Friday, September 20, 2013

Cerita Liam Pt. 1

Assalamualaikum,

Postingan ini bakalan panjang banget, soalnya saya nulisnya sampai 3 hari sambil mewek-mewek, hehehehe, jangan capek ya ;)

28 Agustus 2013 : 
40 minggu pas sudah usia kehamilan saya waktu itu, paginya saya merasa sedikit sakit di perut, apa itu kontraksi, saya ragu, tapi daripada bingung, saya akhirnya ke rumah sakit juga untuk memeriksakannya. Ternyata, tidak, saya belum bukaan, dan kontraksinya palsu, si adek ngerjain nih :p. Jadi malamnya daripada galau si adek belum terasa akan keluar, saya diajak Masrum makan di resto all you can eat jepang, huwoo, gak pernah kebayang sama saya usia kehamilan segitu, masih bisa dibonceng motor dan makan all you can eat yang banyaak. Malam itu saya merasa beberapa kali sakit perut (semacam dilep saat akan menstruasi) saya pikir itu hanya karena saya kekenyangan, ya secara all you can eat yah :D. Sampai rumah, belum terjadi apa-apa, hanya beberapa kali sakit di perut tapi tidak teratur. Tengah malam, mulai pukul 23.00 sakit itu mulai teratur, 10 menit sakit yang amat sangat di perut bagian bawah kiri, kemudian hilang, kemudian muncul lagi. Berulang-ulang sampai pagi Subuh, ya saya tidak bisa tidur semalaman, sedangkan Masrum sudah pulas aja tidur di sebelah saya. 
Saya sempat bilang, "Yank, nanti ke rumah sakit ya?"

Dia jawab, "Iya, kalo udah kerasa sakit banget ya"
Padahal saya memang sedang mengalami kontraksi tahap awal.



29 Agustus 2013


Subuh. Saya sudah merasa sulit bergerak dan memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit saat itu juga. Untung kami memilih rumah sakit yang hanya 10 menit jaraknya dari rumah, sehingga saya tidak merasa was was, dan itu masih pagi banget, jalanan lumayan sepi dan taraa, itu hari pencoblosan pilgub yes, hari libur, si adek pinter banget milih hari ya, hehe.

Pemeriksaan awal dilakukan oleh bidan, ternyata baru bukaan 1, wah, bukaan 1 saja sudah sakitnya 2-3 kali sakit premenstruasi kaya' gitu, bayangan saya gimana saat bukaan 10? ~.~"Untuk menunggu sampai bukaan berikutnya datang, saya diminta untuk menunggu dan berjalan-jalan di sekitaran rumah sakit. Di saat yang sama ada pasien kandungan lain yang sedang akan melahirkan juga, saat itu si Ibu sudah bukaan 6, tapi calm sekali, usut punya usut, ini sudah kelahiran anak ke tiga. I wonder apa Ibu itu sudah "menikmati" rasa sakitnya.


Pukul 09.00 : Pada saat saya beristirahat di ruang bersalin, si Ibu itu akan melahirkan, huwoo, daripada saya stress mendengar rintihannya, saya mending kabur keluar dulu saja menunggu di teras. Yes I kind a freak out, suami saya juga entah sedang dimana saat itu.


Sekitar pukul 10.00-12.00 : Bukaan saya diperiksa lagi, ternyata baru bukaan 2, oh my, rasanya semakin sakit. Akhirnya saya diminta istirahat dulu di ruang rawat inap. Karena hari itu pencoblosan, saya sempat diminta untuk mencoblos pilgub oleh anggota KPPS dekat sana. Hahaha, benar-benar warga Jawa Timur yang tertib ya.


Sekitar pukul 13.00 : Perut saya semakin sakiit, dan jarak kontraksinya semakin pendek, saya pikir sudah bukaan berapa, saat saya dipindahkan ke kamar bersalin ternyata baru bukaan 3. Saya sudah nggak doyan makan, padahal harus, pizza-pun yang dibelikan masrum tidak saya sentuh, rasanya mau pingsan saja.


Sekitar pukul 14.00 : Sakit semakin menjadi, saya teriak-teriak nggak jelas. Tangan saya sudah memegang dan meremas besi bagian atas tempat tidur bersalin. Para bidan bilang saya harus rileks, tapi rasanya sulit rileks dalam keadaan seperti itu. Saya meminta suami untuk memijat punggung bagian bawah saya, itu cukup membantu walaupun tidak sepenuhnya menghilangkan sakit. Setengah jam berlalu saya masih kesakitan, dan tiba-tiba saya merasakan sesuatu yang pecah dari dalam tubuh saya dan keluar begitu saja melalui bagian bawah. Saya reflek teriak, "Ketuban pecah! Ketuban pecah!"

Saat itu diketahui ternyata ketuban saya sudah keruh cenderung hijau, saya tidak tau penampakannya, saya juga tidak mau tau, tapi yang jelas bidannya bilang, "Bu, ini ketubannya keruh, daripada membahayakan si bayi, harus dilakukan tindakan operasi"
Tiba-tiba saya menangis, merasa lemah, karena saya merasa saya belum cukup kuat untuk bisa melahirkan anak saya secara normal. Suami saya di sebelah saya mengatakan tidak apa-apa. Saat itu hanya sampai bukaan ke 4.

