Friday, August 19, 2016

#ceritaliam Toilet Training (part 2) + Menyapih dot

Assalamualaikum,

Melanjutkan bahasan toilet training Liam beberapa bulan yang lalu, kali ini saya akan coba untuk sharing lagi lanjutannya. Ngomongin TT buat anak saya itu prosesnya panjaaaaang bener, sekarangpun juga belum sempurna kok. Sekarang Liam berusia 35 bulan, atau 2 tahun 11 bulan, 2 minggu lagi ultahnya yang ke 3. 

taken from here
Alhamdulillah sekarang lebih baik dibanding beberapa bulan lalu yang lumayan bikin drama ngepel lantai terus, karena anaknya sudah sadar saat harus ke kamar mandi untuk pipis. Kalau soal pup, nah ini masih agak php nih, Jadi hampir sebulan ini Liam sudah mau duduk di toilet extension, yang bikin nepok jidat adalah meskipun dia duduk di atas toilet pupnya dia tahan karena pupnya masih di celana atau popok. Kemarin tanggal 18 Agustus Liam sudah mau loh pup di atas toilet. MashaAllah, rasanya pengen cheering seharian, hehehe, terharu Ibunya T_T. Walaupun hari ini Liam akhirnya pup lagi di celana, huhuhu, yaaa anggap aja proses, belum terbiasa :) 

Sebenarnya nggak ujug ujug anaknya langsung mau, jadi sebulan terakhir saya mulai memasukkan dua video toilet training ke hp saya, yg pertama versi family fun pack (michael usia 2 tahun) dan toilet training orang India gitu, yang kemudian sering ia lihat dan sering kami bahas berdua. Awalnya ya masih belum mau sih ngeplung di kloset, tapi sudah mau duduk di toilet extention. Mungkin karena setiap saya membersihkan popok dan mengucek celana dalamnya yang kena pup, dia akhirnya kasian juga liat Ibunya, hehehe. Selain faktor setiap kali melakukan itu selalu saya jejali dengan wejangan, "Liam udah besar, kalau pup di toilet, kalau pupnya di celana atau popok itu berarti masih bayi". Well, maybe he's bored too. Atau ya memang dia sudah besar, aaawww ... 

Michael toilet training
Sebenarnya progress terbesar juga didapatkan dari proses berbeda dari toilet training yaitu proses menyapih dot. Jadi seminggu terakhir, saya juga mulai intens menyapih Liam dari dot. Iya selama setahun lebih anaknya ngedot, padahal dulu di awal anaknya lahir saya takut aja dia bakalan tersentuh dot lantaran masih ngAsi. Tapi ya sudahlah ya, proses Liam begitu, toh anaknya ngAsi sampai 2 tahun lebih, alhamdulillah. 

Saya perlahan mencoba mulai meminta Liam mengganti botol dotnya dengan gelas atau botol dengan sedotan, dia menolak, jelas lah setahun lebih minum susu soya pake dot dan kemudian diminta untuk tidak menggunakannya lagi bukan perkara mudah. Akhirnya saya mengganti susunya dengan UHT yang langsung disedot dari kemasannya, sangat bersyukur karena sekarang alerginya sudah sangat berkurang, jadi dia bisa meminumnya dan nggak berefek secara jelek langsung ke tubuhnya.
Alhamdulillah dia mau, walaupun setiap akan tidur dia masih meminta, "Bu, minta susu", "Bu, susu lagi" tapi setelah diberi pengertian akhirnya tidak perlu susu di botol dot-pun dia mau tidur. 

