Wednesday, August 12, 2015

Berenang bersama Liam

Assalamualaikum,

Saat sadar Liam sudah semakin besar, saya dan bojo pengen Liam ada kegiatan lain selain bermain di rumah saja. Opsinya antara lain berenang. Tapi nggak pernah terealisasi karena yaaaa .... anak seorang wartawan ya, hahaha, hush. Sebenarnya bisa aja sih saya nganter Liam sendiri untuk berenang, tapi saya ragu nanti akan ribet saat ganti baju dan lain-lain. Ternyata setelah ngetes renang sama Liam kemarin aw, emang agak ribet ya kalau renang sendiri aja sama Liam.

Jadi, setelah lama dijanjikan, akhirnya kami berangkat juga berenang sama bapaknya Liam Jum'at minggu lalu, horee. Setelah mikir tempat mana yang tepat berangkatlah kita sekitar jam 7 pagi dari rumah. Awalnya mau berenang di kolam renang salah satu kampus negeri di daerah Surabaya Barat, alias Unesa, eh ternyata baru buka jam 8 dong, ya daripada nunggu dan panas juga gitu, akhirnya kita beralih ke opsi lain, yaitu ke Club House Wisata Bukit Mas. 

Tempatnya bersih dan ada untuk kolam anak kecilnya, sayangnya nggak ada untuk permainan anak kecilnya. Tapi apalah, wong ini untuk main nyebur-nyeburan aja kok, hihihi. Ya secara bapak maknya Liam nggak ada yang bisa berenang, ooops. HTMnya 30ribu rupiah per orang, sepertinya anak di bawah 3 tahun tidak di charge, nyatanya kami cuma bayar 60ribu rupiah.

Liam awal-awal takut-takut gitu mau nyebur, tapi akhirnya nggak mau mentas, hahahaha. 

Pemanasan dulu tante dan oom
Sini Bapak, aku ajalin lenaaang ...
aaaww ... buuu kemacukan aeelll ....
Pak ayooo nyebur lagiii
nggak mau liat kamela aaah ... mau maen ael ajaa ...
Pengennya sih setelah ini rutin paling enggak sebulan sekali, tapi ya balik lagi, yang penting ada orang yang bisa dampingin, biar nggak ribet saat harus ganti-ganti baju. Yang paling penting lagi, Liam senaaang, abis selesai renang di rumah langsung tepaaaar di rumah :D

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Saturday, August 1, 2015

Memasuki Agustus

Assalamualaikum,

Saat laptop saya masuk bengkel, kepikiran juga akhirnya untuk membuat postingan di sini *nyatut komputer kantor Bapak*

Postingan terakhir tentang laba-laba yang harus dibersihkan di blog ini, dan ternyata sarangnya makin banyak, hahaha. 

Saya posting takut percuma aja, soalnya saya bayar nama blognya, eman dong kalo nggak dipake, ya walaupun di blog Little Mushroom lumayan ada lah postingannya tiap bulan #medhit. Ya abisnya susah juga mau nulis apaan di sini, nulis tentang Liam ? tentang kerjaan ? problem dan ceritanya begitu-begitu aja sih, hihihi, nah kalau tentang crafting sudah terprovide di blog satunya, akhirnya saya ya jadi jarang nulis-nulis di sini. Atau mungkin saya memahami kehidupan saya ya flat-flat saja xD 

...................................................

Barusan saya bingung mau ngelanjutin nulis apa, oke, kegiatan saya untuk sementara tidak banyak berubah, seorang ibu rumah tangga yang bekerja paruh waktu menjadi dosen dan crafter. Mungkin nanti kalau sudah waktunya ngajar lagi, saya jadi ada banyak bahasan yang bisa saya tulis, atau tepatnya ngroweng soal mahasiswa ya, hahaha. 

