Tuesday, November 23, 2010

Gap and something on it

-Tuesday, November 23rd 2010-

GAP /gaep/ n[c] 1 empty space in something or between two things; 2 something missing; separation: ~s in one's knowledge


Gap, yang saya tangkap dari kata ini adalah kesenjangan, jarak atau gank. Atau dalam istilah beken-nya Gap-gap'an (baca: gep-gepan). Ini soal rekan mahasiswa saya, well ... bagi saya beberapa dari mereka agak, hmmph ... berjarak. Saya mengatakan ini karena saya merasa mulai mengenal beberapa dari mereka.

Ada yang aktif ikut berpartisipasi dalam perkuliahan dan ada yang masuk saja tanpa adanya partisipasi.
Bagi yang tidak berpartisipasi itu, yang saya tangkap adalah, "Sing penting mlebu, entuk absen, muleh, wes" (baca: "yang penting masuk, dapat absen, pulang, sudah")
Padahal kegiatan kami relatif "banyak", banyak dalam arti bukan hanya duduk di meja, mendengar dosen bicara dan selesai. Karena kebetulan mata kuliah kami adalah mata kuliah studio, yang intinya mahasiswa diminta untuk "doing something" dalam perkuliahan, apa ya ... hmm ... ya tugasnya tidak hanya mencatat dan dapat soal, mereka harus berkreasi untuk menghasilkan sesuatu. Tapi ternyata banyak dari mereka (ya walaupun nggak sampai setengahnya) yang tidak mau melakukannya atau lebih tepatnya malas melakukannya.

Nah, masalahnya, bukan hanya absen yang kami nilai, karena kegiatan-kegiatan yang bagi mereka "gak penting" itu yang akan kami nilai. Kalau mereka nggak mau melakukannya, lalu kami memasukkan nilainya bagaimana ?
Ini lagi yang cukup disayangkan, mahasiswa-mahasiswa tersebut membentuk satu kelompok (gank), yang berarti hanya beberapa kelompok tersebut yang nilainya amburadul. Kok ya'o, punya nilai jelek kok ngajak-ngajak orang. 

Kami, khususnya saya sebagai orang yang "menilai" akhirnya bimbang, apakah mereka layak diluluskan atau tidak? kalau toh mereka mau sedikit saja berkompromi dengan berpartisipasi dalam setiap mata kuliah, kami bisa memberikan nilai yang lebih layak.
Takutnya, at the end of semester, mereka meminta pertanggungjawaban kenapa nilai mereka jelek, padahal setiap minggu selalu masuk mata kuliah ini. Ya, kami memang bisa menjawab pertanyaan itu dengan alasan ini itu, tapi tetap saja saya pribadi merasa bertanggung jawab terhadap ketidak pedulian mereka. Sepertinya saya memang harus mencoba untuk melakukan pendekatan pada mereka, untuk kepentingan mereka juga ~.~" Toh, kalau nantinya mereka tidak peduli juga, kami lepas tangan deh.

Saya jadi ingat jaman saya kuliah hal yang sama dengan mereka beberapa tahun lalu, saya bukan termasuk orang yang benar-benar pintar, dikenal, sangat cerdas atau apa lah. Tapi at least, saya melakukan apa yang diminta oleh dosen. Saya merasa, saya hanya butuh untuk aktif berpartisipasi dalam setiap mata kuliah, tidak masalah nilai yang saya dapatkan, karena menurut hemat saya *halah* pasti ada sebuah nilai plus setiap kali kita melakukan hal tersebut. Dan ternyata benar, nggak ada mata kuliah yang saya ulangi.

Ya, memang sih, kita nggak bisa menyamakan semua karakter orang, malahan banyak sekali karakter orang di masyarakat. Saya pribadi bisa menilai dari 70 mahasiswa yang kebetulan kami dampingi tersebut.
Dan ternyata benar, jadi dosen itu bukan mengajar, tapi belajar :D
Inilah yang sedikit saya rasakan saat beberapa bulan ini berkecimpung dalam dunia baru ini :| pasti lebih banyak yang lainnya ... *siap siap*


I think that's all, thank you

11 comments:

  1. dari tadi sih masi mikir mau nulis apa.

    ternyata jadi tenaga pengajar itu....banyak main hati ya?

