Saturday, October 16, 2010

Resiko

Saya sedang merasa kehilangan beberapa waktu ini.
Dan menurut saya pribadi hal itu berhubungan dengan resiko.

Jadi begini, saat kita memiliki sahabat entah dari kecil atau mungkin dari jaman kita sekolah atau kuliah. Kemudian perubahan terjadi, misalnya dia pergi ke kota lain, dia menikah, atau jeleknya dia memusuhi kita. Padahal sebelum itu kita sering sekali rely on her/him, sekarang dia nggak bisa langsung ada buat kita, atau mungkin nggak akan ada dan bisa di saat kita merasa perlu mereka.


Kadang saya egois berpikir, "Katanya sahabat ? kenapa kamu nggak ada buat aku di saat aku nangis kaya' gini ?"
Tapi saya sadar kok, seorang sahabat juga manusia, bukan tong sampah yang menjadi tempat kita menumpahkan uneg-uneg kita. Mereka juga punya masalah, mereka juga butuh "their time".

Sahabat saya yang sudah menikah, bagi saya dia pasti memiliki dunia baru dalam hidupnya. Dimana saya, tidak termasuk di dalamnya. Bukan berarti dia berubah sikap pada saya, dia berusaha, sangat berusaha untuk menghubungi saya. Tapi lebih sering lagi, dia nggak ada buat saya.
Kembali lagi, itu resiko, karena saya terlalu mengandalkan dia.
Tapi dia tetap manusia yang memiliki masalahnya sendiri, dan saya seharusnyalah yang memberikan pundak kita disaat mereka bersedih. Bukan berarti saya tidak memiliki banyak teman, tapi ... entahlah, mungkin dari sekian tahun kita sama-sama, mengerti watak masing-masing, menceritakan hal yang tidak diceritakan kepada orang lain, menjadikan hal tersebut berbeda dengan teman-teman lain.

Jadi teringat juga dengan salah seorang teman saya dulu.
Hal kecil waktu itu, dia meminta saya membangunkannya sebelum Maghrib via telefon.
Tapi saya lupa, saya baru menelfonnya setelah maghrib, dan akhirnya ia telat melakukan sesuatu. Dia kecewa awalnya, tapi dia lalu bilang, "Salah aku kok, aku mengandalkan manusia. Seharusnya aku mengandalkan Allah"
Ya, oke, agak berlebihan dia berkata seperti itu hanya tentang masalah membangunkan.
Tapi tetap saja dia benar.

Seharusnya, saya lebih mengandalkan Tuhan dalam urusan apapun.
Bukan berarti jelek memiliki sahabat dan menceritakan banyak hal pada sahabat.
Tapi saya pernah dengar dari sebuah Tausiyah, bahwa bukankah lebih baik kita curhat kepada Allah. Dimana tidak akan habis Ia memberikan spare waktu, besarnya tong sampah untuk mengeluarkan uneg-uneg kita, dan Ia malah selalu memeberikan solusi. Even mungkin kita nggak sadari itu, mungkin ketidaksadaran itu yang membuat kita lupa padaNya.
Jadi merasa sangat kecil :|

Ya, positifnya, saya jadi berpikir, mungkin ini solusi Allah buat saya. Agar saya lebih bersabar menghadapi banyak hal, tidak terlalu berkoar-koar saat merasa sedih atau merasa perlu menceritakan sesuatu yang seharusnya tidak diceritakan kepada orang lain. Mungkin perlu waktu buat tipe orang seperti saya. Dimana, kalau mungkin banyak yang kenal saya, saya jadi orang yang sok melankolis. Tapi saya tetap harus belajar kok untuk menghadapi banyak hal sendiri, menjadi mandiri dan memutuskan banyak hal sendiri.

Sudah menjadi resiko kita sebagai manusia dewasa kan ?

Tapi tetap saja, ah saya merindukan sahabat saya :')

Ah shoot ... maaf ya, saya lupa dan tidak sadar, ternyata saya memiliki sahabat-sahabat selain sahabat saya yang di atas itu. Thanks for all of your support guys ;) #nomention
I love you, people
love

I think that's all, thank you

8 comments:

  1. Yah...memang bukan hal yg sesimpel itu untuk bisa mengandalkan Tuhan.Bukankah kita ingin ada yg "berbicara" scr langsung? testimoni dan pelukan dr sahabat itu memang sangaaaat jauh diperlukan. Awalnya aku yo gitu kok,bu.Lama² harus mengandalkan (memang harus) Rabb diatas segala kemampuan dan pikiran. Dan sahabat,merupakan konektor yg berpengaruh.

    ReplyDelete
  2. *manggut2* tulisan ini membuatku mengerti akan dirimu. maaf ya selama ni sering kurang pengertian :)

    ReplyDelete
  3. hiyah, yg barusan anonymous itu aku =="
    blogger malam ini sedang tidak bersahabat, mau komen dimana-mana kok agak susah.

    -ndutyke

    ReplyDelete
  4. Good day!This was a really quality theme!
    I come from itlay, I was fortunate to search your topic in bing
    Also I get a lot in your topic really thank your very much i will come again

    ReplyDelete
  5. @nora : I love the way you talk :)

    @rakun : salam kenal juga

    @mbak tyka : it's okay mbak, gak pa2 kok, aku aja yang terlalu lebay :D

    ReplyDelete
  6. sayah sendiri punya sahabat waktu kuliah. ga tanggung2, sampai bikin geng, karena berjumlah 5 orang.

    toh, dari 5 orang itu, semuanya sadar bahwa saling bergantung itu tidak baik, terutama karena karakter ke-5nya begitu beragam.

    paling banter, ya saling ingetin. so, ketika akhirnya pada 'menjauh', saya ndak terlalu merasa kehilangan. tinggal 1 orang yg cukup dekat dan hanya dg dia masih bisa ngakak2+saling ejek dg bebas. dg yg lain sudah berjarak semuah.

    *haiyah, jadi curcol*

    ReplyDelete
  7. "Tidak terlalu berkoar-koar saat merasa sedih atau merasa perlu menceritakan sesuatu yang seharusnya tidak diceritakan kepada orang lain,"

    Itu deskripsi diriku yang sekarang Fen. Awalnya seperti kamu. Terlalu menggantungkan cerita pada 'sahabat'. Tapi makin kesini makin sadar. Tidak melulu sahabat bisa membantu dan bahkan ada untuk kita.

    Tapi Sang Maha Pecinta, akan selalu membantu dan ada untuk kita. Entah kita lagi bahagia ataupun terpuruk sekalipun.

    *smooch*

    ReplyDelete

MARI-MARI SILAHKAN BERKOMENTAR, GAK BAKALAN RUGI KOK, CUMA TINGGAL COMMENT DOANG ...

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...