Bagaimana hal ini jadi progress yang luar biasa pada TT Liam? Karena pipisnya berkurang drastis saat tidur, setelah tidak minum susu melalui dot. Sehingga saya dengan mudah mentatur dia saat tengah malam dan dia sepertinya lebih bisa menahan rasa ingin buang air kecil-nya. Selain alasan TT, gigi Liam mulai "berantakan" gara-gara masalah dot ini, akhirnya saya dan suami langsung berpikir untuk menghentikan kebiasaannya yang satu ini. Jangan pikir hal ini nggak dikomentarin Ibu saya ya, hehehe, karena yaaa namanya juga nenek ya, kasian liat cucunya susah tidur kalau nggak mendapatkan kenyamanan itu, tapi skakmatnya toh kami orang tuanya bukan Ibu saya :p

Balik lagi ke masalah TT, bersyukur Liam bisa melewati fase ini, masih deg-degan juga sih. Siapa tau tiba-tiba ngompol atau pup di celana lagi (yang ini masih pr sih). Tapi ya namanya juga balita, masih boleh lah melakukan kesalahan-kesalahan itu :). Bagi kami orang tuanya, hal yang menyenangkan setelah proses ini benar benar sukses adalah alokasi dana untuk popok dan susu bubuk liam bisa berkurang. Apalagi tahun depan Liam kami sekolahkan, jadi semoga semua dimudahkan. Aamiiiin
Liam, 2 tahun 11 bulan 19 hari
Intinya sih dalam melakukan toilet training itu adalah kesabaran ya. Setiap anak punya proses dan waktu yang berbeda. Dulu baper juga beberapa anak teman yang sudah lepas dari popok dan pup di toilet saat usia mereka 2,5 tahun bahkan kurang. Sering lihat artikel parenting juga membantu melewati hal tersebut. Kondisi anak kita dengan anak orang lain beda, boleh mencontoh cara mereka mengajarkan anak kita, tapi saat itu tidak berhasil lakukan dengan cara terbaik yang keluarga ini terapkan. 

Semoga saat sekolah nanti nggak banyak drama tentang pipis dan pupnya Liam ya, biar Ibunya tenang dan aman saat di taking care sama orang lain :)

Review dikit, alat alat yang dibutuhkan saat toilet training (menurut maknya Liam nih yaaa) adalah 
1. Toilet extention atau potty seat
taken from here
2. Dingklik atau kursi kecil agar anak bisa menjangkau tingginya toilet. Saya belinya di ace hardware, beli dimana aja bisa sih, pemikiran saya saat itu bisa dilipat, berbahan plastik dan tahan lama :)
3. Alas karet alias perlak, bisa digunakan saat awal2 anak lepas popok, kalau ortunya nggak pede dia masih akan mengompol di atas kasur. Males juga kan kalau nyuci sprei tiap hari atau kasur pesing tralala, hehehe
4. Sprei anti air, nah opsi ini bisa jadi pilihan yang tepat kalau males pake perlak, beli aja sprei anti air, kasur aman dari basah dan pesing :D  
taken from here
Yang tidak saya gunakan, namun bisa jadi opsi lain 
1. Training pants, celana ini setingkat di atas clodi, atau cloth diaper. Katanya bisa dipakai untuk mengajarkan anak memahami arti kebelet pipis tapi tidak langsung ngompol seperti celana biasa. Alasan saya nggak beli adalah karena celana ini mihil, hahaha, pake clodi aja nggak biasa pake sok-sokan beli training pants :D
taken from here
2. Potty trainer, semacam tempat pup yang bentuknya lucu-lucu dan warna warni, kayak bebek-bebekan atau lainnya. Pake potty ini agak riskan ternyata, siapa tau dia lebih terbiasa pup di potty macam ini, dibanding ke kloset langsung. Jadi saya nggak mencoba :D
taken from here

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Monday, August 15, 2016

#latepost Mudik telat, tapi yang penting mudik (Part 1)

Assalamualaikum,

Hi you guys, ampun deh ya, nggak di instagram nggak di blog (especially di blog sih) isinya hastag latepost terus. Sok sibuk banget, atau karena emang udah faktor u, kalau udah seharian ngurusin anak malemnya lurusin geger, bobok karena capek, hehehe. Dan anyway juga, saya sudah sempat posting beberapa update di Snapchat sih, hihihi, iya, follow ye @fenty_lovegood, biar tambah banyak fansnya #halah

