Monday, July 23, 2018

The Masrums Jalan-jalan : "Gereja Ayam" di Bukit Rhema

Assalamualaikum,

Hiyaaak, mumpung lagi ada di kampus dan nungguin mahasiswa untuk konsultasi, sekalian aja saya menyempatkan diri untuk menulis. Setelah postingan yang kemarin, hari ini saya akan bercerita tentang salah satu destinasi kekinian di area Magelang atau tetangganya Yogyakarta.

Tempat ini dikenal dengan nama "Gereja Ayam" salah satu destinasi wisata yang booming setelah muncul di film Ada apa dengan Cinta 2, 2 tahun yang lalu. You know, saat si Rangga dan Cinta niat banget untuk nunggu gelap-gelapan supaya bisa dapet momen Sunrise di atap tempat ini (ya kalau nggak lihat filmnya saya tunjukin salah satu scenenya ya, hehehe)

Yang itu loh ^_^, foto diambil dari SINI
Jadi akhirnya kami ke tempat ini, setelah sebelumnya kami mampir ke Borobudur, saya pernah menulis blog beberapa tahun lalu kalau salah satu destinasi impian saya adalah ke Borobudur, hahaha, cupu ya belum pernah darmawisata ke Borobudur. Obrolan tentang Borobudur akan saya tulis di postingan lain, saat ini saya ingin membahas tentang Bukit Rhema.
Istri dan anaknya Rangga, hehehe 
Bukit Rhema terletak 4 km dari Candi Borobudur, ya 10-15 menit lah dengan menggunakan motor. Kalau dari kota Magelang sekitar setengah jam, kalau dari Jogja ya satu setengah jam, hehehe. Saya sempat posting tentang Bukit Rhema beberapa waktu lalu di instagram ataupun facebook, dan banyak yang memberikan masukan tentang tempat ini, karena mereka kebetulan sudah duluan ke sana.

Bangunan unik berbentuk burung merpati ((bukan ayam)) ini memang menarik. Pencetus idenya adalah Daniel Alamsjah, bukan seorang tokoh agama (dari yang saya baca), di beberapa media online menyebutkan, beliau dulunya adalah seorang karyawan swasta yang kemudian diberikan mimpi untuk membuat sebuah rumah doa yang bukan hanya untuk agama tertentu di tempat ini. Jadi akhirnya di tahun 1992 ia mulai membangun bangunan unik dengan bentuk seperti burung merpati, yang kita mungkin sudah sering memahaminya sebagai simbol perdamaian. Pembangunannya sempat terhenti di tahun 1996, dan sempat juga ditutup karena penolakan warga di tahun 2000. Lalu kemudian dibuka sebagai tempat wisata di tahun 2014, kemana aja nggak pernah ada yang tau di tahun itu ? ya mungkin karena kurang promosi.
Banner yang ada di bagian pinggir hall, yang menjelaskan isi dan sedikit sejarah dari Bukit Rhema
Saya nggak tau bagaimana akhirnya produser AADC bisa kepikiran memilih tempat ini (belum nemu artikelnya di media online), tapi it work like magic, langsung puff, terkenallah tempat ini. Tidak hanya terkenal, semakin banyak yang ke sini, berarti akan semakin cepat pembangunannya, karena katanya pembangunannya dari swadaya masyarakat dan tergantung wisatawan yang datang. Jadi, cepat nggak cepat sih, hihihi, tapi tetap meningkat sedikit demi sedikit, ya bayangkan pembangunan dari tahun 1992 dan sampai sekarang belum kelar juga, kan lama ya :D

Tempat yang saya lihat bulan lalu ini, jauh sekali dari keadaan Bukit Rhema saat syuting AADC2 2 tahun yang lalu. Bangunan unik ini sudah dikembangkan lebih baik, dari segi eksterior maupun interiornya.

Sekarang sudah ada parkiran di bawah bukit tersebut, kebetulan kami naik motor dari Jogja ke Borobudur, sudah tersedia tempat parkir di halaman salah satu rumah warga (entah rumah warga atau bukan, yang pasti sebuah rumah lah, hehehe) Parkir motornya 5000 rupiah, saya tidak tau parkir mobilnya, pasti lebih mahal. Lalu kemudian, oleh tukang parkirnya kami diberikan opsi, mau ke atas dengan jalan saja atau naik mobil off road untuk ke atas, saya lupa di charge berapa, sepertinya 10ribu per ride naik ke atas. Saat tukang parkirnya bilang jaraknya hanya 200 meter, kami langsung merasa "halah deket aja nggak usah pakai mobil". 

Ngomong-ngomong soal perjalanan dari Borobudur ke sini, tidak sulit (kalau punya gps, hehehe). Kata teman-teman saya yang sudah kesana duluan, selain bangunannya yang sudah mulai lebih terawat, jalan untuk menuju ke sana pun dulu, tidak senyaman sekarang.

