Thursday, July 23, 2009

Sepetak tanah dan sebuah rumah

I have a case, semoga kalian bisa bantu solving ya.

Ada sepetak tanah dan sebuah rumah di daerah yang lumayan bagus untuk tempat berbisnis. Pemiliknya adalah Bapak A dan Ibu A *suami istri*.

Selama bertahun-tahun, keluarga A tidak mengetahui bahwa setengah tanah yang dimilikinya tersebut telah menjadi sebuah tempat tinggal baru. Memang tidak terlalu layak disebut rumah, karena rumah tersebut adalah hasil bongkaran dari rumah yang lama.
Beberapa tahun yang lalu, keluarga A ditagih untuk membayar listrik untuk rumah tersebut.
Padahal yang keluarga A tahu, rumah tersebut tidak ada penghuninya.
Karena itu mereka memutuskan untuk memutus listrik yang mengaliri rumah tersebut.

Dan pada saat rumah tersebut didatangi, ternyata memang rumah tersebut sudah dihuni sebuah keluarga. Catet ya, tanpa membayar sepeserpun. Tidak uang air, tidak uang listrik, uang kontrak rumah, apalagi pajak tanah dan bangunan, yang membayar sudah pasti keluarga A.
Karena keluarga A datang ke tempat tersebut dan mengatakan kalau ini adalah rumah mereka, mereka sih tau diri. Sampai akhirnya beberapa saat kemudian mereka pindah.

Datanglah penghuni baru, yang akunya pada tetangganya, sudah membayar ini itu pada seseorang, entah itu kontrak atau beli. Keluarga A jelas-jelas tidak menerima uang dari penghuni yang baru tersebut. Tetangganya yang mengetahui keluarga A, memberi kabar dan mengatakan kalau ada sebuah keluarga nggak jelas tinggal disana. Tetangga dari rumah tersebut menjelaskan pada keluarga A, bahwa rumah tersebut saat ini telah menjadi gunjingan, karena dianggap sebagai rumah preman.
Jadi kalau ada sebuah kasus pencurian atau apa, para warga datangnya ke tempat tersebut.

Wah, sayang banget dong. Tempat yang sebegitu bagusnya harus disia-siakan seperti itu.
Memang sih dari dulu keluarga A ingin sekali menjadikannya sebuah bangunan yang bermanfaat, seperti tempat kos ataupun toko.
Tapi keluarga A memang belum sempat merealisasikannya, selain pula biaya yang diperlukan tidak sedikit.

Jadi sebenarnya keluarga A harus melakukan apa ?
Membongkar rumah tersebut, karena jelas-jelas mereka adalah pemiliknya ? Walaupun toh akhirnya tanah itu akan dibangun ataupun tidak. Namun dengan kekhawatiran kegiatan "premanisme" bisa saja terjadi ? Atau,
Membiarkan orang yang tidak bertanggungjawab tetap tinggal disana, dimana keluarga A yang harus menanggung kerugiannya, karena mereka membayar PBBnya dan tidak menerima uang kontrak??

Atau mungkin bisa kasih saran lain ??
I think it's a serious problem, jadi kalau mau jawab, jangan dijawab becandaan ya peace


I think that's all, thank you

23 comments:

Vicky Laurentina said...

Fen, cari pengacara. Mereka lebih ngerti urusan ginian.

Vicky Laurentina said...

Fen, cari pengacara. Mereka lebih ngerti urusan ginian.

antown said...

iki tenanan fen? kok ga ada pengantarnya? kupikir cerpen tadi :D

wah gmn ya? blom ada pglm gini

-GoenRock- said...

Setuju sama Vicky, harus lewat jalur hukum ini mah

genial said...

telad gw... iia tuhhh setuju sama mba' vicky... hihihihihi... cari loyer...

Raffaell said...

Pagerin aja fen, yang tinggi ala militer, kasi plank dilarang masuk, kalo ada yang ninggalin berarti bisa dituntut pulisi....

Nona Nieke said...

pengalaman pribadi, mbak? :D

btw, aku rasa kalo ibu dan Bapak A punya surat2 resmi kepemilikan bisa nempuh jalur apa aja. Kalo takut ada tindakan premanisme, kan bisa minta bantuan pihak yang berwajib. Tp sebaiknya sih coba diselesein baik2 dulu :-B

Anggara said...

Menurut saya, sih harus ada keinginan kuat dari si A untuk menunjukkan bahwa merekalah pemilik sebenarnya, disamping itu juga harus pula mempunyai sertifikat yang sah. Tanpa itu, kalau rumah dibiarkan kosong terus menerus nanti jadi terlampu rumit urusannya

Ayu Mamisinga said...

Wah, sering kasus begini.. biasanya berujung ke pengadilan..

Semoga pihak yang menduduki tempat keluarga A gak bikin akte2 palsu ajah.. coz gawat kalo sampe gitu, keduapihak saling claim.