Jadi minggu lalu, ya ini cerita minggu lalu makanya saya tulis sebagai latepost, minggu lalu alhamdulillah keturutan juga untuk mudik ke Sragen coret, karena desanya lebih dekat ke Solo dibanding Sragen. Seharusnya kami mudik seminggu setelah Lebaran bulan lalu, tapi karena sehari sebelum hari h, anak lanang tiba-tiba drop, panas dan muntah-muntah semaleman, ya sudah deh besoknya kami batalkan keberangkatan kami. Tiket kereta ke Solo hangus, dan tiket pulangnya terpaksa harus nunggu refund sebulan setelahnya, nangis bombay. But anyway, awal bulan ini toh keturutan juga pulangnya. Alhamdulillah masih ada rejeki untuk bisa pulang ke sana :)

Jadi tanggal 3 Agustus sore-sore kami berangkat ke Stasiun Gubeng untuk langsung cuss ke Solo, Liam bahagia naik kereta, ini ke tiga kalinya sih (setiap tahun harus pulang :D), tapi kali ini karena usianya sudah nyaris kepala 3, halah, 3 tahun maksudnya, ya dia sudah paham ada kendaraan darat bernama Kereta Api. Nggak tidur sampai jam 8 malam, karena ternyata punya teman sepermainan di bangku seberang, hehehe.

Hasil jepretan Liam, ditutup mukanya, soalnya nggak ijin mak'nye :D
Sampai di Solo sekitar jam setengah 10 malam, itupun masih harus naik taxi ke rumah mertua yang lumayan mblusuk ke daerah Sangiran yang perjalanannya sekitar 45 menit, kemarin sih 30 menitan karena orangnya ngebut, hahaha, serem deh. Liam seneng banget ketemu Oom kecilnya (adik suami yang paling kecil, masih 7 tahun), sampai baru mau tidur jam 12 malem :D selain juga ngenalin situasi tempat baru.

The next day ...
Hari 1 
Saatnya jalan-jalan, modus banget ya bilang ini mudik padahal maknya Liam pengen diajak jalan-jalan sama bapaknya, hahahaha. Maklum deh ya, di Surabaya kalau jalan bertiga mentoknya ke pasar, itupun suami nunggu di warung #curhat :D

Pagi-pagi kami ke sarean Ibu mertua dulu yang masuk ke kampung gitu, kalau kata suami sarean atau makam yang ada di desa modelnya macam masuk hutan, nggak bayangin aja kalau kesananya maghrib apalagi malam hari, merinding, hehehe, karena emang nggak ada lampu sama sekali dan pinggir-pinggirnya berupa sawah dan hutan.

Karaton Surakarta

Setelah sarapan, akhirnya kami siap siap ke tujuan pertama, yaitu ke Keraton Surakarta. Iya, selama 4 -5 kali saya diajak suami ke Solo, saya belum pernah diajak jalan-jalan muterin Keraton Surakarta, hahaha. Jadi sekarang keturutan. Yipiie, walaupun sudah diwanti-wanti sih kalau keraton yang ini nggak akan seramai keraton yang di Jogja. Toh juga kami kesananya di hari kerja, jadi kemungkinan itu yang membuat museumnya jadi agak sepi.

Biaya tiket masuk per orang (anak di bawah 5 tahun tidak termasuk)
Foto pertama di pintu biru Keraton Surakarta
Ada tata tertib unik kalau mau masuk Keraton ini, yang paling unik adalah nomer 4 :D
Taraaaa, akhirnya suami nyeker, saya dan Liam tetep bersepatu :D
Foto yang kiri sama penjaga keraton difoto juga sama tukang foto, dan di luar keraton foto itu dijual dengan ukuran A2, iyaaa, A2, gede bingiiit ....
Suasana keraton yang sepi, ada beberapa wisatawan sih yang datang tapi bisa kehitung sih
Suasana museum sayangnya nggak kefoto sama saya, karena saya sibuk snapchat'an, hahaha. So sorry, males juga kali ya mau nyimpen video snapchat saya satu-satu saya taruh di sini :p #bloggernggakniat

Oh iya sempat foto Kebo Bule juga yang sedang beristirahat di dekat alun-alun, bule beneran karena warna kulitnya puyeh, hehehe.