Tapi ternyata oh ternyata 200 meter itu jalannya menanjak mameeen, hahahaha. Entah kenapa Liam happy-happy aja saat berjalan ke atas itu, saya dan suami cukup ngos-ngosan, ketauan jarang banget olahraga. Noted buat liburan tahun depan, harus sering olahraga biar liburannya lancar, hahaha.

Disini banyak sekali anak-anak muda yang membantu untuk jadi guide yang menjelaskan banyak hal mengenai Bukit Rhema. Jadi jangan khawatir clueless deh, pasti terinformasi dengan baik.
Waktu kami naik ke bukit, lumayan ya Liam digendong gitu, amaaan, hahahaha

Nah ini waktu Liam jalan sendiri, anak tangganya dibuat warna warni supaya nggak monoton 
Saat sampai di atas banyak warung yang menyediakan makanan kecil, salah satunya es degan :D
Tiket masuknya per orang 10ribu rupiah, bayar 20ribu rupiah, Liam belum kena charge, itu sudah dapat bonus keripik telo, saya nggak sempat ambil keripiknya sih sudah lelah naik turun dan jalan jauh, akhirnya saya cuma naik ke salah satu sisi gedung saja, keripiknya ambil di dekat cafe bagian ekor merpati, maaf info kurang lengkap ya, hehehe. 

Selain bentuk bangunannya, sudah pasti yang memorable adalah bagian mahkota dari bangunan merpati ini. Itu letaknya di lantai 7, nah lantai 7 itu dihitung dari bagian basement untuk tempat berdoa ya, semacam bilik-bilik gitu, agak serem sih, kata guidenya bilik-bilik itu disediakan untuk tempat berdoa berbagai agama. Mau sholat, mau berdoa menurut agama tertentu, mau bertapa, diperbolehkan, tapi kayaknya banyak yang mikir-mikir deh kalau ke bawah, hehehe.

Nah saya nggak punya foto di atas mahkota, karena saya takut ketinggian, hahahaha, failed banget nggak sih, saya cuma bertahan di kepala si burung merpati, nggak sampai ke mahkotanya. Tapi suami dan Liam berani ke atas, jadi mereka punya foto di atas. Oh iya, kata salah satu mbak guide-nya untuk bisa naik ke mahkota untuk lihat sunrise harus janjian dulu sama mereka, dan maksimal 8 orang kalau nggak salah per hari. karena kapasitas di mahkotanya nggak besar, jadi daripada rumpek2an di atas, maka dibatasi orang yang mau melihat sunrise :)
Silau maaan, jam 12 siang ituuu, hahaha
Eaaa selfie diaa ...


Foto bagian ekor dari bagian leher burung
Tangganya masih menggunakan material kayu, belum fix benar, jadi naik turunnya harus hati-hati :)
Dari lantai 2



Dari lantai 2 

Saat baru masuk ke dalam gedung


Jadi Alhamdulillah kesampaian untuk pergi liburan ke Bukit Rhema tahun ini, semoga infonya cukup lengkap, noted buat saya ke destinasi wisata manapun harusnya foto secara detail dari berbagai sisi, jadi info untuk blognya lengkap, hehehe.

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Sunday, July 22, 2018

The Masrums Jalan-jalan : De Tjolomadoe, Convention and Heritage

Assalamualaikum,

Selama hampir 3 bulan tak menyentuh blog, akhirnya klik juga tombol "new post" di dasboard. Oh hi you guys, apa kabar, agak nggak yakin sih masih ada yang stay tuned melihat blog saya, hehehe. But it's okay, bloggers gotta blog kan :D

Sebenarnya ini adalah postingan tambahan dari update instagram saya, yang menjadi perhatian lebih bagi saya dibanding "rumah" yang ini. Kali ini saya akan membahas tentang salah satu tujuan wisata yang kami, The Masrums, alias saya, pak suami dan Liam (sok yes ya pakai julukan begitu, hehehe) lakukan saat pulang kampung liburan bulan lalu.

Seperti biasa liburan kami pasti akan dilakukan selepas libur lebaran umumnya, karena yeah, suami saya tidak mungkin bisa meninggalkan pekerjaannya saat Lebaran. Bahkan di akhir Juni tahun ini ada Pilkada, jadi sebagai wartawan berita tak mungkin kan bisa cuti, hehehe, so saya akhirnya harus bersabar sedikit agar bisa liburan yang lebih panjang.

Jadi akhirnya kami pulang ke Sragen coret (letak rumah mertua saya desanya lebih dekat dengan Solo sih daripada ke kota Sragen-nya), menginap beberapa hari di sana, dan di dalamnya merencanakan untuk pergi ke beberapa destinasi wisata di dekat Solo.


