Friday, August 19, 2011

Not in to and in to

Assalamualaikum,

Judulnya geje mameen! hehehe. Jadi saya tadi pagi ngobrolin tentang sesuatu dengan salah seorang teman saya via bbm. Tentang salah satu mahasiswa saya yang malesnya bukan main, yang kebetulan adalah temannya teman saya tersebut.

Tiba-tiba saya jadi ingat obrolan saya dengan mbak Tyka beberapa tahun lalu. Saya masih ingat jelas, soalnya itu menyangkut seseorang yang dekat dengan saya waktu itu. Bahwa ada orang yang memang in to college or formal education stuff dan ada yang not in to it. Teman yang saya ajak ngobrol tersebut adalah salah seorang yang "not in to it". Tapi dia adalah orang yang benar-benar fokus pada impiannya. Mahasiswa saya yang juga temannya tersebut adalah salah satu dari barisan orang yang saya maksud. Walaupun perkuliahannya parah banget, tapi di luar dia bisa menjadi seorang profesional di bidangnya, dalam hal ini fotografi.

Well, obrolan berlanjut pada teman saya tersebut yang memang patut saya acungi jempol empat deh, soalnya dia fokus banget sama apa yang menjadi passion-nya dalam bidang fashion. Dia lulusan smk, yang katanya waktu di smk-nya sendiri nilainya gak bagus-bagus amat karena gak sejalan dengan pemikiran gurunya yang terstandarisasi. Tapi gara-gara dia yang gak mengikuti pakem malah sukses jadi fashion designer, malah sempat ngajar gurunya yang di smk tersebut. Bagi saya yang membuat saya amaze adalah dia bisa memilih. Dia tau dia not in to formal education stuff dari awal, makanya ia memilih untuk tidak kuliah walaupun dia mampu secara finansial. Ia lebih memilih sekolah fashion langsung yang bukan merupakan pendidikan formal. Pilihannya tidak salah.

Saya sendiri termasuk yang suka sekolah, saya nggak tau apakah karena di dalam otak saya terpatri bahwa sekolah itu penting dari orang tua saya atau dari saya sendiri, yang pasti saya suka sekolah :p
Apalagi syarat pengajar saat ini harus setidaknya master. Saya sendiri alhamdulillah sudah bisa mencapai taraf itu, walaupun tidak linear dengan jurusan yang saya geluti sekarang, yang akhirnya membuat saya berkeinginan untuk sekolah lagi di bidang yang sama dengan yang saya ajarkan. 


Cukup tentang saya, saya jadi ingat dengan beberapa tokoh yang saya kagumi di antaranya Yoris Sebastian dan Bob Sadino, mereka adalah orang-orang yang memang tidak masuk ke dalam dunia pendidikan formal tapi karena keniatan dalam bidang yang mereka geluti, mereka sukses.Memang ya setiap manusia memiliki pemikiran masing-masing dalam hidupnya. Saya sendiri tidak akan memaksa jika seandainya mahasiswa saya ada yang istilah jeleknya "Drop Out" jika memang keluarnya mereka dari perkuliahan membuatnya lebih fokus dalam dunianya dan bisa sukses karena itu. Daripada memaksakan diri sehingga endingnya mengorbankan nilai-nilainya toh. Useless bayar mahal-mahal, tapi tidak pernah masuk dan tidak pernah mengerjakan tugas karena menurut mereka itu "tidak penting", malah endingnya menyogok dosen supaya diluluskan *dosen curhat* hahaha.

Ah ya sudahlah, teman-teman sendiri bagaimana? Share ya? :)

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 
 

10 comments:

  1. *Tepuk tangan

    Kudu gitu emang sih. :)

    *sun-layar-kompi

    ReplyDelete
  2. ini semua oleh adanya faktor X.

    X= Pilihan hidup, Cara pikir/cara pandang mereka.

    Nggak semuanya orang yang berpendidikan tinggi itu baik.
    maupun sebaliknya ..
    namun bagaimanapun juga hasil akhir yang menentukan .
    (success or not)
    karna,
    banyak orang yang uneducated(tidak berpendidikan) yang sukses .
    kerja keras yang berbicara disini.

    namun kalau menengok ke anak jaman sekarang.
    anak sekarang maunya instan tak mau bekerja keras .
    seperti halnya ..
    (bolos kuliah, namun maunya lulus kuliah)
    yaps, boleh di bilang menyogok .
    hhheeeee :D

    Namun kalau anda bertanya kepada saya..
    "apakah penting berpendidikan itu?"
    saya menjawab..
    ya, pendidikan itu sangat penting adanya ..
    karna ilmu itu mahal !!
    belum lagi orang tua mencari uang kesana kemari (banting tulang)
    untuk bisa menyekolahkan anaknya tinggi2 ..
    (curhat)
    hheeee :D

    namun
    kita kembali kepada diri kita masing ..
    buat apa kita berpendidikan tinggi
    S1(sarjana)
    S2(magister)
    S3(Doktor)
    sekalipun ..
    kalau hanya mencari gelar semata.
    di luaran sana banyak bergelar namun banyak juga yang pengangguran . !!