    ReplyDelete
  2. dari ajman saya kuliah, tetep ada mahasiswa yang gep-gepan juga ya

    ReplyDelete
  3. @nengbiker : ho'oh :|

    @aprie : iyo, prie

    @mamah aline : iya nih, masih banyak temen seumuran soalnya :D

    ReplyDelete
  4. dear bu dosen, kalo sy sebagai dosenpun kayaknya seperti fenty lakuin jg...
    tapi pengalaman saya jadi mahasiswa yah hampir kayak mahasiswa2nya bu fenty ini haha... at least utk beberapa mata kuliah yg memenang sih :D
    saran sy sih, melakukan suatu yg bikin improvisasi di beberapa materi, misalnya masing2 mahasiswa beda tugas masing2, coba deh apa masih pada ngak ngerjain? :D
    *halah sok tau aja, padahal bukan dosen*

    ReplyDelete
  5. spt yg sayah pernah tulis di komentar sayah, bahwa dosen itu pada dasarnya belajar,tentu dg scope dan view yg berbeda dg mahasiswa.

    sebenarnya diubah saja metode kuliahnya, dari yg semula 'hanya' mengandalkan absensi menjadi sesuatu kegiatan yg menuntut partisipasi mereka. bu dosen Fenty mestinya tahu donk kegiatan apa yg sayah maksud? :-D

    ReplyDelete
  6. Sepertinya saya memang harus mencoba untuk melakukan pendekatan pada mereka, untuk kepentingan mereka juga

    bener dek, itu bagian dr job-desc kita sebagai tenaga pendidik dan pengajar. memotivasi :)

    ReplyDelete
  7. @arul : tambah bandel tuh, kalo beda2 gitu, males kan kalo gak mengerjakan hal yang sama ~.~"

    @mas fahmi : emang kegiatan apa ? :D

    @mb tyka : :) akan dicoba terus

    ReplyDelete
  8. Kayaknya ini bukan masalah kesenjangan, Fen, ini lebih tepatnya masalah apatisme mahasiswa.

    Aku berusaha mengingat-ingat kapan aku pernah apatis waktu kuliah dulu, dan nampaknya aku selalu apatis di kuliah Anatomi.

    Alasanku sebagai mahasiswa apatis:

    1. Dosennya nggak menarik. Cara mengajarnya out of syllabus yang udah disediakan, akibatnya aku nggak bisa ngerti kronologis kuliahnya meskipun aku sudah siap semalam sebelumnya.

    2. Tata ruang kuliah yang jelek. 300 mahasiswa dalam sebuah aula besar yang panas, dan suara dosen yang sayup-sayup, ditambah kuliah yang jamnya pas waktu jam makan siang, bikin mahasiswa susah nemu mood yang enak.
    3. Aku nggak bisa meraba bab mana dari textbook Anatomi yang akan keluar waktu ujian. Alasannya, lihat nomer 1.

    Jadi, nampaknya memang harus ada introspeksi dari semua pihak untuk menyelamatkan nilai mahasiswa. Baik dari mahasiswa sendiri, juga dari pihak dosen, maupun dari pihak fakultas yang menyelenggarakan pendidikan.

    ReplyDelete
  9. mungkin metode perkuliahanya yg hrs divariaskan, shg mrk tdk juga hrs terkungkung di kelas dan byk berinteraksi dgn lingkungan studi mrk :D

    ReplyDelete
  10. salam kenal mba.. suka kalimat akhirnya, saat mengajar dosen pun belajar.. ;(..
    sudah 2 tahun ya mba, pasti banyak suka nya..ijin mengelilingi rumahnya;)

    ReplyDelete

MARI-MARI SILAHKAN BERKOMENTAR, GAK BAKALAN RUGI KOK, CUMA TINGGAL COMMENT DOANG ...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...