Oh ya, ini uang yang kami spent disana :
Biaya muterin Keraton pakai Becak : 25.000 lumayan bisa dapet cerita dari pak becaknya
Biaya masuk ke museum : 20.000 (@10ribu, anak di bawah 5 tahun tak termasuk)
Biaya ngasih tips ke penjaga (abdi dalem) Keraton : 5000
Biaya (beramal) beli foto segede gaban : 50.000, @30ribu sih, tapi ditawar (agak nyesel, karena dianggap nggak kasian sama yang jualan foto)
Jadi semuanya 100.000, hmm, kalau tanpa foto jelas 50ribu saja (lumayan mihil juga ya), kalau tanpa becak juga monggo dihitung sendiri :D

Kalau kata suami ya yang namanya liburan harus mau ngeluarin uang buat printilan-printilan kayak gini, hahaha, bener banget deh.

Soto Gading

Our next destination adalah salah satu kuliner yang katanya terkenal banget di Solo, berhubung memang waktunya makan siang jadi timingnya pas banget untuk nyempetin ke sini. Namanya Soto Gading karena letaknya ada di kecamatan (atau kelurahan?) Gading. Letaknya tidak terlalu jauh dari keraton Solo. Tau tempat ini setelah searching google sih, ternyata sangat terkenal di Solo karena merupakan tempat singgahnya Pak Jokowi dan bu Mega kalau sedang ke Solo katanya. Bener banget, ramainya bukan main, dari meja dalam dan luar sudah penuh, untungnya dapat 3 kursi di pojokan teras. 


Sebenarnya soto ini soto Solo pada umumnya sih, kalau ada yang belum tau soto Solo, soto ini identik dengan kuah bening dengan rasa adas dan sedikit kayu manis. Bukan macam soto Lamongan, soto Madura atau soto Banjar yang buthek alias kental. Tapi karena saya dan Liam penggemar soto, yasss, kami cocok dengan penganan ini. 

Dimakan dengan sosis solo, mantep tenan :D
Terima endorse, kakaaak, hehehehe
Yuum, Liam suka suka suka ...
Saya nggak tau apa yang membuat soto Gading jauh lebih ramai dibanding penjual soto-soto solo lainnya. Mungkin faktor tempat dan harganya yang cukup terjangkau, karena hampir semua penjual soto di Solo juga menyajikan makanan-makanan pendamping untuk dimakan bersama dengan soto yang diletakkan di tengah meja makan. Contohnya sosis solo, martabak, sosis telur, sate usus, cecek dll. 
Terasnya aja ramai, apalagi bagian dalam
Damage cost untuk 3 mangkuk soto, dua teh panas, dan beberapa printilan "lauk" yang kami ambil dari tengah meja makan adalah 50.000 (saja). Lumayan murah sih itu, secara beberapa waktu lalu di Surabaya saya beli 3 mangkuk soto + 2 teh panas kenanya 45ribu, bayangkan kalau tambah lauk2 macam yang kami beli di soto Gading pasti sampai 60an ribu di Surabaya, hehehe. One of the reasons my hubby wants us to stay in Solo. Karena katanya biaya hidup lebih murah disana, hihihi, ya tapi gajinya juga mengikuti sih ya :p

BTC

Perjalanan berikutnya kami menyempatkan diri mampir ke tempat favorit saya, yaitu BTC, Beteng Trade Center, karena disana surganya kain, hahaha. Tapi sayangnya saya juga nggak kepikiran mau belanja kain sih mudik kali ini, jadi gak ada damage cost apapun disana :p

Tapi kita sempat melihat kereta api lewat di depan BTC, hehehe, lucu deh kereta api lewat di tengah jalan, tapi emang kereta apinya jalannya lambat sih, jadi bisa jadi peringatan untuk orang-orang yang sedang lewat jalan tersebut. 
Ooops, nggak berhasil ambil memories di snapchat, nggak bisa kasih videonya buat kalian :(

Okay, besok saya akan menulis kelanjutan cerita kami di Sragen-Solo ya, semoga soon, karena ini aja sudah kepending seminggu lebih, hahaha. Wish me luck :D

To be continued ....

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...