Tergantung sih, aku pnya tante banyak rumahnya yang kasus begini.. tapi si yang nempatin berhasil diusir dengan sukses karna tante punya bukti sebagai pemilik dan punya hak apapun atas miliknya (dan juga kalah sama bodyguard2nya tante ku)

zee said...

Satu-satunya cara tentu saja menempuh jalur hukum.
Mungkin untuk tahap awal adalah datang bersama pak rt, lalu klo memungkinkan ya dengan pak camat. Di Kecamatan kan biasanya ada keterangan ttg surat tanah itu milik siapa.
Kalo ternyata tidak mempan, baru pakai jalur hukum.

Hamster Copo said...

Entah hanya otak aku yang dudut atau cuma perasaan aku saja,, tampaknya mbak ini bukan membahas sebuah rumah yang sudah ada surat keterangan dari pemerintah untuk dihuni tapi aku cenderung melihatnya sebuah rumah dibawah jembatan yang penghuninya adalah orang kumuh ataupun sampah masyarakat..enggak tau deeh aku
kalo soal solusi bener apa yang temen-temen usulkan,,mbak harus melalui jalur hukum agar masalahnya tidak tambah rumit

Rusa Bawean™ said...

mending kalo udah gak mampu ngurusin dijual aja
:)

Ksatrio Wojo Ireng said...

Disarankan agar jalur hukum bisa ditempuh dalam menyelesaikan perihal yang satu ini.. semoga ada solusi damai yang tuntas..

Kombes.Com Bookmarking said...

Submit tulisan anda di Kombes.Com Bookmarking, Agar member kami vote tulisan anda. Silakan submit/publish disini : http://bookmarking.kombes.com Semoga bisa lebih mempopulerkan blog/tulisan anda!

Kami akan sangat berterima kasih jika teman blogger memberikan sedikit review/tulisan tentang Kombes.Com Bookmarking pada blog ini.

Salam hormat
http://kombes.Com

Ajeng Sueztika Constitusia said...

org2 yg dateng itu pny bukti nggak kalau mereka memang udah bayar? ditanya dulu. Sewa pengacara aja mbak. Tapi kan bapak ibu suami istri itu punya surat resmi, jadi ga perlu takut kalau memang rumah dan tanah itu eang beneran pnyny.
Option 2, kl memang buntu. Toh pny surat resmi dan rumah itu sudah kadung pny cap ga baik, gimana kalau dijual aja.

aprie said...

waduh..lagi buntun nih mikir ginian..
mohon di maap..
:p

Milla W. Schumacher said...

hmmmm iya, kalo ini sih mesti pake jalur hukum fen

quinie said...

mendingan keluarga A ngebangun rumah beneran disitu, trus beneran dikontrakin atau dikos-in, jadi ada uang masuk untuk bayar PBB, listrik dsb

Ericova said...

oh gini fen..berdasarkan analisa dan dampak yang saya pelajari mengenai permasalahan ente *halaah haha
gn berhubung hukum2 yang ribet,mending km ke notaris trus minta perlindungan hukum tanah dan kepemilikan..So km punya kuasa hukum n klo ada apa2 km yang menang ven..mengingat itu menjadi "rumah preman" trus juga jangan segan2 minta tolong ke tetanggamu yg terdekat dengan tanah rumah bekas bongkaran buat jaga klo ada apa2 bisa hubungi km gt..

sekian fundamental analisa sederhana saya hehe semoga membantu :)

fifa said...

rumah kosong emang rawan.
seharusnya emang ada yg jagain, atau paling nggak sering dijenguk, seminggu sekali kek apa sebulan sekali, trus rumahnya ga keliatan deserted gitu, dipake buat sesuatu lah,, entah cuma buat ditanami singkong etc, pokoknya keliatan ada kegiatan disitu, ada pemiliknya. jadi bukan rumah terlantar.
kalo dah punya surat2 sih gampang, tinggal ke pak rt aja, diajak omong baik2, premanpun kalo dihargai sebage manusia bermartabat rasanya akan mudheng juga kok
takut sama premannya? ya panggil satpol pp kecamatan

Blogger Yang Servernya di Amerika said...

Yang penting kita semua haruslah pasrah dan berserah diri hanya pada Alloh Subhanahuwata'ala semata,,, Allohu Akbar!!!!!

wel~ said...

IMHO, yang harus dilakukan si A, jika tidak setuju dengan adanya orang yg tanpa ijin tinggal disitu ya berusaha mengosongkannya (kekeluargaan dulu deh). Next, amankan lahan agar tidak terjadi kembali (pasti akan muncul biaya).

pakde Cholik said...

Bawa pengacara dan lapor polisi karena mereka pemilik yang syah kan.
Soal preman ya laporkan polisi juga/

Salam hangat dari pakde di Sukolilo.

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...