Saturday, January 21, 2017

Anak itu penyembuh jiwa

Assalamualaikum,

Anak itu luar biasa ya, penyembuh jiwa yang sedang galau atau sedih orang tuanya. Padahal saya sering banget marah-marah sama dia, walaupun dia pada akhirnya membalas membentak saya. Jatuhnya saya yang jadi sakit hati sendiri. Yeah I know, saya telah memberikan contoh yang sangat buruk, but not always tough. Kita lebih sering happy-happynya kok ^_^

Saya tiba-tiba menulis tentang ini karena tadi Utinya ngambek, hehehe, karena Akungnya atau Bapak saya terlambat jemput Mama saya. Eh tiba-tiba di tengah keheningan, anak saya tiba-tiba ingin memeluk Mama saya dan mencium pipinya. Hal yang sama ia lakukan pada Bapak saya. Dan kemudian keadaan mencair. Melihat hal tersebut saya jadi sedikit trenyuh, yak ampun obat banget deh anak kecil itu. Anak kecil yang nggak tau apa-apa, memecah keheningan dengan ketulusannya. Mungkin ia tau kalau ada sesuatu yang salah, mungkin ia merasakannya. Mungkin juga tidak, dia cuma merasa kok sepi sih, cium Uti dulu ah, hahaha. Ya, siapa tau.  
Ibu dan Liam
Walaupun, semakin besar pasti ia memahami hidup itu ada naik turunnya, nggak selalu lempeng, dan ia nggak bisa selalu mendapatkan apa yang dia mau dengan mudah. Nggak semudah ia akan mencium pipi orang tuanya dan semuanya akan berakhir dengan baik. Tapi rasanya menikmati hari-hari dimana ia masih sangat polos sangat menenangkan hati saya. Somehow, saya merasa saya sudah mengajarkannya berwelas asih dengan cara saya memberikan kasih sayang yang bisa ia sampaikan pada orang lain juga :)

#proudmom

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Tuesday, January 17, 2017

[Cerita Dosen] Pengalaman mengajarkan segalanya

Assalamualaikum,

Saya hampir 6 tahun menjadi pengajar (skip setahun lebih mengajar, karena melahirkan mengurus anak), dimana di awal "karir" saya, saya cenderung sulit untuk mengutarakan pendapat di depan banyak orang. Semakin ke sini saya semakin santai, luwes dan bisa mengajar lebih baik dari sebelumnya.

Namun walaupun sudah 6 tahun, tetap saja selalu ada hambatan di setiap semesternya. Dimana akhirnya membuat saya merasa harus membuat perubahan-perubahan di tahun berikutnya. Mungkin karakter mahasiswanya mempengaruhi, mungkin saya yang terlalu santai dalam memberikan penjelasan teorinya.

Saat ini contohnya, saya sedang mengkoreksi tugas pengganti UAS tentang pembahasan A, saya sudah menjelaskan tentang A ini 3 minggu sebelum tugas ini saya berikan. Lalu harapan saya adalah dalam waktu 3 minggu tersebut mahasiswa akan memahami, atau nglonthok di dalam otaknya tentang bahasan A, yang ehm, walaupun memang nggak bisa dibilang sedikit sih, ada 10 bahasan disana. Tapi saat saya memberikan tugas, saya hanya mengambil 3 bahasan dari 10 tersebut untuk dibuat karyanya. 

Lalu saat hari pengumpulan datang, karya-karya yang dikumpulkan banyak yang tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Saya nggak berharap karyanya buagus banget sih, karena kalaupun mereka pintar gambar yaa mungkin harus lebih banyak pengalaman karya mereka masih semester awal. Yang saya harapkan adalah mereka memahami tentang teorinya, dimana saat saya menjelaskan, saya memberi contoh berulang-ulang. Tapi ya, begitulah, bisa dibilang hanya 10% dari mahasiswa yang memahami apa yang saya maksud dengan mengumpulkan tugas yang menurut saya benar. 

Hal-hal seperti ini hampir setiap semester terjadi, kadang saya menyalahkan mahasiswanya yang mungkin malas untuk bertanya, atau malas untuk memahami, karena baginya mereka bisa dapatkan teori tersebut via google, dimana nggak semuanya tepat. Tapi saya juga sering menyalahkan saya sendiri, apa mungkin saya ini nggak becus ngajarnya sampai mereka nggak memahami apa yang saya sebutkan, atau teori-teori yang saya sampaikan. Apa cara saya mengajar yang perlu diperbaiki, terlalu cepat kah saya menjelaskan, terlalu monoton kah ? 

Yeah, pada intinya sih saya ingin mengatakan bahwa semester depan saya harus berubah menjadi lebih baik. Saya nggak bisa menyalahkan mahasiswanya terus, karena jaman berubah, saya yang harus ngikutin cara mereka berpikir. Mengarahkan mereka untuk lebih banyak membaca keseluruhan hal dibanding hanya membaca yang mereka ingin baca saja (pe-er semua orang sih ini ya) Karena katanya budaya membaca orang Indonesia itu sangat rendah, that's why saya gregetan pengen bikin Liam suka membaca :)
Taken from here
Semoga sih semester depan apa yang saya ajarkan dapat lebih dipahami mahasiswa, karena saya harus belajar dari pengalaman, dan kalimat "pengalaman mengajarkan segalanya" itu bener banget. 

So wish me luck :)

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...