Wednesday, April 20, 2011

Tentang Memantaskan Diri

-Wednesday, April 20th 2011-


Setelah mbak Vicky komentar di blog saya di postingan tentang "ditolak" tersebut, saya jadi berpikir tentang hal memantaskan diri. Ada seseorang yang "nembak" saya beberapa waktu lalu, tapi sayangnya saya tidak bisa menerimanya. Karena saya memang pemilih dan bukannya setiap manusia memilih ?
Dihubungkan dengan masalah memantaskan tadi, teman saya tersebut bertanya pada saya, "Jadi apa kriteria kamu dan orang tua kamu untuk calon menantunya?"
Karena awalnya saya pikir dia nggak serius-serius amat saya langsung ngomong, "Harus bisa nyetir mobil lah"
Hehehe, itu syarat yang agak gak penting ya ? Masalahnya dia nggak bisa.
Eh, bukan, bukan dengan alasan itu saya nolak dia, tapi ya ... banyak lah kendalanya *menurut saya*

Lalu saya mengambil contoh paling baik, Ayah saya.
Di mata Ibu saya, Ayah saya bisa melakukan apapun, apapun yang bisa membuat Ibu saya merasa beliau pantas untuk mendampinginya dan didampingi. Bagi Ibu saya, Ayah saya orang yang bisa diandalkan dan dibanggakan. Laki-laki yang paling dekat dengan saya tentu saja Ayah dan Kakak saya, otomatis hal tersebut membuat suatu pakem tentang kriteria calon suami. Baik tentang agama, pekerjaan, pendidikan, perhatian dan finansial. Yes, agaknya ini terlalu "picky" ya ? But I have right to choose, yes ?

Pernah saya berhubungan dengan orang, yang awalnya saya pikir pantas *untuk saya*, tapi mungkin ya ... di alam bawah sadar saya, mungkin sebenarnya sayalah sendiri yang membuat hubungan itu tidak berhasil.
Walaupun endingnya, orang tersebut yang memutuskan. Bukan karena dia memiliki sifat A, B, C. Karena saya dari dulu ternyata punya pakem tentang kriteria laki-laki and I guess he's not fit on it, dan anehnya Ibu saya yang memahami hal tersebut.

Lalu teman saya yang lain pernah memberi saya wejangan, bahwa jika kamu mencintai seseorang "terima dia apa adanya". Hal ini agaknya berseberangan dengan "memantaskan diri" atau mungkin sebenarnya saya yang tidak bisa memantaskan diri pada siapapun orang yang dekat dengan saya tersebut.
Sayalah yang tidak menerima saya apa adanya.

Lagi-lagi ini proses instropeksi diri saya, bahwa jangan gampang menyalahkan orang lain.
Karena mungkin saya sendiri yang selama ini salah, bahwa sayalah yang tidak bisa memantaskan diri terhadap laki-laki yang saya pilih menjadi calon suami saya. Bahwa standar yang saya pasang terlalu tinggi, saya terlalu sombong *maybe*. Tapi setiap orang memiliki pilihan, saya juga.
Mungkin pintar-pintar saya memaintain hubungan saya dengan banyak pihak, termasuk dengan teman-teman saya, yang bisa saja salah satunya adalah calon suami saya kan ? Pada akhirnya, karena pengalaman, saya lebih suka punya seseorang yang bisa menjadi teman saya terlebih dahulu, dibanding langsung ujug-ujug punya hubungan serius. Itu akan membuat saya labil *lagi*

Wow, saya barusan curhat ya ? *nepok jidat*


#np Raisa - Serba Salah


I think that's all, thank you

19 comments:

  1. lhoh fen,setauku dulu kamu udah punya pasangan kan? :)

    IMO pasangan itu,harusnya bukan ttg menerima apa adanya
    tapi bagaimana kita berdua saling melengkapi :)

    saya punya kekurangan ,pasangan saya jg punya kekurangan...tapi kita bisa saling mengisi kekurangan itu
    dan insyaallah kami berdua terus berjodoh sih *amin*

