Friday, September 6, 2019

The Masrums Jalan-jalan : Chingu Cafe, Yogyakarta

Assalamualaikum,

Liburan ke Jogja kemarin (ini latepost banget yaa, baru sempat teredit lagi postingannya, hehehe), saya sudah mengadang-gadang untuk datang kemari. Sebuah cafe dengan konsep kekinian untuk Ibu-ibu dan remaja putri, you know apapun yang bersifat Korean wave pasti aja laku, dari snack kaki lima ala korea, cowok korea, lagu korea, ngedance ala korea, bahkan untuk anak-anak ada kartun-kartun yang asli korea berseliweran di tv, semuanya ada di Indonesia.

Jadi datanglah kami ke sini, eh maksudnya saya menuntun suami dan anak saya ke sini sih, hahaha. Chingu cafe, kafe ala little Korea yang nuansanya sangat bright dan korea sekali. Dengan warna pink fuchsia, warna-warna terang, mural ala korea dan dinding-dinding yang ditempel wallpaper aktor-aktor Korea yang heits di Indonesia, lagu dan video yang ditampilkan juga lagu K-Pop, dan tak lupa makanannya sudah pasti ala Korea juga, karena jangan lupa ini memang tempat makan ya buibu, bukan tempat foto-foto doang.

Foto sama mas Bo Gum, eh Bo Gum Oppa xD
Uniknya di tempat ini, kalau mau masuk itu mesti ngantri ya book ... seriously, kita itu harus mendaftarkan nama kita di depan, sampai akhirnya dipanggil dan bisa masuk untuk makan dan foto-foto. Karena memang tempatnya kecil sekali, dan kalau semua orang dimasukkan dalam satu waktu, bisa kayak pasar malam aja gitu di dalam. 

Kami datang pagi sekali ke sana dan saat itu memang tidak saat weekend, kebetulan kami masih ada di Jogja di hari Senin, jadi datanglah kami ke sana di hari Senin pagi, saat baru buka jam 11.00 WIB, kalau tidak salah kami datang jam 11.10 WIB, dan sudah harus antri dong, tapi belum ngantri banget, masih banyak bangku kosong di tempat menunggunya. Saya hanya merasa "ya ampun, mau makan itu ngantri ngeliatin orang makan ya ?" hahaha, no wonder kok ya semua jendela ditutupi di bagian luarnya, karena selain panas, ya juga males kali ya diliatin orang kok nggak selesai juga makannya. 

Tempat duduk yang dipakai untuk nunggu di teras depan
Pemberitahuan

Pintu masuk, yang hanya boleh dibuka dan ditutup oleh penjaga pintu, lainnya dilarang pegang, hahaha

Saat sudah giliran kami dipanggil masuk (saat itu kalau tidak salah kami hanya menunggu beberapa menit karena memang masih sepi), kami ditempatkan di salah satu spot yang dekat dengan pintu masuk, mungkin tergantung urutan kedatangan. 

Oh iya, buku menunya menarik, harga yang ditampilkan pakai harga Won (mata uang korea selatan), dengan footnote, harga 1 won = 10000. Saya lupa foto isi menunya, tapi menurut saya idenya menarik, dan kesannya kita memang sedang makan di Korea, hehehe.Setelah duduk, kami diberi buku menu untuk memesan hidangan, hidangannya tentu isinya full ala korea. Dari ramyun ala korea, patbingsoo, alias es campur ala korea, sampai ayam goreng plus keju mozarella ala korea ditambah dengan kimchi-pun ada. 

Harganya cukup terjangkau kalau saya bilang, masih kisaran harga antara 15-100ribu, 100ribu itu yang bisa untuk banyak orang, sayangnya sepertinya saya salah pesan, harusnya beli varian mie aja, karena untuk kami yang cuma bertiga (yang salah satunya anak kecil) makan yang paket besar, turah-turah guys, akhirnya dibungkus dan dibawa pulang (ke hotel) deh. 



Setelah pesan makanan, sembari menunggu, kami foto-foto doong, hahaha, karena sudah booked mejanya, kami bebas seliweran di spot-spot foto. Oh ya, kami sempat dimarahin satpam karena saya pakai properti ban angsa untuk foto Liam, hahaha, berasa kampungan banget deh, hahaha, tapi gak pa2 deh, pengalaman

Sudah sempat terfoto, hahaha, maafkan kami wahai Chingu, jangan ditiru yaaa XD

My real oppa XD

Teh jagung ala Korea, saya pikir rasanya seperti jagung manis, ternyata seperti klobot dikasih gula (menurut saya loh yaa)
Yaaay



Meat!!

dibantuin masnya nyalain kompor

Paket ayam mozarella dengan kimchi dan entah saus apa itu

Situesyen di dalam Chingu (1)

Situesyen di dalam Chingu (2)

Situesyen di dalam Chingu (3)

Note-note yang ditulis oleh customer yang terikat di beberapa spot Chingu
Ya pengalaman yang cukup menyenangkan, mungkin bisa dicoba lagi kapan-kapan dengan mencoba menu yang berbeda, ingin coba ramyun-nyaaaa xD

Jadi, kalian tertarik juga nggak ke sini ? Tips saya sih itu, jangan datang saat weekend apalagi jam makan siang, waktunya lebih nanggung lebih baik, hahaha.