    overall,
    saya suka banget dengan argumen anda mbak :D

    -ini komentar saya-

    ReplyDelete
  3. Teman saya waktu kuliah dulu.... santai-santai saja, ternyata bayar dosen semua. Jadi mereka lulusnya cepat, dengan IP tinggi, jadi cepat juga bekerja...
    Sementara saya karena memang banyak aktivitas ini itu, jadi lulus pas 5thn dgn nilai pas-pasan karena malas ngulang. Saya pikir ilmu bisa didapat dimana saja, dan kalau harus bayar, ya memang karena ilmu tidak murah ya.
    Ikut seminar Social Media saja bayarnya 2jt. Busettt... bisa beli BB tuh. :D

    ReplyDelete
  4. Aku sendiri pas jaman DOUBKE L alias : lajang and looking, mo berburu beasiswa S2 juga mikir: kalo aku ambil S2 even dgn beasiswa, otomatis nyarinya yg di luar negeri dan harus berhenti kerja atau cuti-gak-dibayar.

    Padahal aku kerja kan buat bayar tagihan bulanan di rumah. Lha kalo aku gak berkontribusi dgn gaji-ku, Telpon dan listrik sapa yg bayar dong? #curcol

    Trus pas udah pacaran sama Abi, mau berburu beasiswa atau kuliah S2 dgn biaya ortu (kuliah di Surabaya aja) juga mikir: mending duitnya dipake buat kawin eh nikah deh, hehehe....

    Sampe akhirnya sekarang, passion untuk S2 udah gak ada lagi. Belom muncul aja, kali yak?

    ReplyDelete
  5. pendidikan tinggi bagi yang mampu secara finansial dan iq sah2 saja :D

    tapi bagi saya, pendidikan tinggi tidak harus melulu bersertifikat dengan titel sarjana dlll; yang terpenting tau apa yang mau dikerjakan, do the best!

    toh! sarjana aja banyak yang nganggur 'kan?

    cuma klo saya diberi kesempatan hidup sekali lagi, mungkin saya mau kuliah dulu baru bekerja ehehehe

    ReplyDelete
  6. hm... menurut saya kembali dari orang tersebut, orang-orang yang sukses dengan DO/ tidak sekolah punya waktu untuk fokus dengan bidang yang diminati.

    salah satu kunci kesuksesan adalah fokus, ketika kita kuliah pun demikian. Kita mempelajari banyak hal tapi sebaiknya hanya ada satu bidang yang kita fokuskan misalnya: marketing nya.

    Ir. Ciputra itu sukses karena dia berkuliah, itu juga karena dia punya fokus ketika kuliah sudah berancang mendirikan kontraktor sendiri.

    Bob sadino pun saya rasa demikian, dia sukses karena sejak usia mudanya sudah fokus untuk berdagang/ berwirausaha. Jadi waktunya dia gunakan untuk belajar berdagang.

    Tergantung kita lah, kalau mau kuliah ya ambil jurusan yang memang kita akan fokuskan kalau tidak mau ya belajar otodidak dan mulai cari kesempatan. :)

    *jgn ditiru, saiah belum sukses soalnya*

    ReplyDelete
  7. sepakat apa kata nico, jadi syarat utama adalah bisa focus dulu ... terlepas dimana ia belajar, baik di format edu maupun yang non :D

    ReplyDelete
  8. sepakat apa yg dikatakan Jarwadi :D

    sekolah tetap butuh, dan bisa dihitungg yg sukses karena sekolah lebih banyak :D hehe

    selain itu seperti dikatakan nico di atas, fokus.

    Kalo tidak fokus, bisa mencla mencle kemana saja, akhirnya kadang tidak sukses :)

    ReplyDelete
  9. Wah, kayaknya belum ada temenku yg seperti itu, deh. :D Yg kebanyakan tuh yg kerjanya keluar dr jalur basic pendidikannya dan bisa sukses! ;)

    Intinya sih, kalo memang passion dan kemauannya kuat di sana, mau sekolah atau ga sekolah, pasti bisa berhasillah. ^^

    ReplyDelete
  10. Bob Sadino itu unik banget, Mbak. :D
    Saya ingat perkataan beliau dari sebuah acara televisi, bahwa "berwirausaha itu untuk cari rugi, bukan cari untung. Untung akan datang dengan sendirinya." :D
    Janga tanya saya apa maknanya...

    ReplyDelete

MARI-MARI SILAHKAN BERKOMENTAR, GAK BAKALAN RUGI KOK, CUMA TINGGAL COMMENT DOANG ...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...