Thursday, May 18, 2017

Tayangan televisi untuk anak : Bagus dan tidak itu beda tipis

Assalamualaikum, 

Maaf judulnya kepanjangan, tapi supaya orang jelas dengan isinya, jadi saya nulisnya agak lengkap. 
Jadi saya lagi galau nih, hehehe, galau karena tayangan televisi untuk anak, wether itu Indonesia ataupun barat. 

Saya sadar membuat sebuah tayangan edukatif untuk anak itu sulit, nggak hanya anak, tayangan sinetron yang orang anggap sampah aja juga nggak gampang, harus nurutin kemauan pemirsa kan nggak gampang. Seperti beberapa kegelisahan Ibu-ibu Indonesia di luar sana, termasuk saya. Alhamdulillah sih, anak saya nggak pernah saya tontonin sinetron, eh pernah ding, sinetronnya NET kebetulan, itupun sekarang udah nggak sering, dan menurut saya sinetron-sinetron di NET nggak seperti sinetron kebanyakan di stasiun lain yang you know lah, panjang, sangat hitam putih dan kurang mendidik (yang tetep bagi saya nggak gampang buatnya, wong saya juga nggak bisa buat, hehehe)

Kegelisahan saya tidak hanya soal sinetron itu tadi, untungnya saya nggak terlalu suka dan akhirnya anak saya pun tidak pernah menontonnya. Kegelisahan saya justru tertuju pada tayangan yang notabene dianggap sebagai tayangan untuk anak. Salah satu contohnya Adit Sopo Jarwo. Saya tau membuat animasi itu sulit, sangat sulit, apalagi yang bentuknya 3 dimensi, butuh render berhari-hari hanya untuk beberapa menit pergerakan kartunnya. Tampilannya memang bagus untuk ukuran tayangan kartun Indonesia, namun tidak membuat saya tutup mata terhadap ceritanya. 

Adit & Sopo Jarwo | diambil dari SINI
Bagi saya tayangan ini terlalu hitam putih, misalnya saja hal yang sempat saya buat statusnya di salah satu sosial media saya beberapa waktu lalu. Saya menyebutkannya begini, "Kenapa sih bagi Bang Haji Udin, Bang Jarwo itu salah mulu, bahkan sebelum ditanya masalahnya apa"  

Jadi selama penayangan stripping kartun tersebut saya jadi sadar satu hal, kenapa ya Bang Haji Udin ini sangat putih dan Bang Jarwo itu sangat hitam, ya bukan jahat sih, tapi karakternya menjadi orang yang akan selalu salah aja deh pokoknya. Entahlah, saya jadi berpikir, saat anak kecil melihat orang yang memiliki wajah seperti Bang Jarwo akan bilang bahwa orang tersebut tabiatnya jelek, licik dan pantas ditakuti. Dan ketika melihat orang berpeci dan menggunakan baju koko, pasti orang yang sangat bijaksana. Lah dari kecil udah diajarin mengkotak-kotakkan orang dong ya? 
Lalu si Dennis dan ketakutannya pada semuuuuaaa hal, hfftth .... rasanya gregetan melihat si tokoh chubby ini selalu berlindung di ketiak sahabatnya, tanpa sadar ia bisa berbuat lebih dalam hidupnya. Yah well, yang ini saya sebenarnya agak takut anak saya jadi seperti Dennis ~.~"

Tapi saya tetap mempertontonkan ini ke anak saya, karena jujur saja anak saya maksa untuk nonton. Dan well, memang beberapa di antaranya ada masukan positif, salah satunya keberagaman suku dan budaya, penting dong di era yang sekarang ini, ya kan ya kan? 
Plus, saya memang belum punya daya upaya untuk upgrade tayangan televisi saya ke tv kabel premium. Pernah premium-pun yang ditonton anak saya juga bukan tayangan kartun, nyesek banget, hahahaha. 
Happy Holy Kids | diambil dari SINI
Ada satu tayangan favorit lagi bagi anak saya selain Adit Sopo Jarwo (ASJ) ini, yaitu  Happy Holy Kids (HHK), tidak seperti ASJ, HHK ini formatnya wayang boneka. Bagi saya tayangan ini bagus dalam hal konsep mengajarkan kebaikan, tapi namanya juga manusia, kayaknya ada aja yang bikin nggak sreg. Seperti pengucapan kata-kata yang asing bagi Liam yang harusnya tidak disebutkan anak seusia Liam, misalnya saat ada tayangan berantem sama teman, yang Liam tiru justru kalimat saat berantemnya, bukan endingnya dimana mereka berbaikan, hhh .... hahaha, repot ya, makanya saya bilang bagus dan tidak itu beda tipis. 
Keluarga Somat | diambil dari SINI
Tayangan lain, Keluarga Somat (KS), yang ini secara visual mungkin di bawah ASJ, rendernya nggak maksimal, tapi buat saya, KS itu bagus loh, hahaha, entahlah mungkin saya suka ceritanya yang tidak terlalu hitam putih, semua pernah punya kesalahan gitu maksudnya, dan ceritanya berkembang tiap minggunya. Patut diapresiasi lah ya. 
Upin&Ipin dan kawan-kawan | diambil dari SINI
Upin Ipin ? Jangan tanya, seperti kebanyakan anak Indonesia lain, tayangan Upin Ipin selalu menjadi favorit buat Liam, hehehe. Emang bagus banget sih ya, dan itu tadi, cerita yang selalu berkembang mungkin menjadi hal yang positif dalam tayangan untuk anak. Mengikuti hal yang sedang terjadi saat ini, dan belajar hal baru lainnya. 

