Monday, August 23, 2010

Apa yang saya pelajari dari The Sims

-Monday, 23rd August 2010-

Pernah memainkan game The Sims ?
Bagi saya pribadi permainan berbagai macam versi ini memang bikin ketagihan dan membuat kita penasaran ingin main dan main lagi. Tapi bukan masalah ketagihan itu yang akan saya bahas di postingan saya kali ini.

Saya punya pendapat bahwa di game ini kita diberi kesempatan untuk memegang role sebagai "Tuhan" yang mengatur hidup satu-dua orang manusia yang memiliki kebutuhan yang bermacam. Manusia dalam sebuah simulasi, yang memiliki kebutuhan sama seperti manusia dalam dunia nyata seperti makan, mandi, ke toilet, hiburan, environment yang baik, pekerjaan dan yang paling penting adalah relationship.
Begitu mudah bagi saya sebagai "Tuhan" di game tersebut membuat sosok yang saya mainkan dapat berkomunikasi baik dengan tokoh-tokoh yang lain, tentunya untuk kebutuhan akan gamenya.


Begitu pentingnya sebuah komunikasi, menjadikannya hal krusial dalam game tersebut.
Let say, saat tokoh tersebut sibuk bekerja, sibuk mencari pundi-pundi uang untuk kebutuhan sehari-harinya, kita sebagai "Tuhan" lupa kalau tokoh tersebut harusnya menjaga hubungan baik dengan tokoh lain. Karena jika hal tersebut tidak di maintain dengan baik, angka "relationship" itu berkurang.

Pernah sadar nggak sih, it did happens in the real life.
Tidak jauh-jauh, ambil contoh saya sendiri lah, beberapa waktu lalu saya sibuk mengerjakan tugas akhir. Memang itu membuat saya harus fokus pada hal tersebut, sehingga me-maintain hubungan dengan teman atau saudara tidak boleh terlalu sering. Sehingga pada saat saya sadar, ternyata saya ketinggalan banyak hal-hal baru dari mereka. Dan merasa saya sedikit kurang pergaulan alias kuper.
Walaupun kembali lagi, itu tergantung orangnya. Saya adalah orang yang sulit fokus pada satu hal jika kebetulan banyak hal yang harus dipikirkan. Sehingga saya mengesampingkan hal-hal tersebut untuk memfokuskan diri pada tugas akhir saya.
Saya bahkan sempat break dengan pasangan saya dengan sedikit alasan ini, alhamdulillah dia orang yang sangat pengertian. Dan Alhamdulillah, akhirnya saya pun bisa lulus.

Contoh lain, hubungan Ibu dan anak. Saya punya teman yang baru saja memiliki anak waktu itu.
Saat teman saya sudah mulai bekerja, akhirnya harus meninggalkan anaknya demi pekerjaannya tersebut. Saat ia sadar ia kehilangan banyak waktu bersama dengan anaknya demi pekerjaannya, ia akhirnya membuat keputusan. Dia hengkang dari pekerjaannya, banting setir jadi Ibu rumah tangga.

Memang, tidak semua manusia sama. Teman-teman blogger perempuan di sini yang bekerja dan punya anak mungkin memiliki cara berbeda dibanding teman saya tersebut. Tapi yang diakui teman saya, hubungan Ibu dan Anak tersebut lebih erat.

Oh okay, kembali lagi ke Sims, dari game ini saya merasa harus belajar dan mencoba untuk lebih menyeimbangkan semuanya. Karir saya ke depan dihadapkan dengan hubungan saya dengan teman, pasangan, saudara bahkan juga dengan orang tua saya sendiri.
Ada kalanya kita harus memiliki "me" time, entah itu waktu dalam pekerjaan atau butuh untuk sendiri. Tapi quality time dengan orang-orang yang saya sebutkan tadi juga jangan sampai lupa di maintain juga.

Seperti pasangan saya sering bilang saat kita ngobrol.
"Untuk membuat orang-orang di sekitar kita mengerti apa yang kita mau, apa yang mereka mau, apa yang dia lakukan apa yang mereka ingin tau kita lakukan, intinya cuma satu, Komunikasi"
Dan komunikasi adalah salah satu bentuk silaturahim yang paling dasar kan?
Ah saya jadi menyadari juga, seharusnya saya tidak memutus komunikasi dengan beberapa orang. Karena entah kapan, bisa saja kita membutuhkan orang tersebut -err, ini curhat, hehe.
Dan bagi saya, saya butuh banyak orang untuk membuat saya exist. Maksudnya dalam hal umum, bukan menjadi populer loh ya?
Lagipula apa gunanya menjadi ansos di dunia ini ? Tokoh di The Sims aja bisa stress dan mati kalau jadi ansos :)


Gambar : dari berbagai sumber dengan keyword SIMS 3


I think that's all, thank you

Tuesday, August 17, 2010

Tergampangkan Teknologi

-Wednesday, August 18th 2010-

Saya sebenarnya pernah membahas ini di salah satu blog saya, soal teknologi yang membuat kita lupa untuk mengingat sesuatu.
Maksudnya bagaimana ?

Contoh konkrit seperti nomer ponsel deh. Saya sudah coba berkali-kali untuk mengingat nomer ponsel sahabat saya sendiri yang seharusnya sudah saya ingat 3-4 tahun lalu sejak dia memiliki nomer tersebut.
Tapi sampai sekarang saya hanya mengandalkan phonebook ponsel. Nah kok ya'o walaupun pasangan saya baru memiliki nomer provider yang sama dengan saya 6-7 bulan yang lalu, saya sudah hafal banget sekarang.
Hehehehe, bukan, ini bukan karena saya sentimen dan nggak sayang sama sahabat saya. Tapi kenyataannya dimana nomer ponsel pasangan saya itu mudah saya ingat, sedangkan nomer ponsel sahabat saya agak sulit diingat sehingga hal tersebut terjadi.

