Wednesday, October 24, 2018

Cerita tentang teknologi dan masa lalu

Assalamualaikum,

Judulnya mendayu-dayu sekali ya :D

Jadi kemarin saya duduk menunggu antrian dokter gigi, iya gigi saya bermasalah lagi, my wisdom teeth is start to pop out, huhuhu, sakit banget. But anyway bukan itu yang menjadi bahasan saya kali ini. Saya menunggu antrian tersebut sendirian, jadi apa lagi yang dilakukan kalau tidak membuka hp untuk "sekedar" browsing dan menjawab chat di beberapa aplikasi chatting itu.

Dan tiba-tiba saya membayangkan jika diri saya sedang menunggu antrian yang sama 15 tahun yang lalu, di saat ponsel adalah barang yang tidak selalu dimiliki oleh banyak orang seperti saat ini, saya kemudian bertanya pada diri saya sendiri, apa ya yang akan saya lakukan ? Bengong ? Ngomong sendiri ? Lompat-lompat biar dapat perhatian ? Hehe, rasanya dulu tidak seperti itu. Kemudian saya teringat, jaman dulu di setiap ruang tunggu selalu disiapkan rak koran dan majalah di setiap pojok ruangan. Televisi yang dipasang di dinding bagian atas dan jaman dulu, orang tidak sungkan untuk ngobrol dengan orang di sebelahnya untuk berbasa basi (yang siapa tau end up dapat kenalan baru).
Photo by rawpixel.com from Pexels
Tapi sekarang, jarang sekali orang menyapa orang yang ada di sebelahnya, mereka lebih sibuk dengan ponsel masing-masing untuk "ngobrol" dengan orang yang ada di seberang sana dan sekarang ruang tunggu afdolnya harus ada colokan listrik. Orang-orang lebih khawatir cari colokan listrik daripada orang yang ada di sebelahnya, hehehe, iya atau iya ? Saya aja kali ya yang begitu xD

Lalu kemarin ternyata masih ada loh orang yang (mungkin) bosan, tidak sibuk dengan ponselnya, dan kemudian tiba-tiba menyapa saya dan bertanya, "Kerja dimana mbak ?" 
Saya agak kaget, takut ditawari MLM, hahaha, beneran itu yang saya rasakan jika tiba-tiba ada orang out of nowhere menyapa saya. Padahal kalau dipikir-pikir, mbak yang menyapa saya pasti sedang sakit gigi, kok ya kepikiran mau nawarin produk, kan nggak mungkin ya ? hahaha.

Obrolan kami sih hanya sebentar, cuma sekedar basa basi tentang pekerjaan dan tempat tinggal, karena beberapa menit kemudian, perawat memanggilnya untuk masuk ke ruang pemeriksaan gigi. 

Saya kemudian merasa orang-orang seperti Mbak itu tadi keren, karena lebih menyukai interaksi langsung dengan orang-orang secara nyata dibanding dengan yang ada di contact ponsel kita. Saya juga baru saja mengenal salah satu wali murid sekolah Liam, yang ternyata nggak merasa harus punya aplikasi chatting untuk berkomunikasi. Tipe-nya mirip-mirip dengan Mbak yang tadi itu, orangnya supel, menyapa dengan ramah dan bercerita tentang pengalaman yang menurutnya menarik. 

Kadang kita sendiri yang menyulitkan diri sendiri jika tiba-tiba bingung tidak ada wifi, bingung tidak ada colokan apalagi bingung kalau ponsel tertinggal di rumah. Ya sebenarnya saya belum bisa di tahap nggak bingung kalau itu terjadi, cuma ingin mengajak orang-orang untuk berpikir, kita masih bisa melakukan hal-hal lain yang lebih menarik dibanding sibuk dengan ponsel di tangan kita :)


I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

Monday, July 23, 2018

The Masrums Jalan-jalan : "Gereja Ayam" di Bukit Rhema

Assalamualaikum,

Hiyaaak, mumpung lagi ada di kampus dan nungguin mahasiswa untuk konsultasi, sekalian aja saya menyempatkan diri untuk menulis. Setelah postingan yang kemarin, hari ini saya akan bercerita tentang salah satu destinasi kekinian di area Magelang atau tetangganya Yogyakarta.