Semoga tayangan anak di Indonesia semakin beragam dan akan jauh lebih baik, karena mau tidak mau kita memang bergantung sama media, yang paling dekat ya televisi (kalau saya sih, soalnya saya nggak pernah ngasih tau tentang youtube ke Liam, hihihihi)

Intinya sih mau tayangan apapun, di usia anak yang masih belia ini kita harus selalu always mau kudu must nemenin dia nonton dan memberi penjelasan yang baik dan yang buruk. Dan mungkin sistem range usia untuk tayangan bisa diberlakukan lebih detail. Misalnya untuk anak, nah anak usia berapa tuh, anak kan dari usia 0-12 tahun bisa dianggap anak, dan cara pandang anak 3 tahun dan 12 tahun beda, kata-kata dan kalimat yang mereka pahami juga berbeda. Ini urusan Komisi Penyiaran Indonesia nih kayaknya, tapi tetep aja orang tuanya kan harus pintar milih tayangan. 

Ini apa sebenarnya semua harus dibebankan pada orang tua ya (YA IYALAAAH) hahaha. Mau anaknya cerdas, ya ortunya harus berpikir cerdas, mau anaknya jadi anak kebanyakan ya sudah go with the flow aja kayak ikan mati di sungai, wiiih sadis perumpamaannya, hahaha. 

Yasallaaaam ... indahnya jadi orang tua (sambil garuk-garuk kepala)

I think that's all, thank you 

Wassalamualaikum, 

Wednesday, April 12, 2017

#latepost Makan di Bakmi Jogja Trunojoyo

Assalamualaikum,

Sebenarnya ini postingan yang harusnya saya share 2-3 minggu yang lalu, tapi karena keterbatasan waktu (cih, sok sibuk, bilang aja males buka laptop) akhirnya baru sempat menulis sekarang.

Ini sebenarnya kesekian kalinya kami makan di Bakmi Jogja Trunojoyo, tapi baru sekarang kami datang ke tempat barunya di jalan Tegalsari, Surabaya. Menurut judulnya kan Bakmi Jogja Trunojoyo itu harusnya di jalan Trunojoyo, sudah setahunan ini pindah ke jalan Tegalsari.

Tempat ini tidak pernah sepi pelanggan, parkiran selalu penuh (itupun sebenarnya tidak ada tempat parkir khusus), semua pelanggan parkir di pinggiran jalan Tegalsari, alhamdulillah kalau dapat parkiran, walaupun harus jalan berapa puluh meter dari tempat yang dituju. Pelanggannya jarang yang naik motor kali ya, semuanya bermobil, jalan sepanjang jalan Tegalsari itu penuh dengan mobil berjejer, hehehe.


Jadi kebetulan beberapa waktu lalu suami saya berulang tahun, dan kebetulan juga dia libur, lagi nggak ada liputan pula. Akhirnya ia mengajak kami sekeluarga untuk makan di sini, saya ding yang ngajak, hahaha, dianya iya-iya aja. Soalnya sudah lama nggak kesini dan kangen rasanya. 

Tempatnya open space, nggak ada ac dan semua mejanya menggunakan kayu berukiran khas Jawa, rumah makannya pun bernuansa tempo dulu, jadi menambah otentiknya tempat ini. Makanannya ? Jangan tanya, enak bangeet, lumayan terjangkau juga harganya, secara beberapa waktu yang lalu kami juga pernah makan ke suatu tempat model angkringan Jogja di daerah dukuh kupang, duh harganya selangit untuk tempat yang bagi kami biasa-biasa saja. Harga makanannya dibandrol paling mahal 21ribu rupiah, memang sih variannya hanya mie dan nasi goreng, tapi memang itu yang bikin ngangenin, apalagi bakmi nyemek-nya, haduuh pengen ngacir kesana lagi walaupun parkirannya susah, hehehe. 
Bagian depan Bakmi Jogja Trunojoyo, rumah vintage yang dijadikan rumah makan
Tempat masaknya di bagian depan rumah, jadi kita bisa lihat para "chef" yang membuat sajian mie dan nasi

Furniturenya semuanya dari kayu, otentik tempo doeloe banget ya
Di salah satu sudut rumah makan ada juga tempat penjualan pisang goreng tempo doeloe yang rasa pisang gorengnya memang tidak terlalu manis, tapi disampingnya diberi cocolan gula halus dan brown sugar. 
Kalau mau beli pisang goreng, beli sendiri di pojokan area rumah makan


Selain mie-nya yang fenomenal, yang paling terkenal disini adalah teh pocinya, yang memang disajikan bersama poci dari tanah liat, dan tehnya akan selalu hangat walaupun kita nongkrong lama di sana. 

Teh poci yang menggunakan gula batu
Mie Nyemek fenomenal itu, seharga Rp. 21.000,-

Pluuus, jangan kaget kalau pramusajinya dan semua karyawan disana berbicara pada kita menggunakan bahasa Jawa (Jawa tengahan) Krama (Kromo) pada kita. Walaupun kita membalasnya menggunakan bahasa Indonesia loh. Jangan khawatir kita pasti tau sama tau kok, hehehe. Cuma emang repot ya kalau mereka buka rumah makan seperti ini di pulau lain di Indonesia ya. Tapi toh banyak orang Jawa di bagian lain Indonesia ini :p

Nah segini nih yang kita keluarkan untuk makan 5 orang, lumayan lah ya, setidaknya 30ribuan untuk satu customer :)
Tertarik untuk mampir juga ? Jangan lupa ya kalau mereka jam 9 malam sudah tutup loh, hehehe. Jadi jangan kemaleman sampai di sana :) Dan jangan lupa bawa uang cash, disana nggak bisa gesek debit atau credit card, hehehe. 

I think that's all, thank you
Wassalamualaikum,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...