    ReplyDelete
  2. lhoh fen,setauku dulu kamu udah punya pasangan kan? :)

    IMO pasangan itu,harusnya bukan ttg menerima apa adanya
    tapi bagaimana kita berdua saling melengkapi :)

    saya punya kekurangan ,pasangan saya jg punya kekurangan...tapi kita bisa saling mengisi kekurangan itu
    dan insyaallah kami berdua terus berjodoh sih *amin*

    *tadi salah account -____-"

    ReplyDelete
  3. @leenk : weleh dobel, setauku aku udah sering bilang di twitter bahwa aku jomblo ? hahahaha. Aku mengamini doamu, lin :)

    ReplyDelete
  4. Hihi aku juga rada pemilih mbak, makanya status jomblonya masih lengket terus
    *curcol

    Tapi aku setuju, kalo nyari pasangan untuk yg bener2 serius harus orang yg bisa dijadiin sahabat. Udah pernah dapet, tapi tiba-tiba malah ngilang, hiks...
    *curcol lagi

    ReplyDelete
  5. Jujur, kata "saia menerima kamu apa adanya" sering tak bisa masuk ke dalam logika saia. Yang selalu saia camkan adalah "I love you the way you are now". Jadi, kalo nanti pasangan menjadi tidak seindah sekarang, bye bye :P *kidding*

    ReplyDelete
  6. kita punya bayangan tentang "dream couple" itu wajar,saja. Saat ketemu aku akan berusaha mendapatkannya dengan cara yang elegan tentu tapi kalo dia tidak menanggapi, sutralah dia yang rugi...he..he...tapi menutup hati sepenuhnya bagi orang yang ingin PDKT dengan kita jangan juga, berilah dia kesempatan berkenalan dengan kita begitu juga sebaliknya, mungkin dia bukan seperti yang kita impikan tapi dia nyata dan menginginkan kita, tentunya juga dilihat dan diamati ngga perlu terburu-buru, kalo ngga cocok ngga jodoh, kalo bisa diterima kenapa tidak? Wanita dibatasi oleh waktu, jangan kelamaan menimbang2 tak terasa waktu berlalu dan si pangeran impian tidak pernah ada, so liat di depan kita nilai, mungkin tidak sempurna, tapi bisa kita terima, karena yg namanya nikah itu tak hanya cinta, loh! Semuanya perlu penyesuaian-penyesuaian juga. Satu sama lainnya.

    ReplyDelete
  7. gara-gara ortu mantan saya merasa 'kurang pantas' inilah hubungan saya dan mantan harus kandas :(( padahal udah sayang banget.. *curcol*

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. aku dulu gmana ya? gak inget jg tentang masalah memantaskan diri ini. yang aku ingat pokoknya kita berdua bisa saling ngertiin kekurangan satu sama lain. which hopefully until forever and ever :)

    ReplyDelete
  10. @chichi : kamu dingin sedingin es sih, chi ... hahaha, yang di plurk dibawa kesini :p

    @vany : wahahaha, agak kejam ya :D

    @ladyinthemirror : sukaa komentarnya ^_^ iya insyaAllah aku akan membuka hati pada yang datang :)

    @deknada : I feel you darling :)

    @pinkparis : amiiin :)

    ReplyDelete
  11. Fen.
    Kemana pasangan mu dulu? Duh, aku kelamaan gak kesini jadi kelewatan berita deh dirimu sudah single lagi...

    Selamat hari Kartini then.... karena kesendirian biasanya akan menjadikan diri kita jadi lebih kuat lagi!

    Eh iya, kalau menurutku, memantaskan diri adalah kewajiban setiap pasangan. Jadi klo lelaki itu jatuh cinta pada kita, dia harus memantaskan diri agar kita mencintainya, sebaliknya kita juga begitu. Ujungnya akan ketemu di benang yg namanya toleransi dan pengertian.... **Ah, manisnya kalau semua hubungan bisa begitu ya. hehee...