Pukul 14.30 : Infus mulai dipasang di punggung tangan kiri saya, sakitnya perut masih sangat terasa, hingga beberapa kali tindakan injeksi menunggu sakit saya reda dulu. Hingga akhirnya saya dimasukkan ke ruang operasi, saya tidak melihat suami saya waktu itu, yang saya tau belakangan ia harus menebus antibiotik untuk operasi saya. Saya hanya melihat Ibu saya, dan tiba-tiba saya merasa harus minta maaf kepada beliau.

Itu pertama kalinya saya masuk ke ruang operasi, dingin, putih, lampu besar di tengah ruangan. Dokter kandungan saya belum datang awalnya. Dokter anastesi mulai memberikan injeksi di bagian tulang belakang atau entah tulang ekor saya, saya tidak begitu paham. Sama saat memasukkan infus, proses tersebut harus menunggu saat kontraksi saya mereda dulu. Setelah 3 kali percobaan, yang keempat akhirnya dokter berhasil memasukkan bius ke bagian bawah tubuh saya. Itu pertama kalinya saya tidak bisa merasakan bagian perut dan kaki saya. Sakit yang luar biasa itu hilang seketika. Dokter kandungan saya datang, dan akan memulai proses operasi. Beliau menyarankan saya untuk doa terlebih dahulu. Saya komat kamitkan surat-surat yang saya hafal.
"Ya, kita mulai ya, Bu"
Saya mengangguk lemah, prosesnya? Saya sama sekali tidak merasakannya, hingga beberapa menit kemudian suara tangisan bayi itu membuat saya tertegun, dokter saya menunjukkan tubuh bayi mungil tersebut di atas tubuh saya. "Bu, ini bayinya ya"

Pukul 14.46 : Sayapun menangis, menangis karena janin tersebut akhirnya keluar dari tubuh saya, menangis karena akhirnya saya bisa melihat makhluk mungil tersebut, menangis karena ia langsung dibawa keluar dari ruang operasi. Rasanya langsung dipisah setelah bertemu itu heartbreaking banget. Melankoli banget ya, I guess semua Ibu yang pertama kali bertemu anaknya seperti itu :)

Selanjutnya yang saya tau saya mulai melayang, biusnya membuat saya mengantuk dan kedinginan yang amat sangat. Apalagi saya tidak mengenakan pakaian apapun dan hanya berselimut saat itu. Saya diseka, diajak ngobrol oleh suster, dibawa kesana kemari di atas tempat tidur beroda, antara sadar dan tidak sadar. Sampai akhirnya saya dimasukkan ke kamar rawat inap, saya diminta untuk tidur terlebih dahulu. Mata saya pun sudah tidak kuat untuk terjaga lama-lama.
Entah pukul berapa itu, akhirnya ia, makhluk mungil itu dibawa masuk ke kamar saya, saya belum bisa melihat secara jelas karena saya belum bisa merasakan tubuh bagian bawah saya sehingga saya tidak bisa membalikkan tubuh saya ke samping.



Subhanallah rasanya, seperti dipertemukan dengan idola yang selama ini ingin ditemui. Sayangnya saya tidak merasakan yang namanya inisiasi menyusui dini, walaupun si adek oleh susternya langsung dicoba untuk menyusui dari saya saat bertemu di ruang rawat inap. 


Ah, saya merasa sempurna saat bertemu dengannya, dengan Liam :)

Our Liam :)

To be continued ... ;)


I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

13 comments:

  1. subhanallah.. jadi ingat tahun lalu ketika menemani istri melahirkan.. mengharukan..

    melahirkan normal maupun operasi sama-sama mulianya, nyawa ibu dipertaruhkan di situ, insya allah dibalas dengan surga, aamiin..

    ReplyDelete
  2. Ya ampun, jadi ketubannya ijo. Untung anaknya sehat.

    ReplyDelete
  3. Selamat ya Ibuuu.... btw sampe terharu lo bacanya, serius @_@

    ReplyDelete
  4. Terharu banget.
    Makin sayang ya sama Mama.
    Nangis ih bacanya.

    ReplyDelete
  5. y ampun... bacanya sampe merinding bu fent... :'( sumpah jadi takut aq... btw selamat ya bu fent...

    ReplyDelete
  6. aku melu ngrasakno lo.. huwaaaa... bukaan bukaan itu seperti apa ya sakitnya huwiiih... merinding..

    ReplyDelete
  7. Ahh... aku bisa merasakan bagaimana broken heartnya saat bayi dipisah meski sebentar saja.
    Mengharukan dan luar biasa sekali pengalaman melahirkan itu Fen...
    Selamat yaa... Jangan lupa makan makanan bergizi biar asinya selalu full.. :)

    ReplyDelete
  8. selamat mba Fen menjadi perempuan sempurna

    ReplyDelete
  9. Selamat mbak kuuuuh....
    Moga Liam tumbuh jadi anak yang sholeh, sehat dan cerdas, aamiin ya Rabb :)

    ReplyDelete
  10. Congratz mbak....
    kmrn keponakannku jg ktubannya hijau, klo kta dokter sih udah lewat umur wkt lahir....

    ReplyDelete
  11. Saya baru baca posting mbak Fenty lagi, aduh mbak jadi ikut berkaca-kaca bacanya. Syukurlah semua baik-baik aja ya sekarang, semoga Liam bisa menjadi segala yang terbaik untuk dirinya dan orangtuanya. Hehehehe congrats ya mbak... (Better late than never kan yaaaaaa?)

    ReplyDelete

MARI-MARI SILAHKAN BERKOMENTAR, GAK BAKALAN RUGI KOK, CUMA TINGGAL COMMENT DOANG ...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...