Thursday, September 7, 2017

Edisi curhat tentang gigi : Cabut Gigi Geraham

Assalamualaikum,

Saya mungkin belum pernah cerita di blog kalau gigi geraham kiri saya bermasalah sejak setahun yang lalu, yang membutuhkan perawatan (perawatan akar atau sering disebut root canal) terus menerus (karena on off ke dokter) dan in the end beberapa hari lalu akhirnya saya (dan dokter saya) memutuskan untuk dicabut aja deh tuh gigi bermasalah.

Sayang sih emang, tapi emang ribet sih ngerawat gigi yang mahkotanya udah krowak hampir setengah bagian. Apalagi sudah mendapatkan perawatan root canal alias akar gigi yang ternyata saat di tambal lepas lagi tidak sampai sebulan (usut punya usut karena tambalannya sulit menyatu dengan bagian bolongnya gigi ini, hehehe)

Akhirnya harus sakit lagi, ngilu lagi, ke dokter terus dan terus, and of course, cost some money juga kan. Tapi Tuhan maha baik, ketemu sama Bu Dokter yang masyaAllah baiknya dan sabar banget nurutin keinginan saya, plus dapet diskon karena tetangga, huwih, gimana gak melting coba. 

Ya sudahlah beberapa minggu lalu, akhirnya saya minta sama Bu Dokter itu untuk cabut aja giginya, daripada ya sungkan ke dokter lagi (dan dapet diskonan terus lah ya) hehehe.

Nah ini nih hasilnya.



Hahaha, serem ya, bisa growak dan growaknya dalem banget loh itu sampai ke akar, makanya sakitnya nggak ketulungan kalau lagi waktunya sakit.

Jadi ya Alhamdulillah sekarang udah lepas dari rasa sakit, semoga gak ada cerita nyut-nyutan lagi gara-gara sakit gigi, karena emang gak bisa dibandingin sakitnya sama sakit hati #eh #nggaknyambung :D Anyway, ini pertama kalinya gigi saya dicabut, semoga untuk yang terakhir kalinya, sakitnya (karena merasa aneh nggak ada gigi lagi) itu bertahan seminggu sih, setelah itu sudah seperti biasa lagi, hehehe.  

Jadi jangan lupa sakit gigi dan periksa gigi berkala ya teman-teman, biar nggak kayak saya :)

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Thursday, August 17, 2017

Mengapa meminumkan obat ke anak itu sulit ?

Assalamualaikum,

Taken from HERE
Liam, anak kami yang bulan ini menginjak usia 4 tahun itu, sampai sekarang masih sulit untuk meminum obat di kala sakit. Kami sadar, mungkin ia trauma terhadap apa yang kami lakukan dahulu saat ia bayi, dan masih terpatri di otaknya sampai sekarang. 

Dulu dia sempat dipaksa meminum obat saat ia tidak mau, seperti membuka mulutnya sampai memaksa obat itu masuk ke dalam. Memang sih saat itu obat yang diberikan dokternya cukup pahit, walaupun toh akhirnya sudah diberi pemanis, pakai rasa sirup stroberi ataupun jeruk. Tapi tetap saja itu tidak membuat Liam menyadari bahwa penting minum obat saat ia sedang sakit, tau nggak sebelum obat itu masuk ke dalam mulutnya dia sudah muntah duluan, bahkan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya, hiks. 

Ternyata rasa traumatis itu terpatri di otaknya sampai sekarang, padahal saat itu ia masih dibawah setahun, kami nyesel kenapa nggak minta manis-manis aja sama dia, atau cara yang paling menyenangkan dalam meminum obat. Baiklah nasi sudah menjadi bubur, sekarang kami harus putar otak saat meminumkan obat saat ia sakit. 

Awalnya saya berpikir, ya bagus sih ya, Liam akan jarang pakai obat oral dan bisa lebih sering pakai obat luar aja seperti minyak telon, essential oil atau berbagai macam remedies dari bagian luar tubuhnya. Tapi kita tau juga sih, yang natural-natural macam itu kan bikin anak kita lebih lamaaaaa sehatnya ya, hehehe. Gimana coba kalau sakitnya akan lebih parah, huks.

Akhirnya saya pakai trik "nggak bilang-bilang" sama Liam. 

Pesan buat Liam : Nak, kalau kamu melihat postingan Ibu ini di saat kamu besar, tolong maafkan Ibu ya Nak, kan supaya bikin kamu cepet sehat ya yaaa? I love youu ... XD 

Jadi saya memasukkan obat puyer yang diberikan oleh dokter ke dalam botol minumnya, duh semacam intel rahasia memasukkan obat tidur ke musuhnya saya ini, hehehe, kidding. Isi di botolnya air putih loh ya, bukan minuman yang ada rasa-rasanya. Air di botolnya tidak saya penuhi, jadi isinya hanya seperempat dari air isi botol tersebut. Lalu kemudian saya masukkan deh puyernya. Saya beri ia minum saat ia telah selesai makan atau sebelum dia tidur. Kerasa nggak ? Kayaknya sih enggak ya, airnya kan banyak banget, tapi yang penting minuman itu habis sih. Anything lah pokoknya yang penting obatnya masuk ke dalam tubuh Liam. Jadi selama setahun ini, itulah cara saya agar obat untuk anak saya bisa masuk ke dalam tubuhnya saat ia sakit. Bukan cara "meminumkan obat" ke anak, hehehe. 

Ada yang punya pengalaman seperti kami ? Share dong ? Saya juga nggak mau sih sampai dia besar dia tetap trauma terhadap obat penyembuh. Bahkan obat sirup yang rasanya manis sekalipun. Saya juga nggak mau pake trik "nggak bilang-bilang" ini selamanya, kan kita tetap harus jujur sama anak :( 

Cara terbaik apa ya itu memberi stimulus pada anak kalau minum obat itu nggak pahit, bikin sembuh, bikin sehat, dan nggak bikin mual. Gimana yaa ....

I  think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Ibu Liam yang galau

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...