I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Friday, August 30, 2019

Bijak dalam berinternet yang ternyata sangat penting

Assalamualaikum, 

Tadi saya baca postingan blog yang ditulis salah seorang wali murid di tempat liam sekolah. Sebuah tulisan tidak bertanggungjawab kalau saya bilang. 

Jadi beliau (yang seorang Bapak2) bilang bahwa salah satu kegiatan sekolah yang diadakan beberapa bulan lalu yang ia hadiri, tidak menguntungkan dirinya dan keluarganya, hanya menguntungkan (kalau saya rangkum) 1. Pihak panitia atau eo dan 2. Mama2 yang doyan selfie.

Ia mengklaim bahwa istrinya tidak seperti itu, istrinya bukan panitia ataupun mama2 doyan selfie.

Saya kebetulan adalah bagian dari panitia saat itu, dan saat pertama kali saya baca, saya geram. Kegiatan sekolah Liam selama setahun terakhir membuat saya tidak bisa berkegiatan secara "bebas", karena pikiran selalu tertuju pada event-event yang ada di sekolah tersebut. Mungkin teman-teman akan bilang, "ya tolak aja kali, susah amat"
Ya anggap saja saya saat itu sudah terlanjur masuk dan sulit untuk keluar, saya ingin membahas ini lebih lanjut di postingan lain, tapi nanti saja lah, kita bahas tentang ini dulu.

Saat postingan blog (bapak2 itu) akhirnya terbaca oleh salah seorang teman saya, dan kemudian ia share ke grup wa yang di anggotanya salah satunya ketua panitia kegiatan tersebut, tentu saja, emosinya memuncak dan tanpa berpikir panjang akhirnya ia share postingan blog itu ke dalam wa status (walaupun alamat blognya di blur). Dengan caption kekecewaan. Ya tentu saja kecewa, panitia dianggap ambil keuntungan, padahal kami sangat kelelahan berbulan-bulan saat itu, tidak ada uang yang kami terima, kami, mama-mama tanpa background event organizer diminta untuk mengerjakan event besar dengan peserta lebih dari 500 orang. Dan kami dianggap ambil keuntungan? WTF!

Status wa itu terbaca oleh panitia lain dan akhirnya sempat viral. Namun kami coba menenangkan teman kami tersebut, japri si istri dari bapak2 itu tadi, dan akhirnya istrinya atas nama suaminya meminta maaf, karena sudah tidak bijak dalam menulis, yang diakhiri dengan menghapus postingan blognya.

Saya tidak tau alasannya mengapa beliau menulis kalimat yang saya bilang childish, tanpa apresiasi ataupun tendeng aling2. Bagi saya pribadi mungkin karena ia merasa itu sebatas curhat sehari-hari atau blog itu rumahnya, dia akan tulis apapun yang ia ingin tulis karena ada di teritorinya.

But hey, ini dunia digital yang  sangat mudah diakses orang di seluruh dunia. Kecuali ia private alamat blognya. Karena ia tidak hanya asal ngomong, namun juga share foto keluarganya di situ. Menyebutkan dengan JELAS apa nama kegiatan, sekolah, dan nama kedua anaknya. Yang kalau kami (para panitia) baca, akan membuat kami memiliki imej yang jelek, di lain pihak bapak tersebut dan keluarganya bagi sebagian dari kami sudah dianggap kurang ajar, dan hal itu tentu saja berakibat buruk pada imej mereka.

Kadang hal-hal seperti ini yang membuat saya akhirnya jadi lebih berhati-hati atau malah TERLALU berhati-hati dalam menulis postingan di blog. Takut menyakiti orang lain, takut review kita menjelekkan pihak tertentu dan akhirnya jadi masalah. Ya memang tidak sesantai dulu. Masih untung postingan saya yang lalu lebih ke masalah galau anak kecil, hehehe, yang biarlah kalau masih ada, buat pembelajaran diri saya.

Self reminder untuk selalu menjaga otak saya saat menulis atau mengetik di berbagai media "curhat" saya, siapa tau kata-kata saya tidak sejalan dengan anggapan orang lain. Selalu berpikir dari banyak sisi ya berbeda, agar kita lebih mawas diri.

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 


LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...