke masalah Liam.

Terakhir kali saya membahas serius tentang Liam saat dia akan melakukan sunat sebelum dia berulang tahun yang pertama hampir 5 bulan yang lalu. Ternyata setelah 5 bulan, belum ada perkembangan signifikan soal berat badan Liam yang masih saya kenaikannya sangat sangat seret. Sebagai orang tua, lagi-lagi saya merasa down, apa yang selama ini masih belum saya lakukan ? Jawabannya, BANYAK. 
Saya pernah berjanji pada diri saya sendiri untuk menjadi Ibu yang "pintar", I mean, cari info sebanyak-banyaknya, lakukan semua hal, semua yang memang bisa berguna demi anakmu. Dan saya terbuai dan termudahkan oleh kata-kata dokter kalau setelah ini itu, kenaikan bbnya akan signifikan. Seperti sunat kemarin contohnya. Oh ternyata tidak semudah itu.

Saya punya beberapa teman yang anaknya kasusnya hampir sama dengan Liam. Berat badannya mepet normal, hampir di bawah normal, seperti Liam. Sering sharing, dan membuat saya merasa saya belum melakukan banyak hal, seperti mereka. Walaupun sebenarnya saya nggak boleh membuat diri saya stress dengan hal ini, tapi ya seperti biasa, saya kebawa deh. 

Jadi di awal tahun ini, saya konsul ke DSA lagi, kali ini dokter yang berbeda. Setelah konsul, kami disarankan untuk melakukan tes darahnya Liam. Sehari setelahnya kami langsung ke lab, walaupun cukup nggak tega melihat Liam dibedong dengan paksa untuk diambil darahnya oleh petugas Lab, apalagi Liam masih nggak bisa kalau nggak nangis ketika bertemu dengan orang baru. Hiks, sedih. Apalagi waktu itu dia masih masa pemulihan setelah terkena Roseola, empat hari demam dan kemudian timbul ruam-ruam merah di sekujur tubuhnya. Jadi badannya masih nggak fit, tapi ya kami merasa harus melakukan sesuatu secepatnya. 

Setelah dites, besoknya kami ambil hasil labnya dan diketahui ternyata Liam terkena defisiensi zat besi, semacam anemia, kekurangan darah yang memang hal tersebut menghambat perkembangan dari bayi. Katanya memang ini sering terjadi pada bayi yang hanya minum ASI. Saya bukan menyalahkan ASInya, saya menyalahkan diri saya yang harusnya memakan makanan yang membuat ASI saya lebih melimpah atau lebih bergizi. Karena ya yang saya baca di internet, hal tersebut cukup mempengaruhi. Nah, note for self kan ?

Akhirnya dokter memberikan suplemen makanan yang mengandung zat besi, yang memang sangat dibutuhkan untuk boosting kandungan zat besi dalam tubuh anak. Karena kalau sekarang, hanya melalui makanan yang mengandung zat besi saja ya nggak nutut, suplemen makanan sangat sangat dibutuhkan. Jadi terapi pertamanya adalah Liam harus minum suplemen tersebut setiap hari sampai 3 bulan ke depan. Minum sebulan saja memang nggak akan ngefek sih, karena melihat angka yang ditunjukkan setelah dites darahnya, memang kurang sekali zat besinya. 

Tapi sebenarnya bukan hanya itu yang membuat zat besi di tubuh Liam tidak terserap sempurna, sehingga menghambat pertumbuhannya. Ternyata ini juga karena efek alergi yang dulu pernah saya bahas juga di blog ini. Jadi kalau orang yang memiliki alergi terhadap makanan atau pemicu tertentu, hal tersebut membuat metabolisme orang yang terkena alergi bekerja lebih berat, dan katanya sih akan menghambat pertumbuhan juga. Nah jadi ini salah orang tuanya lagi dong, sebenarnya saya memberikan makan apapun pada anak saya karena saya ingin dia bisa tahan pada semua makanan, yang konon katanya memicu alerginya. And, oh ini orang tuanya perlu ditimpuk buku kali ya, it's a big mistake!