Sebenarnya rindu juga sih, menulis kemudian membalas komen teman-teman, tapi kan itu sudah saya lakukan di instagram ? #teteup. Atau ya harus balik ke tujuan semula ngeblog ini untuk apa ? untuk mendokumentasikan kehidupan saya (yang bagi saya flat itu) kan ?

Ya, saya mau semedi dan menanamkan pernyataan saya di atas itu dulu deh, semoga bisa istiqomah :D

Anyway, selamat Lebaran ya, yang saya belum sempat ngucapin, telat 2 minggu lebih sih, tapi daripada nggak ngucapin ya :D Selamat memasuki bulan Agustus juga, yang barusan gajian ayo belanja dan order di instagram @littlemushroom_ hihihi, have a nice August people :)

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Friday, April 17, 2015

Bersihin sarang laba-laba sambil babbling

Assalamualaikum,

Hai hai, wih lama ya saya nggak posting di blog ini, hihihi, berasa ada yang nunggu aja :p 

Hey mas Ndop, mbak MilaSaid dan mas mbak yang disitu tuh yang lagi baca postingan ini, yang masih nyempetin mampir di blog penuh sarang laba-laba ini, apa kabar kamyuuh? hehehe
Situ saya mention karena yang paling rajin komen :p

Haduh haduh, sudah April ya, terakhir saya posting Januari lalu looh ... lama ya, cyiiin. Maklum deh ya sibuuk ... sibuk posting di Instagram mulu maksudnya, hahaha. Adiktif banget tuh microblog, setdah ...

Jadi mau ngomongin apa kitah ? 
Untuk memulai keniatan saya untuk posting di blog ini, kita ngomongin short biography saya sekarang deh :

Ibu-ibu, baru masuk kepala 3 tahun ini, yang masih terlihat imut (ouh), dengan anak usia hampir 20 bulan, kegiatan tiap harinya dipenuhi dengan ngurus anak, malamnya jadi crafter (yang seringnya terjangkit kemalasan dengan alasan capek), tengah minggu dapet kesempatan "pisah" sebentar dari anak karena harus ngajar di salah satu universitas swasta di Surabaya, yang endingnya mesti nitipin anak di "sekolah" karena di rumah nggak punya rewang yang bisa bantuin saya ngurus anak (susah sekarang cari rewang, iya tho ?), masih berstatus istri jurnalis tentunya, yang mesti siap-siap dengan kegiatan mendadak suami keluar kota :D and etc, etc, etc ...

My life so much fun, though, karena tiap hari dipenuhi kegiatan yang membuat saya harus belajar, ya belajar sabar, belajar bikin pinter anak, belajar ngerti pengennya anak, belajar manage waktu (nah yang ini belum sukses banget nih), belajar manage uang (sering boros, duh), belajar crafting juga, belajar masak, dan lainnya, well ternyata bener banget seorang Ibu dan perempuan itu memang harus multitasking, semua harus bisa dilakukan. 

Menurut saya yang penting banget ya jadi gurunya anak sih, jadi kalau ada salah satu artis dangdut bilang sudah cukup jadi perempuan atau Ibu itu yang penting tau 1+1=2, oh my God, bukannya saya mau menghina tuh artis ya, tapi gimana ya kalau bisa berusaha lebih tinggi dan membuat anak lebih bangga terhadap Ibunya dan lebih bisa pintar karena Ibunya menjadi guru terbaik untuk anaknya, menurut saya itu sebuah pencapaian yang luar biasa. Pasti sering tau dengan meme dari Dian Sastro tentang Ibu cerdas itu kan. Saya, suami dan kadang dengan Ibu saya juga sering membahas ini, contoh terbaik anaknya ya orang tuanya. Secara yang tiap hari sama Liam itu Ibunya ya otomatis Ibunya harus bisa cerdas untuk jadi contoh anaknya, right ? 