Tempat ini dikenal dengan nama "Gereja Ayam" salah satu destinasi wisata yang booming setelah muncul di film Ada apa dengan Cinta 2, 2 tahun yang lalu. You know, saat si Rangga dan Cinta niat banget untuk nunggu gelap-gelapan supaya bisa dapet momen Sunrise di atap tempat ini (ya kalau nggak lihat filmnya saya tunjukin salah satu scenenya ya, hehehe)

Yang itu loh ^_^, foto diambil dari SINI
Jadi akhirnya kami ke tempat ini, setelah sebelumnya kami mampir ke Borobudur, saya pernah menulis blog beberapa tahun lalu kalau salah satu destinasi impian saya adalah ke Borobudur, hahaha, cupu ya belum pernah darmawisata ke Borobudur. Obrolan tentang Borobudur akan saya tulis di postingan lain, saat ini saya ingin membahas tentang Bukit Rhema.
Istri dan anaknya Rangga, hehehe 
Bukit Rhema terletak 4 km dari Candi Borobudur, ya 10-15 menit lah dengan menggunakan motor. Kalau dari kota Magelang sekitar setengah jam, kalau dari Jogja ya satu setengah jam, hehehe. Saya sempat posting tentang Bukit Rhema beberapa waktu lalu di instagram ataupun facebook, dan banyak yang memberikan masukan tentang tempat ini, karena mereka kebetulan sudah duluan ke sana.

Bangunan unik berbentuk burung merpati ((bukan ayam)) ini memang menarik. Pencetus idenya adalah Daniel Alamsjah, bukan seorang tokoh agama (dari yang saya baca), di beberapa media online menyebutkan, beliau dulunya adalah seorang karyawan swasta yang kemudian diberikan mimpi untuk membuat sebuah rumah doa yang bukan hanya untuk agama tertentu di tempat ini. Jadi akhirnya di tahun 1992 ia mulai membangun bangunan unik dengan bentuk seperti burung merpati, yang kita mungkin sudah sering memahaminya sebagai simbol perdamaian. Pembangunannya sempat terhenti di tahun 1996, dan sempat juga ditutup karena penolakan warga di tahun 2000. Lalu kemudian dibuka sebagai tempat wisata di tahun 2014, kemana aja nggak pernah ada yang tau di tahun itu ? ya mungkin karena kurang promosi.
Banner yang ada di bagian pinggir hall, yang menjelaskan isi dan sedikit sejarah dari Bukit Rhema
Saya nggak tau bagaimana akhirnya produser AADC bisa kepikiran memilih tempat ini (belum nemu artikelnya di media online), tapi it work like magic, langsung puff, terkenallah tempat ini. Tidak hanya terkenal, semakin banyak yang ke sini, berarti akan semakin cepat pembangunannya, karena katanya pembangunannya dari swadaya masyarakat dan tergantung wisatawan yang datang. Jadi, cepat nggak cepat sih, hihihi, tapi tetap meningkat sedikit demi sedikit, ya bayangkan pembangunan dari tahun 1992 dan sampai sekarang belum kelar juga, kan lama ya :D

Tempat yang saya lihat bulan lalu ini, jauh sekali dari keadaan Bukit Rhema saat syuting AADC2 2 tahun yang lalu. Bangunan unik ini sudah dikembangkan lebih baik, dari segi eksterior maupun interiornya.

