Thursday, August 17, 2017

Mengapa meminumkan obat ke anak itu sulit ?

Assalamualaikum,

Taken from HERE
Liam, anak kami yang bulan ini menginjak usia 4 tahun itu, sampai sekarang masih sulit untuk meminum obat di kala sakit. Kami sadar, mungkin ia trauma terhadap apa yang kami lakukan dahulu saat ia bayi, dan masih terpatri di otaknya sampai sekarang. 

Dulu dia sempat dipaksa meminum obat saat ia tidak mau, seperti membuka mulutnya sampai memaksa obat itu masuk ke dalam. Memang sih saat itu obat yang diberikan dokternya cukup pahit, walaupun toh akhirnya sudah diberi pemanis, pakai rasa sirup stroberi ataupun jeruk. Tapi tetap saja itu tidak membuat Liam menyadari bahwa penting minum obat saat ia sedang sakit, tau nggak sebelum obat itu masuk ke dalam mulutnya dia sudah muntah duluan, bahkan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya, hiks. 

Ternyata rasa traumatis itu terpatri di otaknya sampai sekarang, padahal saat itu ia masih dibawah setahun, kami nyesel kenapa nggak minta manis-manis aja sama dia, atau cara yang paling menyenangkan dalam meminum obat. Baiklah nasi sudah menjadi bubur, sekarang kami harus putar otak saat meminumkan obat saat ia sakit. 

Awalnya saya berpikir, ya bagus sih ya, Liam akan jarang pakai obat oral dan bisa lebih sering pakai obat luar aja seperti minyak telon, essential oil atau berbagai macam remedies dari bagian luar tubuhnya. Tapi kita tau juga sih, yang natural-natural macam itu kan bikin anak kita lebih lamaaaaa sehatnya ya, hehehe. Gimana coba kalau sakitnya akan lebih parah, huks.

Akhirnya saya pakai trik "nggak bilang-bilang" sama Liam. 

Pesan buat Liam : Nak, kalau kamu melihat postingan Ibu ini di saat kamu besar, tolong maafkan Ibu ya Nak, kan supaya bikin kamu cepet sehat ya yaaa? I love youu ... XD 

Jadi saya memasukkan obat puyer yang diberikan oleh dokter ke dalam botol minumnya, duh semacam intel rahasia memasukkan obat tidur ke musuhnya saya ini, hehehe, kidding. Isi di botolnya air putih loh ya, bukan minuman yang ada rasa-rasanya. Air di botolnya tidak saya penuhi, jadi isinya hanya seperempat dari air isi botol tersebut. Lalu kemudian saya masukkan deh puyernya. Saya beri ia minum saat ia telah selesai makan atau sebelum dia tidur. Kerasa nggak ? Kayaknya sih enggak ya, airnya kan banyak banget, tapi yang penting minuman itu habis sih. Anything lah pokoknya yang penting obatnya masuk ke dalam tubuh Liam. Jadi selama setahun ini, itulah cara saya agar obat untuk anak saya bisa masuk ke dalam tubuhnya saat ia sakit. Bukan cara "meminumkan obat" ke anak, hehehe. 

Ada yang punya pengalaman seperti kami ? Share dong ? Saya juga nggak mau sih sampai dia besar dia tetap trauma terhadap obat penyembuh. Bahkan obat sirup yang rasanya manis sekalipun. Saya juga nggak mau pake trik "nggak bilang-bilang" ini selamanya, kan kita tetap harus jujur sama anak :( 

Cara terbaik apa ya itu memberi stimulus pada anak kalau minum obat itu nggak pahit, bikin sembuh, bikin sehat, dan nggak bikin mual. Gimana yaa ....

I  think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Ibu Liam yang galau

Sunday, August 13, 2017

#latepost Short (business) trip to Lombok

Assalamualaikum,

Hari Selasa dua minggu lalu dikabarin Bapak saya kalau saya harus ke Mataram di hari Kamisnya, I was like ... "Apaaa?" jeng jeeeng .... hahahaha

Jadi saya memang punya beberapa pekerjaan disamping mengajar dan menjahit, saya juga "membantu" usaha bapak saya, walaupun kalau benar-benar dibilang membantu juga enggak, hehehe. Kalau ada hal seperti ini membuat saya berpikir apa iya saya harus benar-benar belajar, padahal ya nggak ada passion ke usaha ini, bimbang gini deh jadinya. Kalau saja ada orang yang bisa diberi mandat untuk meneruskan yang lebih kompeten saya rasa saya bukan orang yang tepat :(

So, anyway, kembali ke short trip, this is my an official business trip membawa nama perusahaan Bapak saya dengan rekan beliau ke daerah tempat proyek tersebut diadakan. Jadi cuma saya sama rekan beliau itu. Tanpa suami, tanpa bapak saya apalagi dengan Liam. Totally alone.

Jangan harap kemudian kalau ke Mataram alias Lombok kemudian bisa hore-hore, lah wong ini beneran cuma urusan kerja doang. Pagi berangkat sore pulang (yang dipending malamnya karena alasan ada dokumen yang salah print, bleh)

Hopping dari satu kantor ke kantor lain kemudian diakhiri penandatanganan dokumen di salah kantor terakhir, dimana harusnya kami balik ke Surabaya jam 4 sore, akhirnya harus dipending jam 9 malam. Well, untungnya gara-gara hal tersebut, kami bisa sempatkan untuk kulineran tipis-tipis, dan saya (agak nodong yang nganter) minta diantarkan ke tempat beli oleh-oleh, lumayan lah dapat beberapa kaos buat Liam dan ponakan-ponakan saya, hehehe.

Nggak ada cerita foto-foto tempat eksotis, makan plecing kangkung dan ayam kalasan, naik perahu ke gili trawangan dan gili-gili lain, huhuhu ... ya ya, anggap aja pe-er suatu saat saya, suami dan anak harus kesana kalau jodoh dan rejeki berlebih, aamiiin :D


Makan di Pantai Tanjung Karang atau Taman Loang Baloq ya ? 

Beli oleh-oleh dadakan (dan agak mahal, yang penting dapet oleh-oleh) di Sasaku

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...