Ini dari biografi kenapa endingnya saya membahas Ibu cerdas ya, hahaha, ya maklum saya kan sering terseret situasi xD

Sudah ah, nanti saya coba sering bersihin sarang laba-laba di blog ini deh, sekalian bersihin tampilan dan bersihin spam, hihihi, so see you guys soon, saya mau kerja lagi ...

I think that's all, thank you  

Wassalamualaikum,

Thursday, January 22, 2015

#CeritaLiam Pt 4 : Defisiensi Zat Besi dan Alergi

Assalamualaikum,

Saya malam ini mau ngomongin Liam lagi, biar jadi catatan saya aja, pengingat juga kalau nanti (kalau) Liam punya adik, hehe, jadi saya nggak akan mengulangi kesalahan yang serupa. Damn, kok kesannya saya jadikan Liam kelinci percobaan ~.~" eh, bukan gitu sih, I'll do my best selama 16 bulan ini demi Liam. Tapi yang namanya orang tua baru ya, eh orang tua lamapun sebenarnya bisa aja punya pengalaman baru terhadap anaknya sih, tapi ya sudahlah balik ke masalah Liam.

Terakhir kali saya membahas serius tentang Liam saat dia akan melakukan sunat sebelum dia berulang tahun yang pertama hampir 5 bulan yang lalu. Ternyata setelah 5 bulan, belum ada perkembangan signifikan soal berat badan Liam yang masih saya kenaikannya sangat sangat seret. Sebagai orang tua, lagi-lagi saya merasa down, apa yang selama ini masih belum saya lakukan ? Jawabannya, BANYAK. 
Saya pernah berjanji pada diri saya sendiri untuk menjadi Ibu yang "pintar", I mean, cari info sebanyak-banyaknya, lakukan semua hal, semua yang memang bisa berguna demi anakmu. Dan saya terbuai dan termudahkan oleh kata-kata dokter kalau setelah ini itu, kenaikan bbnya akan signifikan. Seperti sunat kemarin contohnya. Oh ternyata tidak semudah itu.

Saya punya beberapa teman yang anaknya kasusnya hampir sama dengan Liam. Berat badannya mepet normal, hampir di bawah normal, seperti Liam. Sering sharing, dan membuat saya merasa saya belum melakukan banyak hal, seperti mereka. Walaupun sebenarnya saya nggak boleh membuat diri saya stress dengan hal ini, tapi ya seperti biasa, saya kebawa deh. 

Jadi di awal tahun ini, saya konsul ke DSA lagi, kali ini dokter yang berbeda. Setelah konsul, kami disarankan untuk melakukan tes darahnya Liam. Sehari setelahnya kami langsung ke lab, walaupun cukup nggak tega melihat Liam dibedong dengan paksa untuk diambil darahnya oleh petugas Lab, apalagi Liam masih nggak bisa kalau nggak nangis ketika bertemu dengan orang baru. Hiks, sedih. Apalagi waktu itu dia masih masa pemulihan setelah terkena Roseola, empat hari demam dan kemudian timbul ruam-ruam merah di sekujur tubuhnya. Jadi badannya masih nggak fit, tapi ya kami merasa harus melakukan sesuatu secepatnya. 

Setelah dites, besoknya kami ambil hasil labnya dan diketahui ternyata Liam terkena defisiensi zat besi, semacam anemia, kekurangan darah yang memang hal tersebut menghambat perkembangan dari bayi. Katanya memang ini sering terjadi pada bayi yang hanya minum ASI. Saya bukan menyalahkan ASInya, saya menyalahkan diri saya yang harusnya memakan makanan yang membuat ASI saya lebih melimpah atau lebih bergizi. Karena ya yang saya baca di internet, hal tersebut cukup mempengaruhi. Nah, note for self kan ?