Mestinya ya semua pemicu alergi itu harus dicatat dan dites pada anaknya, tiga minggu sekali, sehingga kita tau apa saja yang benar-benar membuat dia alergi gatal, alergi batuk-batuk, atau alergi diare. Yes, setiap pemicu, bisa menyebabkan akibat yang beda-beda. Liam, by the way, hampir selalu batuk sepanjang bulan. Kami pikir waktu itu adalah ia tertular teman satu TPAnya, oh ya, saya memang sempat menitipkannya ke TPA waktu saya bekerja full time waktu itu (yang sekarang tidak lagi). Sejak saya bekerja itu memang saya sudah ngoplos ASI saya dengan sufor dan UHT, yang ternyata ngefek banget ke pernafasannya dan bab-nya yang seringnya tidak terlalu padat.

Kalau dilihat dari history-nya sih, yang saya tau, Liam pasti akan merah-merah dan gatal saat saya berikan ia makanan yang mengandung telur. Pure telur, seperti telur didadar atau diceplok, sejak itu saya nggak pernah memberikannya telur dengan metode apapun. Tapi saat saya memberikannya biskuit (yang pasti mengandung telur) ia "sepertinya" baik-baik saja. But no, nggak gitu juga loh, karena itu tadi metabolismenya bekerja lebih berat dan ya kami memang kecolongan soal ini. 

Lagi-lagi kami memulai dari awal, jadi selama seminggu ini Liam sudah diet beberapa makanan yang "biasanya" pemicu alergi. Susu sapi, telur dan ikan. Setelah ia hipoallergenic, Februari nanti kami akan melakukan beberapa "tes" beberapa makanan yang mengandung alergi tinggi itu. Baru deh ketauan dia alerginya pada apa saja. Sekarang Liam kembali hanya minum ASI, padahal mungkin ASI saya memang tidak sebanyak dulu, tapi setidaknya masih keluar. Saya juga mengganti makanan Liam yang tadinya menggunakan kandungan susu sapi (UHT) dengan menggunakan santan atau susu kedelai. Jadi itu adalah terapi kedua Liam, dan saya nggak tau terapi apa lagi yang mungkin memungkinkan untuk Liam, mungkin harus dibarengi dengan doa sebanyak-banyaknya mungkin :)

Sekarang saya nggak mau koar-koar kalau ini pasti berhasil atau apalah, saya belum akan puas saat benar-benar terlihat hasilnya. Karena saya takut sakit hati lagi, hehehe, jadi bismillah saja, yang penting sekarang saya melakukan apapun saran terbaik dari dokter buat Liam.

Bismillah .... wish us luck (again) :)

I think that's all, thank you  

Wassalamualaikum,

Friday, January 9, 2015

Budaya Copy Paste

Assalamualaikum,

Hai people, tiba-tiba saya kepikiran pengen nulis ini, gara-gara saya mendengar talkshow di salah satu radio di Surabaya. Tentang murid yang sekarang termudahkan teknologi internet dengan mengandalkan ctrl c lalu ctrl v, alias copy paste. Padahal pengajar meminta murid untuk menganalisa suatu masalah, menganalisa ya berarti menganalisa, "menjlentrehkan" dengan bahasanya sendiri, namun dengan mudahnya murid mengcopy paste apa yang didapatkan dari internet dan memasukkannya ke dalam makalah/artikel yang dibuatnya tanpa diedit sama sekali.

Selama hampir 4 tahun saya mengajar di dua tempat, kejadian ini memang nyata sering terjadi. Kebetulan saya mengajar beberapa mata kuliah yang berupa teori, yang berarti analisa adalah hal yang cukup penting. Namun pada kenyataannya setiap kali saya meminta mahasiswa untuk mengerjakan beberapa tugas yang berkaitan dengan rangkuman, analisa, riset dan sebagainya, banyak dari mereka yang menggunakan metode copas tersebut. 

Budaya ini sebenarnya bisa menjadi sebuah masalah yang serius loh. Ya bayangkan kalau semua individu hanya menggunakan satu sumber yang sama, maka di masa depan bisa-bisa tidak ada orang yang mau mengembangkan suatu masalah tersebut. 

Namun setidaknya masih ada beberapa mahasiswa yang mencantumkan sumber artikel di mana mereka mendapatkan sebuah informasi tersebut. Walaupun masih ada yang menggampangkan masalah tersebut dengan tidak mencantumkan sumber, dan ketauan dari tugas mahasiswa lain kalau jelas-jelas itu sama.