Familiar dengan nomer cantik ? well saya termasuk pengguna nomer cantik, dimana akhirnya nomer telfon saya mudah diingat *bagi yang sering menghubungi saya tentunya* termasuk sahabat saya.
Pasangan saya termasuk pemilik nomer cantik tersebut, termasuk juga ayah, ibu dan kakak saya, sehingga saya hafal nomer mereka. Sedangkan bagi saya, sahabat saya tidak memilikinya. Tapi tetap tidak mengurangi rasa bersalah saya karena tidak mengingat nomernya.
Maaf ya sayangkuuu ... tapi toh aku selalu ingat nomer telfon rumahmu kok.
Secara kalau telfon yang ini mesti mencet nomer telfonnya dulu di rumah :D

Seharusnya sih emang tergantung orangnya ya, kalau emang niat banget mengingat bisa jadi langsung hafal kok. Tapi masa' sih saya nggak punya keniatan untuk hafal nomer telfon sahabat saya sendiri ? *loh ini nanya kok balik nanya* :p
Etapi setelah saya tanya, pasangan saya juga nggak hafal nomer saya, halah ... ini saya yang terlalu rajin mengingat atau emang sebenernya nggak terlalu penting sih ?

Soalnya saya kepikiran ini nih, coba bayangin kalau tiba-tiba ponsel kita ketinggalan, dan ternyata kita dicari sama orang rumah atau mungkin pasangan kita.
Kita mesti inget nomer mereka dan nggak bisa lagi mengandalkan phonebook di ponsel kita kalau mau menghubungi mereka kan ?


Contoh lain nih seperti mencari literatur untuk bahan kuliah atau mungkin tugas akhir.
Saat orang-orang jaman tahun 90an lebih mengandalkan perpustakaan dan buku untuk literaturnya. Saat ini orang-orang lebih suka download pdf atau artikel-artikel yang berkaitan dengan tugas kuliah yang dimaksud di internet.
Nah saya pernah nih kena kasus ini, gara-gara hal tersebut, saya dan beberapa teman saya memiliki jawaban yang sama di satu tugas krusial di satu mata kuliah. Sampai akhirnya nilai akhir untuk kuliah ini dibandrol jelek oleh sang dosen, agak sebal waktu itu, tapi gimana lagi, lagi-lagi gara-gara teknologi.

Sebenarnya banyak contoh lain, bukan hanya dari internet dan ponsel.
Saya kepikiran program-program CAD, facebook, twitter, rice cooker, dll, tapi saya nggak mau bahas ah, kepanjangan, hehehe.

Tapi intinya mungkin kita harus memilah saat kita menggunakan sesuatu atau mengingat sesuatu secara manual dan ada kalanya kita benar-benar harus mengandalkan teknologi. Dan toh teknologi pasti akan berkembang terus, kita mesti siap menghadapi dan mesti siap mempelajarinya juga. Mempelajari secara tepat guna dan tepat waktu.
Bener nggak sih ? Ada pendapat lain ?

Anyway, ada nggak sih caranya biar saya cepat hafal nomer sahabat saya itu ? O_o


#Gambar diambil di salah satu museum di Surabaya, sedikit nggak nyambung bahasan, tapi maksudnya adalah sebuah pilihan, hehehe#



I think that's all, thank you

Thursday, August 12, 2010

Random

-Friday, August 13th 2010-

Hey viewers ...

Lama banget ya nggak update ? Ketauan deh kalo gak konsisten sama apa yang diomongin di update-an beberapa waktu lalu, kalau bakalan rajin nulis, hehe. Oh my ... sorry, saya sibuk *blah, sibuk apa sih Fen?* mesti deh sok-sok'an gitu :p

Oh iya, met puasa ya people ... minta maaf ya kalau ada salah-salah kata dan perbuatan dan sumpah, saya seneng banget bisa ketemu Ramadhan lagi. Bagi saya bulan Ramadhan itu sering memberi berkah tersendiri buat saya. Seperti, saya dulu lulus S1 di bulan Ramadhan, saya pertama kali berjilbab di bulan Ramadhan, saya selesaiin semua urusan S2 saya di bulan Ramadhan, eh saya nemu pasangan yang nama belakangnya Ramadhan juga *eh itu mah nggak nyambung* :p

Sebenarnya saya memang sedikit sibuk beberapa waktu ini, gara-gara urusan revisi dan ngumpulin ini itu supaya secepatnya bisa ikut yudisium, dan daftar-daftar buat wisuda. Duh saya nggak nyangka saya bisa nulis itu ... sa-ya ak-hir-nya a-kan wi-su-da la-gi ... hiyaaa ... beberapa waktu lalu saya bahkan nggak yakin bisa sampai sini. Amazing banget rasanya, seperti bebas dari ikatan kuat dan bernafas dengan lega ^^

Saya akhirnya bertanya-tanya pada diri sendiri, setelah ini mau apa ? Kerja ? Tentunya ... lalu ? Menikah ? *dengan ijinNya* ... hehehe, tapi yang jelas saya punya banyak rencana dalam otak saya yang semoga bisa terealisasi secepatnya.

Beberapa waktu lalu akhirnya saya berkesempatan juga untuk membereskan kertas-kertas di atas meja "kerja" saya. Finally, keliatan lengang juga. Postingan selanjutnya bakalan bahas itu aja deh, hehehe, tunggu aja ya ....

Okay, selamat puasa temen-temen yang melaksanakannya ^^ semoga barokah bagi saya dan bagi kalian ya ... :)

Wassalamualaikum ^^


I think that's all, thank you

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...