Akhirnya dokter memberikan suplemen makanan yang mengandung zat besi, yang memang sangat dibutuhkan untuk boosting kandungan zat besi dalam tubuh anak. Karena kalau sekarang, hanya melalui makanan yang mengandung zat besi saja ya nggak nutut, suplemen makanan sangat sangat dibutuhkan. Jadi terapi pertamanya adalah Liam harus minum suplemen tersebut setiap hari sampai 3 bulan ke depan. Minum sebulan saja memang nggak akan ngefek sih, karena melihat angka yang ditunjukkan setelah dites darahnya, memang kurang sekali zat besinya. 

Tapi sebenarnya bukan hanya itu yang membuat zat besi di tubuh Liam tidak terserap sempurna, sehingga menghambat pertumbuhannya. Ternyata ini juga karena efek alergi yang dulu pernah saya bahas juga di blog ini. Jadi kalau orang yang memiliki alergi terhadap makanan atau pemicu tertentu, hal tersebut membuat metabolisme orang yang terkena alergi bekerja lebih berat, dan katanya sih akan menghambat pertumbuhan juga. Nah jadi ini salah orang tuanya lagi dong, sebenarnya saya memberikan makan apapun pada anak saya karena saya ingin dia bisa tahan pada semua makanan, yang konon katanya memicu alerginya. And, oh ini orang tuanya perlu ditimpuk buku kali ya, it's a big mistake!

Mestinya ya semua pemicu alergi itu harus dicatat dan dites pada anaknya, tiga minggu sekali, sehingga kita tau apa saja yang benar-benar membuat dia alergi gatal, alergi batuk-batuk, atau alergi diare. Yes, setiap pemicu, bisa menyebabkan akibat yang beda-beda. Liam, by the way, hampir selalu batuk sepanjang bulan. Kami pikir waktu itu adalah ia tertular teman satu TPAnya, oh ya, saya memang sempat menitipkannya ke TPA waktu saya bekerja full time waktu itu (yang sekarang tidak lagi). Sejak saya bekerja itu memang saya sudah ngoplos ASI saya dengan sufor dan UHT, yang ternyata ngefek banget ke pernafasannya dan bab-nya yang seringnya tidak terlalu padat.

Kalau dilihat dari history-nya sih, yang saya tau, Liam pasti akan merah-merah dan gatal saat saya berikan ia makanan yang mengandung telur. Pure telur, seperti telur didadar atau diceplok, sejak itu saya nggak pernah memberikannya telur dengan metode apapun. Tapi saat saya memberikannya biskuit (yang pasti mengandung telur) ia "sepertinya" baik-baik saja. But no, nggak gitu juga loh, karena itu tadi metabolismenya bekerja lebih berat dan ya kami memang kecolongan soal ini. 

Lagi-lagi kami memulai dari awal, jadi selama seminggu ini Liam sudah diet beberapa makanan yang "biasanya" pemicu alergi. Susu sapi, telur dan ikan. Setelah ia hipoallergenic, Februari nanti kami akan melakukan beberapa "tes" beberapa makanan yang mengandung alergi tinggi itu. Baru deh ketauan dia alerginya pada apa saja. Sekarang Liam kembali hanya minum ASI, padahal mungkin ASI saya memang tidak sebanyak dulu, tapi setidaknya masih keluar. Saya juga mengganti makanan Liam yang tadinya menggunakan kandungan susu sapi (UHT) dengan menggunakan santan atau susu kedelai. Jadi itu adalah terapi kedua Liam, dan saya nggak tau terapi apa lagi yang mungkin memungkinkan untuk Liam, mungkin harus dibarengi dengan doa sebanyak-banyaknya mungkin :)

Sekarang saya nggak mau koar-koar kalau ini pasti berhasil atau apalah, saya belum akan puas saat benar-benar terlihat hasilnya. Karena saya takut sakit hati lagi, hehehe, jadi bismillah saja, yang penting sekarang saya melakukan apapun saran terbaik dari dokter buat Liam.

Bismillah .... wish us luck (again) :)

I think that's all, thank you  

Wassalamualaikum,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...