Nah salah satunya adalah tempat ini, namanya adalah De Tjolomadoe, sebuah pabrik gula yang tadinya sudah terbengkalai dan kemudian dipugar, atau kalau kata yang saya lihat di berita direvitalisasi menjadi museum dan convention hall dengan konsep yang modern. Tempatnya berada di Karanganyar, sekitar 12km dari pusat kota Solo, yang sebenarnya cukup dekat sih ya, entah kenapa perjalanan kemarin terasa sangat jauh, hehehe, ya mungkin karena baru pertama kali.

Anyway, De Tjolomadoe berada di daerah Malangjiwan, Colomadu, Karanganyar, perjalanan 10 menit dari Bandara Adi Soemarmo Solo, tapi dari rumah mertua ke daerah Bandara bisa sampai 30 menit sendiri sih, hehehe, jadi hampir 40 menit kalau dari sana. Tempat ini buka pukul 10.00 WIB, kebetulan kami sampai sana pukul 09.30, yang membuat kami harus menunggu beberapa saat sampai akhirnya pintu masuknya dibuka, masuknya nggak perlu bayar alias free, menyenangkan kaan ? :D 
Cerobong asapnya yang memiliki struktur yang kuat sehingga bertahan hingga ratusan tahun
Basicly, tempat ini adalah sebuah gedung bangunan pabrik tua yang dipugar, beberapa bagian masih ada yang dibiarkan seperti awal gedung ini terbengkalai selama 20 tahun. Dibangun di era Mangkunegaran IV, pada tahun 1861, pabrik ini beroperasi lebih dari 100 tahun, namun kemudian mungkin karena mesinnya semakin tua, pabrik tersebut tidak digunakan lagi. Dan kabarnya pabrik tersebut sempat jadi destinasi wisata horor sih sebelum dipugar, kalau kata teman saya seremnya nggak wajar xD, hahaha, secara tempatnya sebelum dipugar seperti sekarang hampir tak tersentuh tangan manusia xD
Dari luar gedung
Tapi jangan khawatir sekarang sudah bagus, pakai banget, semua bagian direstorasi dengan sentuhan klasik modern, beberapa bagian dinding memang dibiarkan seperti saat bangunan tersebut ditinggalkan, lebih kepada untuk menciptakan kesan klasik dan otentik. Terdapat cafe dan restoran yang ada di sana untuk menciptakan fungsi baru tempat tersebut. Nah kebalikan dari masuknya yang tanpa bayar, cafe dan restonya dikonsepkan kekinian dengan harga yang kekinian juga (saya tidak sempat incip-incip kopi ataupun makanannya, tapi kabarnya cukup pricely)

Stasiun Gilingan, space paling besar di dalam pabrik tersebut

Lihat betapa besarnya mesin-mesin itu

Salah satu cafe yang ada di De Tjolomadoe
Mungkin sebelumnya ada uap yang keluar dari saringan besar itu, sekarang bisa instagramable ya ^_^
Tempat tersebut dibagi beberapa area yang mereka sebut sebagai stasiun-stasiun, dari area penggilingan tebu, penguapan, sampai kristalisasi menjadi gula. Mesin-mesin itu sudah tidak ada yang berfungsi, namun diletakkan masih di area aslinya, selain karena pasti sulit memindahkannya, hal tersebut dilakukan untuk membuat kesan pabrik yang otentik, tapi mesin-mesin itu tidak diperbolehkan untuk disentuh melihat usianya sudah lebih dari 100 tahun kan ya :).    
Terbengkalai 20 tahun, bahkan ada pohon yang tumbuh di dalam gedung, saat restorasi dibiarkan saja disana untuk menambah estetisnya tempat tersebut
Ngomong-ngomong soal restorasi, revitalisasi ataupun pemugaran, saya jadi teringat dengan sebuah variety show di channel National Geographic People, Restoration Man. Pemandu acaranya adalah seorang arsitektur Inggris, George Clarke, yang memang suka sekali dengan bangunan unik dan pemugaran bangunan-bangunan lama di Inggris. Acara tersebut membuka mata saya mengenai pemugaran bangunan lama, yang prosesnya bisa luar biasa sulit, dari penggunaan material, zonasi tempat, izin dari pemerintah setempat, ini dan itu, yang membuat saya sangat-sangat menghargai orang-orang yang peduli pada sejarah, seperti orang yang memutuskan untuk memugar pabrik gula Colomadu ini. 

Semoga semakin banyak orang ataupun lembaga yang peduli pada pemugaran tempat bersejarah seperti ini, sehingga lebih banyak destinasi wisata yang menarik plus edukatif :) 

Dan semoga setelah ini saya akan sempat menulis destinasi wisata lain yang saya singgahi di Solo-Jogja liburan kemarin, aamiiin, hehehe :*

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...