Sekarang sudah ada parkiran di bawah bukit tersebut, kebetulan kami naik motor dari Jogja ke Borobudur, sudah tersedia tempat parkir di halaman salah satu rumah warga (entah rumah warga atau bukan, yang pasti sebuah rumah lah, hehehe) Parkir motornya 5000 rupiah, saya tidak tau parkir mobilnya, pasti lebih mahal. Lalu kemudian, oleh tukang parkirnya kami diberikan opsi, mau ke atas dengan jalan saja atau naik mobil off road untuk ke atas, saya lupa di charge berapa, sepertinya 10ribu per ride naik ke atas. Saat tukang parkirnya bilang jaraknya hanya 200 meter, kami langsung merasa "halah deket aja nggak usah pakai mobil". 

Ngomong-ngomong soal perjalanan dari Borobudur ke sini, tidak sulit (kalau punya gps, hehehe). Kata teman-teman saya yang sudah kesana duluan, selain bangunannya yang sudah mulai lebih terawat, jalan untuk menuju ke sana pun dulu, tidak senyaman sekarang.

Tapi ternyata oh ternyata 200 meter itu jalannya menanjak mameeen, hahahaha. Entah kenapa Liam happy-happy aja saat berjalan ke atas itu, saya dan suami cukup ngos-ngosan, ketauan jarang banget olahraga. Noted buat liburan tahun depan, harus sering olahraga biar liburannya lancar, hahaha.

Disini banyak sekali anak-anak muda yang membantu untuk jadi guide yang menjelaskan banyak hal mengenai Bukit Rhema. Jadi jangan khawatir clueless deh, pasti terinformasi dengan baik.
Waktu kami naik ke bukit, lumayan ya Liam digendong gitu, amaaan, hahahaha

Nah ini waktu Liam jalan sendiri, anak tangganya dibuat warna warni supaya nggak monoton 
Saat sampai di atas banyak warung yang menyediakan makanan kecil, salah satunya es degan :D
Tiket masuknya per orang 10ribu rupiah, bayar 20ribu rupiah, Liam belum kena charge, itu sudah dapat bonus keripik telo, saya nggak sempat ambil keripiknya sih sudah lelah naik turun dan jalan jauh, akhirnya saya cuma naik ke salah satu sisi gedung saja, keripiknya ambil di dekat cafe bagian ekor merpati, maaf info kurang lengkap ya, hehehe. 

Selain bentuk bangunannya, sudah pasti yang memorable adalah bagian mahkota dari bangunan merpati ini. Itu letaknya di lantai 7, nah lantai 7 itu dihitung dari bagian basement untuk tempat berdoa ya, semacam bilik-bilik gitu, agak serem sih, kata guidenya bilik-bilik itu disediakan untuk tempat berdoa berbagai agama. Mau sholat, mau berdoa menurut agama tertentu, mau bertapa, diperbolehkan, tapi kayaknya banyak yang mikir-mikir deh kalau ke bawah, hehehe.

Nah saya nggak punya foto di atas mahkota, karena saya takut ketinggian, hahahaha, failed banget nggak sih, saya cuma bertahan di kepala si burung merpati, nggak sampai ke mahkotanya. Tapi suami dan Liam berani ke atas, jadi mereka punya foto di atas. Oh iya, kata salah satu mbak guide-nya untuk bisa naik ke mahkota untuk lihat sunrise harus janjian dulu sama mereka, dan maksimal 8 orang kalau nggak salah per hari. karena kapasitas di mahkotanya nggak besar, jadi daripada rumpek2an di atas, maka dibatasi orang yang mau melihat sunrise :)
Silau maaan, jam 12 siang ituuu, hahaha
Eaaa selfie diaa ...


Foto bagian ekor dari bagian leher burung
Tangganya masih menggunakan material kayu, belum fix benar, jadi naik turunnya harus hati-hati :)
Dari lantai 2



Dari lantai 2 

Saat baru masuk ke dalam gedung


Jadi Alhamdulillah kesampaian untuk pergi liburan ke Bukit Rhema tahun ini, semoga infonya cukup lengkap, noted buat saya ke destinasi wisata manapun harusnya foto secara detail dari berbagai sisi, jadi info untuk blognya lengkap, hehehe.

I think that's all, thank you

Wassalamualaikum,

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...