Pembelajaran untuk saya ke depannya sih, mungkin saya akan membudayakan mahasiswa untuk "maksa" menggunakan pemikirannya sendiri, dan katanya sih menulis (dengan alat tulis) merupakan metode yang cukup efektif. Karena mau tidak mau kita harus berpikir saat menulis manual, hehehe, iya kan ? Itu juga sih kata pembicara di radio tersebut.

Hehehe, ini hanya sedikit catatan dosen yang agak gemes sama mahasiswa yang gampangin tugas, yang kebetulan barusan dengerin acara di radio yang pembicaranya membuat pernyataan sesuai dengan pemikiran saya. 

So beware, students! #halah

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Monday, January 5, 2015

Memulai 2015

Assalamualaikum, 

Hi teman-teman, sudah jarang sekali saya update di blog ini ya, mungkin passion saya untuk mengukir sejarah melalui blog sudah memudar, hehehe #bahasaguweh. Kalau kata suami saya karena sekarang kegiatanmu lebih banyak dibanding saat belum menikah dan bahkan punya anak. Tapi ah, saya rasa enggak juga, toh banyak emak-emak lain yang masih rajin nulis di blog pribadinya bercerita tentang kegiatan dan kehidupan keluarganya. Ya, mungkin passion saya tidak difokuskan pada blogging lagi, tapi toh saya masih akan ada di sini untuk mengisi blog ini sewaktu-waktu :)

But anyway, beberapa kali blog sebelah punya saya juga masih saya update, secara saya jualan disana, hehehe. Ngomong-ngomong soal jualannya blog sebelah, Alhamdulillah pesanan sudah mulai banyak, tapi karena banyak saya jadi bingung bukan kepalang. Karena bingungnya itu akhirnya saya memutuskan untuk melakukan rencana A dan B. Itu yang mau kita omongin di tulisan ini sekarang.

Yup, kita ngomongin memulai 2015. Ya Allah, nggak kerasa cepet banget waktu berlalu, tiba-tiba udah habis aja 2014. But years just a number, pertanyaannya kita berubah menjadi lebih baik atau lebih parah dibanding sebelumnya ? 

Kalau saya pribadi sih, sayangnya saya belum berubah banyak, saya beberapa waktu masih saja menjadi pemalas, dan itu adalah hal yang membuat saya kadang mengutuk diri saya sendiri. Malas menjadi habit saya, dan itu mengerikan. Bayangkan, pesanan banyak tapi sering sekali pending karena saya malas. 

Tapi hal itu membuat saya berpikir hal yang menjadi impian saya sejak lama, saya ingin punya pegawai. Ouh, menyenangkan kedengarannya, saya lebih banyak membuat konsep desain dan menggambar dibanding eksekusi (menjahit), masih bisa bekerja paruh waktu juga, masih bisa ngurus Liam 100%, nggak perlu nunggu malam atau lembur buat ngerjain ini itu karena Liam nggak mungkin ditinggal, juga bisa membuat lapangan pekerjaan untuk orang lain. Aaah, sounds wonderful dan easy ... Masalahnya, apa mungkin ada yang mau diajak bekerja sama dengan budget yang minim karena usaha saya belum besar ? Aaaah, cut the negative thinking, pasti ada Fen, ayo di awal tahun ini kita berpositif thinking, dan semangat! Hihihihi #selfreminder

Tapi untuk sementara, yang paling urgent nih, saya harus bisa mengubah habit saya, penting banget ini, imbasnya tentu saja bukan hanya masalah kerjaan. Karena sekarang saya punya anak yang beranjak gede, saya jadi mikir, kalau habit saya jelek, pasti nanti anak saya niru apa yang saya lakukan, which is itu serem ya. Anak meniru apa yang ia lihat, dan kalau Bapak Ibunya berkelakuan jelek, "biasanya" anak akan meniru kejelekan itu. Kan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya :)
Taken from this LINK
Jadi resolusi saya terdekat adalah berlatih untuk menjadi orang yang lebih rajin. Yatta!
Semoga tulisan ini bisa menjadi pengingat saya. Saya harus bisa menjadi orang yang lebih baik, demi masa depan yang lebih baik, hihihihi

Jadi apa resolusimu ?

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...