    ReplyDelete
  12. Lha kok panggilan jiwa gini postingan e. sing di omongi podo karo aku. >:)

    ReplyDelete
  13. yang benar bukan menerima pasangan apa adanya, tapi bagaimana masing2 bisa saling membuat 'terlengkapi, nyaman dan tidak berat menjalani hubungan. Karena menerima apa adanya ituh masih kompleks pengertiannya.

    ReplyDelete
  14. aku sukaaaa komentarnya ibu Ladyonthemirror :* kecup kecup..

    ReplyDelete
  15. loh, milih itu penting Fen :D
    soal "memantaskan" diri itu, ya ga cuma dari satu pihak. It's takes two to tango. Harus selalu saling "memantaskan" diri dengan pasangan masing-masing. Dan itu ga cuma pada saat belum jadian aja, tapi seumur hidup dengan si pasangan.

    Ya contohnya Bapak-Ibu kamu lah, seperti yang kamu ceritakan di atas. Apa mereka sekarang sudah berhenti saling "memantaskan" diri? Ngga kan? Kalo ngga, ya ngga mungkin dong kamu bisa cerita kayak di atas :))

    IMHO sih :)

    ReplyDelete
  16. Iya aku setuju dgn poin memantaskan diri itu... Makanya aku iyen yo gak muluk2... Gak usah nggolek sing ngguanteng buanget secara fisikku canik tp pas2an, hehe...

    Gak nggolek anak'e pejabat, secars ortuku jg pegawai biasa saja.

    Gak nggolek sing puinter cerdas nemen, ntar malah gak nututi otakku ya, scara aku aja S1-nya LOLOS bukan LULUS :))

    Yg penting buatku, dia melaksanakan ajaran agama dgn baik (Sekedar being moslem toh gak cukup. islam KTP?)

    Dia gak harus kaya raya tp berpendidikan, pintar , rajin dan ber-etos kerja yg baik. Uang bs datang belakangan. Uang bisa hilang, tp pendidikan dan etos kerja insyaalloh will last forever, aamiin.

    Dia sayang padaku dan ortuku dan aku bisa cocok sama keluarganya.

    ----------

    Gak muluk2 kan?

    ReplyDelete
  17. @zee : heee, mbak, udah lama kok :D selamat hari kartini juga ^_^ Alhamdulillah ada yang setuju :D

    @nora : seriusan ? aku cek

    @jeng anna : terlengkapi, noted :)

    @mamisinga : samaaa :)

    @chic : iyaaa mbak chic, setuju juga :)

    @ndutyke : hohoho :D >:D< semoga aku dapat yang terbaik ya mbak :)

    ReplyDelete
  18. Memantaskan diri, stuju deh. Setiap orang ngga ada yang sempurna, jadi memang setiap hari, setiap saat, musti berusaha menjadi lebih baik.

    Tapi musti diinget, we need to be ourselves.

    Do: positive things that you enjoy and that are right for you.

    Don't: try to be someone else that you are not. Cape dan stress, ntar :)

    P.S. I think you have a very good aura, cute lady!

    P.P.S. Bener kata temen2 yang laen, tiap orang berbeda. The key to a good relationship is to embrace the differences, compromise, and make it work.

    ReplyDelete
  19. jadi ingat dg cerita mengenai seorang laki2 yg mesti masuk hutan dan memilih sebatang pohon.

    bagi saya, standar itu relatif, bisa dikompromikan. mengapa? karena pada akhirnya yg namanya jodoh seringkali tidak bisa dibayangkan sebelumnya!

    ah, daripada 'nyampah' di sini, kapan2 saya blogkan aja... :p

    ReplyDelete

MARI-MARI SILAHKAN BERKOMENTAR, GAK BAKALAN RUGI KOK, CUMA TINGGAL COMMENT DOANG ...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...